Cara PT Vale Berdayakan Masyarakat, Jadi Petani Nanas hingga Peramu Obat Herbal
LUWU TIMUR, GOSULSEL.COM – PT Vale Indonesia Tbk berupaya memenuhi tanggung jawabnya kepada masyarakat melalui program pemberdayaan. Upaya ini sekaligus menegaskan diri sebagai perusahaan tambang yang terdepan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan.
Di wilayah konsesi PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, misalnya. Ada rumah sehat bernama HIPHO. Di sana, warga sekitar didorong menjadi peramu obat herbal.
Berdiri sejak tahun 2019, warga yang tergabung dalam Himpunan Penggiat Herbal Organik atau HIPHO itu terus memberikan pelayanan kesehatan yang ingin sembuh melalui konsumsi obat herbal.
Fasilitator program UKBM PT Vale, Julianto menjelaskan, klinik tersebut beroperasi setelah anggota komunitas HIPHO dilakukan pendampingan dari PT Vale, Yayasan Aliksa, dan Dinas Kesehatan Luwu Timur.
“Saat itu kami tidak buka tiap hari karena masih dalam tahap pengembangan. Setiap Selasa saja,” jelasnya beberapa waktu yang lalu.
Seiring berjalannya waktu, animo masyarakat mulai tinggi. Di tahun 2022, rumah sehat HIPHO akhirnya dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WITA.
Klinik herbal itu juga membuka layanan pijat tradisional bagi pasien yang merasa pegal atau kelelahan setelah bekerja. Layanan ini paling banyak dimanfaatkan oleh karyawan PT Vale.
“Kami akan terus berbenah sehingga menjadi klinik yang terus dipercaya masyarakat,” katanya.
Melalui PPM, Julianto menegaskan bahwa PT Vale selalu peduli terhadap kesehatan, bukan hanya untuk karyawan namun kepada masyarakat Luwu Timur. Sebab dalam prinsip keberlanjutan, ada tanggung jawab sosial yang senantiasa terus dilakukan.
Selain mendirikan rumah sehat HIPHO, PT Vale juga mengubah lahan tandus di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda menjadi lokasi agrowisata kebun nanas Pondata.
Lahan kritis seluas lima hektare yang dahulu hanya menjadi padang rumput rawan terbakar kini berubah menjadi kebun nanas rakyat. Gagasan ini muncul setelah pandemi, ketika warga memutuskan menanam nanas dengan pengetahuan seadanya.
Pemerintah desa pun ikut mendorong lewat dukungan dana desa meski hasil awal belum begitu besar.
Pemilihan nanas bukan tanpa alasan. Sejak lama Wasuponda dikenal sebagai “tanah nanas”, bahkan nama wilayah ini secara etimologis berkaitan dengan tanaman tersebut yang mampu tumbuh di tanah berbatu. Komoditas ini bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat.
Lompatan besar terjadi ketika PT Vale hadir memberikan pendampingan teknis dan sarana produksi pada 2024—mulai dari bibit, alat pertanian seperti hand tractor, hingga pembangunan rumah kompos, rumah maggot, nursery, dan fasilitas produksi. Dukungan ini membuat warga lebih yakin mengelola kebun secara profesional.
“Kami bersyukur ada pihak yang melihat potensi kami. Percepatan seperti ini tidak bisa kami capai jika hanya mengandalkan dana desa,” ujar Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo.
Kelola kebun nanas diterapkan melalui sistem bagi hasil: 20% untuk pemilik lahan, 20% menjadi pendapatan desa, dan 60% digunakan untuk operasional serta upah petani. Skema ini membuat manfaat ekonomi lebih merata.
Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga terasa penting. Kelompok rentan seperti lansia dan ibu rumah tangga kini terlibat dalam perawatan, panen, hingga pengolahan.
Menurut Head of External Relations PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
“Nanas adalah identitas Wasuponda. Kami ingin membantu potensi ini tumbuh sambil tetap menjaga lingkungan,” jelasnya.
Produksi nanas pun terus naik. Ketua Kelompok Pengelola Produk Turunan Nanas (Pondata), Yohanes Gusti, mencatat panen 2024 mencapai 500 kg dan tahun ini meningkat menjadi sekitar 600 kg.
“Target kami jelas: memperluas kebun hingga 10 hektare,” katanya. Selain menjual nanas segar, warga mulai memproduksi selai, dodol, keripik, asinan, dan sirup untuk menambah nilai jual. (*)