Dukung Program Prioritas Nasional, OJK Perkuat Ekosistem Pesantren Melalui Literasi dan Akses Keuangan Syariah

Wednesday, 15 April 2026 | 19:21 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

KEDIRI, GOSULSEL.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui penguatan ekosistem pesantren sebagai langkah strategis mendukung program prioritas pemerintah serta kemandirian ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut dikemas dalam Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH), hasil kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyampaikan bahwa pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

PT-Vale

“Program pemerintah saat ini tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Ini merupakan kebersyukuran karena berorientasi jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui keterlibatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan dalam rantai pasok.

Sementara itu, Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyampaikan kebanggaannya atas pelaksanaan kegiatan tersebut di Kediri.

“Kami merasa bangga dapat menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan kegiatan Penguatan Ekosistem Pesantren melalui Program FEBIS dan SAKINAH di Pondok Pesantren Lirboyo, sebagai wujud nyata sinergi berbagai pihak dalam mendukung program prioritas pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kolaborasi bersama PBNU, Badan Gizi Nasional, serta pelaku usaha jasa keuangan syariah, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat pesantren.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan santri dan pelaku usaha pesantren, tetapi juga memperkuat akses pembiayaan, mendorong pengembangan usaha yang sehat dan berkelanjutan, serta menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mandiri dan berdaya saing,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya, menyatakan bahwa program MBG menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta peserta didik termasuk santri.

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, juga menyampaikan dukungannya terhadap program tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia santri secara menyeluruh, baik secara intelektual, fisik, maupun spiritual.

Melalui kegiatan SAKINAH, OJK memberikan edukasi kepada ratusan santri terkait pengelolaan keuangan, pemanfaatan produk keuangan syariah, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, serta pentingnya gizi dalam menunjang kesehatan.

Sementara itu, FEBIS diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan pengelola SPPG, badan usaha milik NU, pelaku usaha, serta bagian dari rantai pasok Program MBG.

Kegiatan ini menghadirkan sesi business matching antara pelaku usaha dan lembaga jasa keuangan syariah guna membuka akses pembiayaan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, turut dilakukan peresmian fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pesantren, simbolisasi pembukaan akses keuangan syariah, serta penandatanganan prasasti untuk 27 SPPG.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara sektor keuangan syariah dan ekonomi riil dalam memperkuat ekosistem pesantren yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)


Tags: