Save the Children Penuhi Hak Anak dan Perempuan di Sulsel Melalui Penguatan Sektor Kakao

Tuesday, 31 March 2026 | 20:46 Wita - Editor: Agung Eka -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Save the Children Indonesia menggelar Learning Event sebagai puncak dari rangkaian program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di sektor kakao di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bertempat di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (31/3/2026), acara ini menjadi ajang berbagi pembelajaran dan praktik baik dari pelaksanaan program di Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, Bone, Wajo, dan Soppeng dalam menciptakan ekosistem rantai pasok kakao yang membantu mendukung kesejahteraan anak dan inklusif bagi perempuan.

Sejak tahun 2020, Save the Children Indonesia bekerja sama dengan mitra strategis seperti Mars Indonesia, Konsorsium GrowAsia, PISAgro, Mars, dan Save the Children dengan dukungan GIZ (melalui Program GrowHer Kakao) di Luwu Utara dan Luwu Timur, Cargill (melalui Program Empower) dan mitra lainnya di Bone, Soppeng dan Wajo, berupaya membangun pemenuhan hak-hak dan perlindungan anak berbasis masyarakat dan memperkuat hak-hak perempuan di wilayah penghasil kakao.

PT-Vale

Satu hal yang menjadi kunci dalam program ini adalah semangat pelokalan. Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan mitra lokal seperti Sulawesi Cipta Forum dan Perkumpulan Wallacea, LPP Bone dan Yayasan Wadjo, untuk memastikan agar setiap inisiatif yang diambil benar-benar sesuai dengan konteks dan kebutuhan komunitas lokal. Para mitra ini berperan penting dalam memastikan bahwa program ini tidak datang sebagai “instruksi dari luar melainkan tumbuh dari aspirasi komunitas lokal agar dapat terus berlanjut secara mandiri.

Pada sisi perlindungan anak, program ini telah berhasil melahirkan 110 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di 110 desa. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya telah bertransformasi menjadi Lembaga Kemasyarakatan Desa yang memiliki payung hukum tetap melalui Peraturan Desa. Kelompok ini menjadi barisan terdepan di tingkat desa yang aktif mencegah dan menangani kekerasan serta praktik berbahaya terhadap anak. Selain itu, ada 71 PATBM yang melakukan replikasi dari intervensi yang sudah dilakukan di Luwu Utara dan Luwu Timur.

Sementara itu, di sisi pemberdayaan perempuan, program ini telah menanamkan kemandirian finansial yang kuat melalui pembentukan 423 Kelompok Simpan Pinjam Desa (VSLA) yang tersebar di 5 kabupaten dengan akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari 15 miliar serta lebih dari 100 kelompok usaha mikoro. Kehadiran VSLA ini membantu meningkatkan akses ekonomi dan permodalan yang sebelumnya sulit dijangkau oleh kelompok perempuan.

Mencerminkan dampak program, salah satu penerima manfaat, Martiani, seorang istri petani kakao, menyampaikan bahwa sebelum mengikuti VSLA, keuangannya tidak terkelola dengan baik.

“Setelah berpartisipasi, kami dapat mengelola keuangan dengan lebih baik, bahkan kami bisa menabung setengah dari penghasilan kakao kami,” jelasnya.

Kehadiran VSLA juga memberikan manfaat ganda pada perempuan. Secara sosial, sistem ini membangun kebersamaan dan perilaku prososial, sementara secara praktis, anggota belajar mengelola keuangan melalui siklus tabungan-pinjaman yang terstruktur. Kombinasi antara dukungan sosial dan praktis ini diharapkan dapat mendorong keterlibatan anggota serta keberlanjutan program dalam jangka panjang.

“Kami mengapresiasi kolaborasi Save the Children Indonesia bersama GIZ, Grow Asia, PISAgro, Mars Indonesia, Cargill, serta mitra lokal dalam memperkuat perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di sektor kakao. Upaya ini sejalan dengan prioritas provinsi untuk mewujudkan Sulawesi Selatan yang ramah anak dan sejahtera. Integrasi kelompok PATBM dan VSLA ke dalam struktur desa adalah langkah konkret menuju kemandirian masyarakat yang harus terus kita dukung bersama agar dampaknya meluas ke seluruh kabupaten penghasil komoditas di wilayah kita,” ungkap Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan.

Learning Event ini berfungsi sebagai sumber inspirasi, pemantik semangat, sekaligus ruang dialog yang menjembatani hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Tujuannya jelas, memastikan bahwa ketika siklus program berakhir, sistem yang telah dibangun bisa berjalan dan direplikasi melalui komitmen pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat. Wawasan dan momentum yang dihasilkan melalui kegiatan ini juga menekankan nilai kemitraan berkelanjutan guna menerjemahkan pembelajaran tersebut sebagai pengaruh kebijakan yang berkelanjutan dan replikasi yang lebih luas di seluruh Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Paramita Mentari Kesuma, Regional Manager – Programs, GrowAsia mengatakan, melalui kemitraan ini, pihaknya bangga melihat transformasi nyata pada anak-anak dan perempuan di Sulawesi Selatan.

“Kami percaya bahwa keberhasilan bisnis komoditas global tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan komunitas petani kakao. Kolaborasi bersama dalam Program GrowHer Kakao yang dilaksanakan oleh Konsorsium GrowAsia, PISAgro, Mars dan Save the Children Indonesia dengan dukungan GIZ, merupakan langkah nyata kolaborasi multi-pihak dalam memastikan rantai pasok yang bertanggung jawab, di mana hak anak terlindungi dan perempuan memiliki akses ekonomi yang setara. Kami berharap agar keberhasilan Model GrowHer Kakao dapat direplikasi pada lintas komoditas lain dan wilayah, bukan hanya di Indonesia tapi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini membutuhkan dukungan dan kerjasama yang berkelanjutan dari Pemerintah selaku pemangku kebijakan, sektor swasta dan mitra pembangunan,” ungkapnya.

“Kami percaya bahwa cokelat yang kita nikmati seharusnya tidak menyisakan pahit bagi masa depan anak-anak. Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, kami telah membuktikan bahwa penguatan sistem perlindungan anak berbasis komunitas dan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci untuk mendukung kesejahteran anak-anak di rantai pasok kakao. Tugas kita sekarang adalah memastikan praktik baik ini bisa direplikasi dan menjadi standar di seluruh wilayah penghasil komoditas di Sulawsi Selatan,” ungkap Ihwana Mustafa, Senior Manager Agriculture Portofolio Lead

Save the Children Indonesia.

Melalui acara ini, Save the Children Indonesia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat, untuk terus memperkuat kolaborasi demi memastikan setiap

anak tumbuh di lingkungan yang aman, sejahtera, dan bebas dari eksploitasi melalui penguatan sistem pelindungan anak berbasis masyarakat, penguatan keluarga, serta pemberdayaan perempuan dalam sektor eknomi dan pengambilan keputusan. (*)