Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, saat menghadiri kegiatan Halalbihalal dan Sosialisasi Cegah Kawin Anak dan Stunting untuk Gowa Maju, di Baruga Tinggimae, Rujab Bupati Gowa, Kamis (09/04/2026)/FOTO: humas.gowakab.go.id

Bupati Gowa Serukan Gerakan Bersama Cegah Kawin Anak dan Stunting

Thursday, 09 April 2026 | 21:09 Wita - Editor: A Nita Purnama -

BACA JUGA

GOWA, GOSULSEL.COM — Pemerintah Kabupaten Gowa menegaskan komitmennya dalam menekan angka stunting sekaligus mencegah praktik kawin anak melalui kerja sama lintas sektor. 

Upaya ini disampaikan langsung oleh Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, saat menghadiri kegiatan Halalbihalal dan Sosialisasi Cegah Kawin Anak dan Stunting untuk Gowa Maju yang dilaksanakan melalui kolaborasi Ikatan Penyuluh Agama RI dan Kelompok Kerja Majelis Ta’lim Kabupaten Gowa di Baruga Tinggimae, Rujab Bupati Gowa, Kamis (09/04/2026).

Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa persoalan kawin anak dan stunting bukan sekadar angka, melainkan menyangkut masa depan generasi daerah.

PT-Vale

“Hari ini kita sedang menentukan masa depan Kabupaten Gowa. Kawin anak dan stunting bukan sekadar angka atau laporan, tetapi persoalan mendasar yang menentukan apakah generasi kita ke depan akan kuat atau justru lemah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, praktik kawin anak berdampak luas, mulai dari terhentinya pendidikan hingga meningkatnya risiko melahirkan anak stunting. Kondisi ini dinilai sebagai lingkaran masalah yang harus segera dihentikan.

“Kawin anak menghentikan pendidikan dan memaksa anak memikul tanggung jawab sebelum waktunya. Bahkan kawin anak membuka pintu lahirnya generasi stunting. Inilah lingkaran yang harus kita putus sekarang,” tegasnya.

Bupati juga mengungkapkan bahwa kasus pernikahan di bawah umur masih ditemukan di lapangan, bahkan ada yang sudah berujung pada kehamilan. Karena itu, ia meminta peran aktif Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memberikan edukasi hingga ke wilayah terpencil.

“Masih ada di lapangan yang memang menikah di bawah umur dan sudah hamil. Kami mau KUA bisa ke wilayah terpencil untuk melakukan sosialisasi tentang bahaya pernikahan dibawah umur karena berpeluang melahirkan anak stunting. Jika kita diam, kita ikut bertanggung jawab dan jika kita abai, kita sedang mempertaruhkan masa depan Gowa,” tambah Bupati Talenrang.

Menurutnya, stunting berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, seperti menurunnya kemampuan belajar, rendahnya produktivitas, hingga lemahnya daya saing di masa depan.

Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya Majelis Ta’lim, agar aktif menjadi penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat.

“Perang melawan kawin anak dan stunting bukan hanya tugas pemerintah. Ini tugas kita semua. Saya berharap ibu-ibu Majelis Ta’lim tidak hanya hadir, tetapi menjadi penggerak perubahan menyampaikan bahwa menikah harus siap, bukan sekadar cepat, dan anak harus tumbuh sehat, bukan sekadar tumbuh,” ajaknya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga memaparkan sejumlah program prioritas Pemerintah Kabupaten Gowa yang membutuhkan dukungan masyarakat. Program tersebut meliputi Gowa Annangkasi (Bersih), Gowa Caradde (Cerdas) melalui Gerakan Gowa Mengaji, Gowa Masunggu (Sejahtera) untuk pengentasan kemiskinan, khususnya kemiskinan ekstrem, Gowa Salewangan (Sehat), serta Gowa Masannang (Aman).

“Mari menjadi bagian penting dalam menyukseskan program-program tersebut agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somba Opu, Fatmawati, menyoroti pentingnya perhatian pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai langkah strategis menekan stunting.

“Peran organisasi perempuan dan Majelis Ta’lim sangat penting dalam melakukan sosialisasi pencegahan kawin anak dan stunting untuk mewujudkan Gowa Maju. Hari ini kita lakukan itu sekaligus ber halalbihalal setelah lebaran,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Gowa, Jamaris, menyatakan komitmennya untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan hingga tingkat desa dan kelurahan.

“Kami akan menggandeng seluruh organisasi perempuan termasuk PKK, Dharma Wanita, dan Majelis Ta’lim. Kami membutuhkan dukungan untuk menjangkau hingga ke tingkat bawah karena organisasi ini bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengakui masih adanya tantangan di lapangan, seperti faktor budaya dan kekhawatiran orang tua dalam menolak lamaran, yang kerap mendorong terjadinya pernikahan usia dini.

“Ini menjadi kondisi yang harus kita hadapi bersama. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam upaya pencegahan,” pungkasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Andy Azis Peter, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gowa, Suryanti Andy Azis, para pimpinan SKPD, serta sekitar 700 peserta dari berbagai organisasi perempuan, Majelis Ta’lim, dan unsur masyarakat lainnya. (*)


Tags: