#TRENDING

Film Jangan Lupa Bahagia Tayang: Sedih, Lucu, dan Karya Asli Makassar

Tuesday, 08 September 2026 | 20:51 Wita - Editor: Agung Eka -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Film karya anak Makassar, yaitu Jangan Lupa Bahagia akhirnya bisa dinikmati masyarakat di bioskop se-Indonesia mulai 10 September 2026.

Film garapan 786 Production, Rumpi Entertainment, dan Timur Pictures itu menyajikan genre drama keluarga yang dibalut komedi khas Makassar.

Adapun Andi Burhamzah diplot sebagai sutradara sekaligus produser bersama Nicki RV, Mohit NV, dan Rani RL. Sementara skenario ditulis Tumming, Abu, dan Chairul Rijal Juanda.

PT-Vale

Gala Premiere digelar hari ini di Cinema XXI Mal Panakkukang, Kota Makassar, Selasa (8/9/2026).

Film ini mengangkat kisah Ulla (Alghifahri Jasin), anak sulung yang tiba-tiba harus menjadi tulang punggung keluarga setelah orang tuanya meninggal dunia.

Ulla harus memastikan kedua adiknya, Imma (Jasmin Risach) dan Ikbal (M Aqif Difullah), tetap bersekolah demi mewujudkan harapan orang tua mereka. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ulla bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Perjuangan itu semakin berat ketika ponsel yang menjadi alat utama Ulla mencari nafkah rusak setelah terjatuh dan terinjak motor. Di saat bersamaan, Ulla dan kedua adiknya juga harus meninggalkan rumah kosong yang selama ini mereka tempati karena rumah tersebut hendak dijual.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Ulla mendapat dukungan dari dua sahabatnya, Tumming dan Abu. Kehadiran duo komedian tersebut memberikan warna komedi dalam kisah drama keluarga yang sarat dengan persoalan kehidupan.

Andi Burhamzah mengatakan, Jangan Lupa Bahagia telah melalui perjalanan cukup panjang sejak diproduksi empat tahun lalu atau pada 2022. Menurutnya, gala premiere yang digelar setelah empat tahun menjadi momen yang sangat dinantikan seluruh tim.

“Syukur alhamdulillah kita telah hadir di hari gala premiere film Jangan Lupa Bahagia setelah dinanti-nanti. Empat tahun setelah syuting akhirnya hari ini datang,” kata Burhamzah.

Menurut dia, film tersebut tidak hanya berbicara mengenai persoalan keluarga, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali makna kebahagiaan.

Ia mengatakan, gagasan utama film berangkat dari pandangan bahwa kebahagiaan kerap dianggap baru hadir ketika cita-cita atau keinginan seseorang tercapai. “Padahal setiap proses harusnya bahagia itu bisa muncul,” ujarnya.

Gagasan awal film ini berasal dari Tumming dan Abu. Keduanya diketahui sama-sama merupakan anak sulung, sehingga pengalaman tersebut turut menjadi salah satu irisan dalam pengembangan cerita.

Namun, Burhamzah memilih menghadirkan sudut pandang lain dalam penyutradaraannya. Ia melihat kisah Ulla tidak hanya dari posisi anak sulung, tetapi juga dari perspektif adik dan orang tua.

“Saya sebagai sutradara mengambil point of view dari adiknya Ulla dan juga orang tuanya, melihat bagaimana harapannya kalau kita sudah tidak ada, anak-anak bisa tetap sama-sama dan saling bahu-membahu,” jelasnya.

Untuk pemeran Tumming dan Abu, Burhamzah mengatakan keduanya memang telah dirancang sejak awal untuk terlibat dalam film. Sementara pemeran Ulla, Imma, Ikbal, dan sejumlah karakter lainnya dipilih melalui proses casting dan screen test.

Alghifahri Jasin, pemeran Ulla, mengaku memiliki tantangan tersendiri ketika harus beradu akting dengan Tumming dan Abu. Ia harus mengesampingkan sosok keduanya sebagai komedian yang selama ini dikenal publik agar dapat fokus membangun karakter dalam film.

“Saya perlu menyingkirkan figur Tumming-Abu dulu di kepalaku yang selama ini kita nonton sama-sama. Ketika action, saya harus benar-benar menahan ketawa apa pun improv-nya,” kata Alghifahri.

Bagi Alghifahri, memerankan Ulla juga menjadi pengalaman untuk memahami bagaimana seseorang yang masih muda harus menerima beban ekonomi keluarga secara tiba-tiba.

Ulla digambarkan harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tuanya sekaligus mengambil alih tanggung jawab untuk kedua adiknya. Dalam perjalanan tersebut, keberadaan Tumming dan Abu menjadi bagian penting yang membantu Ulla menghadapi berbagai persoalan.

Sementara itu, Tumming dan Abu menyebut film tersebut sejak awal memang dirancang sebagai film keluarga yang berbeda ketika mulai diproduksi pada 2022.

“Kami mau bikin suatu film yang beda di saat itu. Tahun 2022 film keluarga belum terlalu banyak,” ujar Tumming.

Proses syuting yang berlangsung di sejumlah kawasan di Makassar, utamanya di wilayah Utara, juga menghadirkan tantangan tersendiri. Meski demikian, mereka menilai proses produksi berjalan lancar berkat kekompakan kru dan para pemain.

Selain Alghifahri Jasin, Jasmin Risach, dan M Aqif Difullah, Tumming, Abu, Andi Batara Bintang, film ini juga dibintangi Arman Dewarti, Adhi Basto, dan Jade Thamrin.

Andi Batari Bintang memerankan karakter kasir yang memiliki interaksi dengan Ulla. Ia mengatakan pengalaman bekerja bersama Tumming dan Abu menjadi salah satu hal menarik selama proses produksi.

Dengan menggabungkan drama keluarga, komedi, serta latar budaya Sulawesi, film ini diharapkan dapat menjangkau penonton lebih luas, khususnya masyarakat Indonesia dan penonton di Makassar.

Burhamzah berharap film yang telah menunggu selama empat tahun untuk bertemu penonton tersebut dapat diterima masyarakat. “Semoga bisa diterima di masyarakat Indonesia, terutama di Makassar,” tukasnya.