Anggota Komisi IX DPR RI, H Ashabul Kahfi

Ciptakan Puisi di HUT Kemerdekaan ke-75 RI, Ashabul Kahfi Singgung Kompeni dan Corona

Kamis, 20 Agustus 2020 | 19:58 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Rusli - GoCakrawala

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Anggota Komisi IX DPR RI, H Ashabul Kahfi tak hanya cakap berpolitik. Ketua DPW PAN Sulsel empat periode itu juga piawai menulis puisi. 

Sebuah puisi dia ciptakan di momen HUT Kemerdekaan RI ke-75 tahun. Materi puisi ciptaan Ashabul Kahfi itu menyinggung tentang penjajahan Belanda di Indonesia serta virus Corona. 

pt-vale-indonesia

Dalam bait-bait puisinya, putra almarhum KH Jamaluddin Amin itu menyebut bahwa Indonesia merupakan negeri yang terbuka. Indonesia sangat bersahabat. 

Siapapun tamu asing dari negara luar bakal disambut dan dilayani dengan baik. Termasuk juga kompeni Belanda. Sayangnya, sikap bersahabat Indonesia itu dikhianati oleh kompeni. Bangsa Indonesia dijajah. Kekayaan bumi Indonesia dijarah oleh kompeni.

Namun demi harga diri, bangsa Indonesia bangkit dan bersatu melawan kompeni. Meski tanpa senjata. Hanya berbekal bambu runcing, bangsa Indonesia akhirnya merdeka dari penjajahan Belanda.

“Kami tak punya senjata. Tapi kami berani berkata merdeka. Kami bersatu tak kan kalah. Kami berjuang demi harga diri. Selamat jalan penjajah. Izinkan kami tentukan nasib sendiri,” sebut Kahfi.

Selanjutnya, pada bagian lain bait puisi Ashabul Kahfi menyebut virus Corona yang kini “menjajah” Indonesia. Eks legislator Sulsel tiga periode itu pun menegaskan, bahwa bangsa Indonesia kembali siap bersatu melawan virus asal Kota Wuhan itu. 

Dengan cara melalui masker dan rajin cuci tangan. Dan menang dengan imun.(*)

Berikut penggalan lengkap puisi ciptaan H Ashabul Kahfi:

Tuan Kompeni.. Kami negeri yang terbuka. Tinggal-lah di negeri kami. Kami melayani dengan suka cita.  

Sayang tuan mengkhianati kami. Sampai hati tuan jarah bumi kami. Kami tak punya senjata. Tapi kami berani berkata merdeka. 

Kami bersatu tak kan kalah. Kami berjuang demi harga diri. Selamat jalan penjajah. Izinkan kami tentukan nasib sendiri.

Kini..Selamat datang tuan Korona. Kami negeri yang terbuka. Tinggallah di negeri kami. Kami melayani dengan suka cita. 

Sayang, tuan khianati kami. Sampai hati tuan bunuh ribuan warga kami. Kami bukan negeri kaya. Tapi tuan kurung kami tak berdaya. 

Kami bersatu tak kan kalah.  Kami melawan dengan masker dan cuci tangan. Kami akan menang dengan imun. 

Tuan Korona..Pulanglah engkau!!!


BACA JUGA