#TRENDING

Inovasi Dosen FMIPA UNM Bantu Petani Kakao di Soppeng Hadapi Cuaca Ekstrem

Tuesday, 18 August 2026 | 16:11 Wita - Editor: Agung Eka -

SOPPENG, GOSULSEL.COM – Ketidakpastian cuaca masih menjadi tantangan utama yang dihadapi petani kakao dalam menjaga kualitas hasil panen. Ketika hujan turun atau intensitas sinar matahari berkurang, proses pengeringan biji kakao menjadi lebih lama dan berisiko menurunkan mutu produk. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas kakao, tetapi juga berdampak pada nilai jual yang diterima petani.

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melalui kegiatan bertajuk “Smart Farming Berbasis Box Dryer Hybrid Solar dan Edukasi Pasca panen sebagai Solusi Ketidakstabilan Cuaca dan Mutu Biji Kakao” pada Kelompok Tani Lagenrang di Desa Watu Toa, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.

Tim pengabdian diketuai oleh Dr. Kaharuddin Arafah, M.Si.dengan anggota Muh. Saleh, S.Pd., M.Pd. dan Dirgah Kaso Sanusi, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Makassar. Program ini merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil riset dan penerapan teknologi tepat guna untuk mendukung peningkatan produktivitas serta kualitas hasil pertanian masyarakat.

PT-Vale

Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026 melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Program tersebut menjadi wujudkomitmen perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat berbasis inovasi, teknologi, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

Pengeringan Kakao Masih Menjadi Persoalan Utama

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang menjadi sumber pendapatan masyarakat di Desa Watu Toa. Namun, berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan kelompok tani, proses pasca panen masih menghadapi berbagai kendala yang berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan.

Selama ini petani masih mengandalkan metode penjemuran terbuka yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau cuaca mendung berlangsung selama beberapa hari, proses pengeringan menjadi tidak optimal sehingga kadar air biji kakao sulit dikendalikan. Akibatnya, warna biji tidak seragam, tingkat kekeringan tidak merata, dan risiko pertumbuhan jamur meningkat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas produk dan harga jual yang diterima petani. 

Selain persoalan teknologi pengeringan, petani juga menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai standar mutu kakao, pengendalian kadar air, serta praktik pasca panen yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Akibatnya, peluang untuk menghasilkan kakao berkualitas tinggi dan memiliki daya saing yang lebih baik masih belum optimal. 

Inovasi Pengering Kakao Berbasis Energi Surya

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, tim pengabdian menerapkan teknologi Box Dryer Hybrid Solar, sebuah sistem pengeringan tertutup yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi utama.

Teknologi ini mengintegrasikan solar collectorpanel surya fotovoltaik (PV), dan sistem sirkulasi udara paksa untuk menghasilkan proses pengeringan yang lebih efektif dan terkontrol. Berbeda dengan metode penjemuran konvensional, sistem tertutup pada Box Dryer Hybrid Solar memungkinkan biji kakao terlindungi dari debu, kotoran, serangga, dan berbagai faktor lingkungan yang dapat menurunkan kualitas produk.

Pemanfaatan energi surya pada teknologi ini juga menjadi bagian dari penerapan konsep smart farming, yaitu penggunaan teknologi modern dan energi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi proses pertanian sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. 

Tidak Sekadar Memberikan Alat

Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga menekankan aspek peningkatan kapasitas petani.

Tim melaksanakan berbagai kegiatan yang meliputi sosialisasi program, pelatihan pengoperasian Box Dryer Hybrid Solar, edukasi mengenai standar mutu kakao, praktik pengeringan, pendampingan penggunaan alat, hingga monitoring dan evaluasi. Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memperoleh pemahaman dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola teknologi secara mandiri.

Sebanyak 14 anggota Kelompok Tani Lagenrang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Tingkat partisipasi yang mencapai 100 persen menunjukkan tingginya antusiasme petani dalam menerima dan memanfaatkan inovasi yang diperkenalkan oleh tim pengabdian.

Ketua Tim PKM, Dr. Kaharuddin Arafah, M.Si., menjelaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan nyata yang dihadapi petani kakao dalam menghadapi perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.

“Ketergantungan pengeringan terhadap cuaca menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kualitas kakao yang dihasilkan petani. Karena itu, kami menghadirkan Box Dryer Hybrid Solar sebagai solusi yang memanfaatkan energi surya untuk menghasilkan proses pengeringan yang lebih stabil, higienis, dan efisien. Namun tujuan kami tidak hanya menghadirkan teknologi, melainkan memastikan petani memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan merawat teknologi tersebut secara mandiri,” ujarnya.

Menurut Kaharuddin, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak hanya diukur dari alat yang diberikan, tetapi juga dari peningkatan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan inovasi yang diterapkan.

“Kami ingin petani tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan teknologi tersebut secara berkelanjutan. Oleh karena itu, edukasi pasca panen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program ini,” tambahnya.

Keterampilan Petani Mengalami Peningkatan

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan teknologi dan kegiatan pendampingan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas petani.

Tingkat keterampilan mitra dalam mengoperasikan dan merawat Box Dryer Hybrid Solar mencapai 88,64 persen, sedangkan tingkat kemandirian penggunaan teknologi mencapai 85,24 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar petani telah mampu mengoperasikan alat, mengatur proses pengeringan, melakukan pemeriksaan komponen, serta melaksanakan perawatan rutin secara mandiri.

Peningkatan keterampilan tersebut menjadi indikator penting bahwa teknologi yang diterapkan dapat diterima dan dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok tani sebagai pengguna utama.

Mutu Kakao Menjadi Lebih Baik

Salah satu dampak paling nyata dari program ini terlihat pada peningkatan mutu fisik biji kakao yang dihasilkan.

Hasil evaluasi menunjukkan mutu fisik kakao mencapai 90,76 persen, dengan indikator warna yang lebih seragam, kondisi lebih bersih, bebas jamur, serta tingkat kekeringan yang lebih merata dibandingkan metode pengeringan konvensional.

Peningkatan kualitas tersebut menjadi modal penting bagi petani untuk menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar serta memiliki daya saing yang lebih baik. Produk kakao yang lebih seragam dan berkualitas juga membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi petani. 

Petani Sambut Positif Program PKM

Ketua Kelompok Tani Lagenrang, Muhammadong, mengakumerasakan manfaat langsung dari program yang dilaksanakan oleh tim dosen UNM.

“Kami sangat terbantu dengan adanya teknologi ini. Selama ini proses pengeringan sangat bergantung pada cuaca sehingga hasilnya sering tidak konsisten. Sekarang kami memiliki alat yang membantu proses pengeringan menjadi lebih baik, sekaligus mendapatkan pelatihan tentang cara menjaga mutu kakao. Yang paling penting, kami sudah mampu mengoperasikan alat ini sendiri,” ungkapnya.

Tingginya penerimaan petani terhadap program juga tercermin dari tingkat kepuasan mitra yang mencapai 98,57 persen. Penilaian tersebut meliputi kesesuaian program dengan kebutuhan petani, kualitas pelaksanaan kegiatan, manfaat teknologi, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta.

Dorong Pertanian Modern Berbasis Energi Terbarukan

Melalui program ini, tim pengabdian berhasil menghasilkan dan menerapkan satu unit Box Dryer Hybrid Solar yang selanjutnya diserahkan kepada Kelompok Tani Lagenrang untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam kegiatan pasca panen kakao.

Program ini tidak hanya membantu meningkatkan mutu kakao, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor pertanian.

Penggunaan energi surya menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Selain itu, kegiatan ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui dukungan DPPM Kemdiktisaintek dan kolaborasi antar perguruan tinggi dengan masyarakat, Smart Farming Box Dryer Hybrid Solar diharapkan dapat menjadi model pengelolaan pasca panen kakao yang adaptif terhadap perubahan iklim, meningkatkan kualitas produk, memperkuat daya saing komoditas lokal, serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani kakao di Kabupaten Soppeng. (*)