(FOTO: Ibu Sri, pedagang kue lopis di Jl Hertasning Makassar/Selasa, 4 Oktober 2016/Andi Nita Purnama/GoSulsel.com)

Manisnya Rejeki Bu Sri, Semanis Kue Lopis Jualannya

Selasa, 04 Oktober 2016 | 12:46 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: A Nita Purnama - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Ibu Sri, seorang wanita paruh baya yang berdagang kue lopis, kue tradisional Makassar. Dagangannya berada di Jalan Hertasning Raya Blok E.

Ibu Sri adalah seorang ibu bagi dua orang putra dan putri yang sejak dulu berjualan kue manis kenyal ini. Awalnya Ia menjual kue dengan berkeliling, kemudian beralih ke berdagang lopis di pinggir Jalan Hertasning.

pt-vale-indonesia

“Dulu sebelum jual ini, saya jual kue-kue keliling. Tapi saya banting stir ke jual lopis karena nanti anak-anak malu lihat saya jual kue keliling,” ujar Sri, penjual kue lopis, saat ditemui GoSulsel.com, Jumat (30/9/16).

(FOTO: Ibu Sri, pedagang kue lopis di Jl Hertasning Makassar/Selasa, 4 Oktober 2016/Andi Nita Purnama/GoSulsel.com)

(FOTO: Ibu Sri, pedagang kue lopis di Jl Hertasning Makassar/Selasa, 4 Oktober 2016/Andi Nita Purnama/GoSulsel.com)

Wanita ini telah berjualan kue lopis selama 2 tahun lebih. Hal ini dilakukan untuk menghidupi kedua orang anaknya yang masih di bangku sekolah. Dia harus membanting tulang seorang diri, karena suaminya tidak bersamanya lagi.

“Sekarang tenaga kerja susah. Dibayar tapi yang setengah mati kita juga. Ia kalau rajin, kalau ogah-ogahan kerjanya. Setengah mati bayarnya,” tambahnya.

Setiap harinya, Ibu Sri bisa menjual hingga 7 liter beras ketan yang dibuat lopis. Keuntungannya mencapai Rp 700 ribu per hari. Saat bulan puasa, dagangannya bertambah hingga 10 liter per hari.

Selain lopis yang dapat dibeli per bungkus, lopis ini juga bisa dipesan untuk hajatan tertentu. Orang-orang biasanya memesan untuk acara pernikahan. Erang-erang (seserahan saat nikah) yang dibawa juga ada kue tradisionalnya, dan mereka kadang menginginkan kue lopis sebagai salah satu panganan erang-erang ini.(*)


BACA JUGA