FOTO: Dagangan Bakpao Adi Nugroho di Jl Hertasning Makassar/Sabtu, 14 Januari 2017/Andi Nita Purnama/Gosulsel.com

Cerita Penjual Bakpao Dikejar Satpol hingga Dipalak Preman Hertasning

Sabtu, 14 Januari 2017 | 05:44 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: A Nita Purnama - GoSulsel.com

Makassar, Gosulsel.com — Larangan berdagang di tepi jalan oleh Satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP), membuat para pedagang kaki lima di Jalan Hertasning Blok F Makassar yang biasanya ramai, kini hanya tersisa satu-dua penjual saja. Mereka bermain kucing-kucingan dengan petugas penertib milik pemerintah kota. Di saat yang sama, penjual-penjual itu wajib “nyetor” ke preman setempat.

Seperti cerita dari sebuah gerobak berwarna biru yang keukeuh mangkal di jalan itu. Adalah penjual bakpao yang menjajakan dagangannya dari pukul 2 sore hingga pukul 7 malam, setiap harinya.

Sudah sebulan setengah laki-laki asal Jawa Timur, pemilik gerobak biru itu, berjualan bakpao. Sebelumnya, dia mengikut seseorang yang menjajakan roti keliling. Karena merasa tak berpenghasilan layak, maka dia mulai beralih dan mencari sumber nafkah lain.

FOTO: Dagangan Bakpao Adi Nugroho di Jl Hertasning Makassar/Sabtu, 14 Januari 2017/Andi Nita Purnama/Gosulsel.com

FOTO: Dagangan Bakpao Adi Nugroho di Jl Hertasning Makassar/Sabtu, 14 Januari 2017/Andi Nita Purnama/Gosulsel.com

Enam bulan berlalu sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di Kota Daeng ini. Untuk mencari nafkah, dirinya berlayar dari Tanjung Perak Surabaya ke kota Makassar. Ia mengaku, peminat bakpao di Surabaya tidak seramai di Makassar.

“Karena di Surabaya sulit dapat kerjaan. Kurang peminat bakpao juga di sana,” kata Adi Nugroho, pedagang bakpao berumur 28 tahun ini.

Adi menjajakan bakpao milik Lastri, seorang pengusaha bakpao yang mempekerjakan empat orang -termasuk Adi-. Lastri menawarkan pekerjaan bagi Adi dengan tunjangan akomodasi selama bekerja bersamanya.

“Ada empat orang yang jual. Pusatnya di Kompleks Permata Hijau,” kata Adi Nugroho, kepada Gosulsel.com, Kamis (12/1/2017).

Selama berjualan bakpao di Jalan Hertasning, banyak hal yang dia alami. Mulai dari dikejar satpol PP, hingga dipalaki preman setempat karena mangkal di daerah “kekuasaan” preman itu. Tak mau cari soal dan kehilangan pelanggan setia, dia terpaksa memberi uang ke preman pemalak itu.

“Mau gimana lagi. Saya bayar saja,” tutupnya.(*)


BACA JUGA