Jejak Japfa di Balik Kebiasaan Cuci Tangan Siswa SDI Biringkaloro
GOWA, GOSULSEL.COM – Pertumbuhan anak di sekolah tidak hanya dilihat pada kecerdasannya. Lingkungan juga sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang mereka.
Di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Biringkaloro, Desa Tetebatu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lingkungan bersih dan sehat sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sudah diterapkan di sana. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sudah menjadi rutinitas siswa sebelum belajar hingga waktu makan.
Apalagi, fasilitas wastafel sudah tersedia di depan kelas masing-masing. Sehingga memudahkan siswa untuk cuci tangan tanpa didampingi guru.
Bagi siswa SDI Biringkaloro, cuci tangan bukan lagi sekadar prosedur kesehatan biasa saja, namun sudah dianggap penting dalam mencegah penyakit agar bisa terus belajar.
Dorongan alami untuk menerapkan gaya hidup sehat rupanya sudah ada sejak wabah covid-19 merebak di Kabupaten Gowa. Saat itu, siswa mulai di didik cuci tangan agar terhindar dari penyebaran virus tersebut.
Kepala SDI Biringkaloro, Muhammad Basri mengatakan, kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terus digalakkan, salah satunya mendampingi siswa untuk selalu cuci tangan.
“Kita minta peserta didik untuk selalu cuci tangan sendiri sebelum belajar karena penyebaran penyakit itu datang dari tangan,” jelasnya saat ditemui di sekolah, Senin (10/8/2026).
Progres signifikan terlihat di tahun 2020 lalu ketika PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) turut ambil bagian dalam pendampingan di SDI Biringkaloro.
Melalui program JAPPA for Kids, kolaborasi kampanye BPHS membuahkan hasil. Kebiasaan cuci tangan sudah bukan atas instruksi dari guru, namun inisiatif siswa yang sudah berakar kuat dari kesadaran diri mereka.
“Makanya sekarang biar tidak dikasih tahu, semuanya sudah rajin cuci tangan,” ucapnya.
Sentuhan JAPFA Mengubah Kebiasaan
Budaya hidup sehat tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang di balik mewujudkan kebiasaan itu hingga akhirnya dilakukan tanpa diminta.
Dari SDI Biringkaloro, bukti perjuangan panjang itu tergambar nyata. Keberhasilan PHBS di lingkungan sekolah tidak terwujud dalam beberapa bulan, melainkan butuh kurang lebih enam tahun.
Proses panjang itu juga melibatkan JAPFA. Di tahun 2020, perusahaan agri-pangan terkemuka di Indonesia ini datang membawa harapan, memuluskan pelaksanaan kampanye PHBS.
JAPFA melaksanakan JAPPA for Kids, yaitu program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada pembiasaan PHBS terhadap anak-anak sekolah dasar.
Adapun SDI Biringkaloro terpilih sebagai salah satu sekolah penerima manfaat program JAPPA for Kids, lalu mendapat pendampingan setiap pekan hingga berakhir pada tahun 2022.
Pendampingan tersebut meliputi berbagai kegiatan, seperti senam bersama, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, edukasi kesehatan, pengukuran berat badan dan tinggi badan, hingga makan bekal bersama.
Kondisi halaman SDI Biringkaloro yang bersih, Senin (10/8/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Muhammad Basri menilai kehadiran JAPFA membawa perubahan besar. Pendampingan PHBS yang intens diberikan pelan-pelan menyentuh hati siswa.
Padahal, lanjut dia, tidak mudah mempengaruhi 600 siswa. Terlebih karakter setiap anak berbeda-beda, ada yang mudah belajar, susah fokus, hingga masih berkemauan keras.
“Waktu itu saya bukan kepala sekolah, tapi ikut terlibat mendampingi JAPFA. Cara mengedukasinya bagus dan mereka mulai nurut,” ucapnya.
Namun kebiasaan ini awalnya tidak didukung dengan fasilitas yang memadai. Wastafel sebagai sarana cuci tangan masih minim, hanya dijumpai di tiga kelas dari delapan kelas yang ada.
“Jadi siswa dulu malas mencuci tangan karena wastafel jauh, mending katanya langsung masuk kelas belajar,” sambung Basri.
Melihat kondisi tersebut, JAPFA juga menambah wastafel. Masing-masing kini sudah tersedia di depan kelas.
Menurut Basri, bantuan itu sangat berarti bagi SDI Biringkaloro. Dengan kondisi yang terbatas, kini sekolah sudah mendapat perhatian khusus dari pihak swasta seperti JAPFA.
“Selama ini fasilitas seperti wastafel memang masih kurang. Adanya bantuan ini kita harus jaga baik-baik,” ucap Basri.
Siswa SDI Biringkaloro mengikuti pembelajaran di kelas, Senin (10/8/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Kesuksesan kampenye PHBS tidak hanya mendorong pola hidup sehat siswa. Tata kelola SDI Biringkaloro pun ikut berubah.
Di akhir pendampingan pada tahun 2022, JAPFA mengapresiasi SDI Biringkaloro sebagai salah satu pemenang di JAPFA for Kids Awards untuk kategori lomba tata kelola sekolah.
Saat itu dewan juri menilai SDI Biringkaloro memenuhi kriteria PHBS dari segi tata kelola sekolah, mulai dari fasilitas air bersih, wastafel, hingga kegiatan kebersihan yang rutin digelar setiap pekan.
“Sejak itu kita terus konsisten gelar Jumat Bersih untuk gotong royong di luar dari kebiasaan siswa yang sudah rajin cuci tangan,” ungkap Basri.
Sementara, Pakar Kesehatan Anak, dr Kharisma Andi Akhmad menilai upaya JAPFA sudah tepat untuk memberikan edukasi soal cuci tangan kepada siswa sejak dini.
“Harus memang di edukasi sejak dini untuk mencegah penularan berbagai jenis kuman penyakit yang dapat berpindah melalui tangan,” ujarnya.
Menurutnya, cuci tangan adalah bagian dari PHBS yang sama pentingnya dengan memenuhi gizi siswa. Sehingga, kampanye PHBS harus tetap berjalan untuk memastikan anak berkembang.
“PHBS sangat penting dan bermanfaat buat anak SD untuk menjaga kesehatannya sehingga menjamin tumbuh kembang yg optimal,” tandas dr Kharisma.
Mengalir Hingga ke Lingkungan Keluarga
Konsistensi pendampingan dari program JAPPA for Kids semakin terasa dampaknya. Kebiasaan siswa SDI Biringkaloro mencuci tangan juga dibawa ke lingkungan keluarga.
Orang tua siswa terkesima. Anaknya yang dulu kurang perhatian untuk cuci tangan, kini pelan-pelan selalu diterapkan saat sebelum dan setelah makan.
Khaidir (35) misalnya. Faisal, anaknya yang duduk di bangku kelas lima kini telah menerapkan praktik cuci tangan itu di rumah.
“Pastinya kita senang karena sekarang sudah perhatikan kesehatannya,” ungkap Khaidir.
Menurut Khaidir, kampanye SDI Biringkaloro bersama JAPFA berhasil meluluhkan hati Faisal yang punya sifat keras. Dulu, ia seringkali mengingatkan anaknya untuk cuci tangan namun abai dilakukan.
“Dia kadang kalau ada dikasih tahu, tidak mau mendengar. Kalau ibunya, dia mendengar tapi lama-lama tidak dilakukan lagi,” jelasnya.
Sampai sekarang, Faisal terus menerapkan praktek cuci tangan di rumah. Ada rasa bangga dari Khaidir melihat pencapaian tersebut meski tidak diganjar penghargaan.
“Semoga Faisal bisa konsisten terus sampai besar untuk cuci tangan,” katanya.
Jejak JAPFA Membekas di Hati Siswa
Sudah kurang lebih enam tahun lamanya sejak JAPFA melalui program JAPFA for Kids hadir di SDI Biringkaloro. Namun jejak pendampingan yang dilakukan terus membekas di hati siswa.
Dari edukasi JAPFA, siswa mengambil pelajaran berharga bahwa kebiasaan sederhana bisa berdampak besar bagi kehidupan. Begitu pula cuci tangan yang membuatnya tetap sehat.
Rutinitas siswa SDI Biringkaloro untuk cuci tangan juga menandai keberhasilan JAPFA dengan program JAPFA for Kids di sekolah tersebut.
JAPFA for Kids Awards di tahun 2022. SDI Biringkaloro menjadi salah satu pemenang untuk kategori lomba tata sekolah/FOTO: IST
Capaian itu tidak lepas dari pemilihan penerima manfaat program yang selektif. Bukan cuma pihak internal JAPFA yang menilai, namun turut melibatkan pemerintah dan tenaga kesehatan.
“Jadi kami tidak asal menetapkan penerima manfaat. Semua dilakukan berdasarkan data dan pengukuran yang dilakukan tenaga kesehatan yang kompeten,” ungkap St Khumaidah, Social Investment Supervisor JAPFA.
Program JAPFA for Kids ini merupakan nawacita dari JAPFA untuk memenuhi konsep gizi seimbang dari sekolah penerima manfaat. Sehingga setelah proses seleksi, intervensi pun dilakukan.
Adapun Hari Sehat JAPFA merupakan intervensi perubahan perilaku yang disiapkan oleh JAPFA dengan pembiasaan.
Selain memberikan telur, ada rangkaian pendampingan lain seperti edukasi cuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir, kebersihan diri, cek bekal, hingga senam gizi seimbang.
Head of Poultry Processing JAPFA, Soetanto menegaskan bahwa kegiatan JAPFA for Kids merupakan wujud nyata dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan anak-anak di sekolah.
“Kami percaya bahwa anak-anak adalah aset masa depan, karenanya kami berharap dengan adanya program ini dapat membantu mewujudkan generasi Indonesia unggul,” tutupnya. (*)