Baroncong di atas panggangan. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Lupakan Perbedaan 2 Suku Saat Menggigit Baroncong

Kamis, 22 Oktober 2015 | 09:01 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Andi Dahrul Mahfud - GoSulsel.com

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Penganan satu ini sudah ada sejak jaman dulu. Namun, sampai sekarang masih jadi salah satu pilihan menu sarapan orang-orang di Makassar dan sekitarnya. Orang-orang Makassar menamainya Baroncong sedangkan orang-orang Bugis menyebutnya Guroncong.

Tapi perbedaan itu akan lenyap seketika saat Anda menggigit kue berbentuk setengah lingkaran ini. Yang Anda rasakan cuma rasa gurih dan manis bercampur baur.

pt-vale-indonesia

Di tengah membanjirnya kue-kue inovasi terbaru, baroncong tetap punya ruang dalam ingatan orang-orang Makassar atau Bugis yang pergi merantau. Seperti salah seorang warga di Jalan Abdul Kadir bernama Syamsiah.

Syamsiah selalu sempatkan waktu pulang ke tanah kelahirannya. Dia mengaku bahwa Makassar selalu memiliki kenangan manis khususnya pada kuliner-kuliner yang disajikan dengan olahan dan cita rasa khas.

“Kebetulan saya di Bali sejak tahun 2002. Jadi cukup rindu dengan kuliner Makassar khususnya sih dengan kue yang berbentuk setengah lingkaran itu,” kata Syamsiah sembari malu ketika dijumpai sedang menikmati baroncong di sekitaran Jalan Penghibur.

Halaman 2
Baroncong yang hingga kini dijajakan memakai gerobak. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Baroncong yang hingga kini dijajakan memakai gerobak. (Foto: Andi Dahrul Mahfud/GoSulsel.com)

Sedari dulu, kue tradisional ini dijajakan dengan cara yang sama yaitu memakai gerobak. Pembakarannya pun masih sangat tradisional yakni memakai tungku yang terbuat dari besi. Bahan bakarnya pun masih dari kayu.

Selain pembakaran yang masih tradisional, baroncong juga ditaruh dalam lemari kaca kecil yang terdapat pada gerobak itu. Menurut penjualnya, cara ini untuk menjaga keawetan kue yang berbahan dasar tepung terigu, santan, parutan kelapa, dan sebagainya ini.

“Ini untuk menjaga supaya kue tetap enak,” jelas seorang penjual baroncong, Sardi, kepada GoSulsel.com, Selasa (20/10).


BACA JUGA