Di Plesmanschool, IYL Berinteraksi dengan Siswa

Jumat, 06 Oktober 2017 | 18:15 Wita - Editor: Baharuddin - Reporter: Baharuddin - GoSulsel.com

Makassar,GoSulsel.com – Semangat Ichsan Yasin Limpo (IYL) menambah pengetahuan di bidang pendidikan tak pernah pudar. Di hari kedua kunjungannya ke Belanda, pelopor pertama pendidikan gratis di Indonesia ini fokus mendalami sistem belajar-mengajar di Dr Plesmanshool Badhoevedorp, atau di sekolah dasar.

Di sekolah yang terletak di Amsterdam ini, IYL yang melakukan penelitian untuk penyusunan disertasi gelar doktornya di Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin, diterima langsung Direktur Dr Plesmanshool Badhoevedorp, Lex Batstra, serta beberapa tenaga pengajar di sekolah yang dilengkapi berbagai fasilitas untuk siswa.

pt-vale-indonesia

Selama sekitar satu jam, Lex Batstra menjelaskan mengenai kurikulum dan waktu belajar mengajar yang diterapkan ke siswa, mulai dari kelas satu hingga tingkatan terakhir. Begitu juga soal fasilitas pendukung yang wajib dipenuhi pihak sekolah.

“Jadi di sekolah dasar di sini, siswa baru belajar membaca di kelas 3. Kelas 1 sampai kelas 2, kerjanya hanya bermain saja, atau melatih kinestetik mereka,” kata Ichsan dalam laporannya dari Amsterdam, Jumat (06/10/17).

Tak hanya itu, di sekolah tersebut, para siswa tidak diwajibkan mengenakan seragam khusus, layaknya siswa-siswi di Indonesia.  Termasuk tidak ada istilah pungutan-pungutan, karena semua sudah ditanggung oleh pemerintah.

Bahkan, lanjut Ichsan, sesuai penyampaian pihak sekolah, siswa yang bukan penduduk asli Belanda, mendapat tunjangan lebih banyak, apakah mereka tergolong keluarga tidak mampu atau tidak dari segi pendekatan penghasilan ekonomi.

“Hubungan guru dengan siswa, termasuk kepala sekolah itu sangat dekat dan bersahabat. Mereka di kelas berteman, sehingga para siswa makin nyaman untuk belajar,” tuturnya.

Dalam kunjungan di sekolah itu, selain mendapat penjelasan dari pihak sekolah, IYL bersama beberapa guru besar bidang pendidikan asal Indonesia, juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan para siswa, serta memperhatikan proses belajar-mengajar.

Selain itu, IYL yang dikenal pelopor Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) saat masih menjadi Bupati Gowa, juga memperhatikan, sekaligus mengabadikan berbagai fasilitas pendukung di sekolah tersebut melalui kamera ponselnya.

Sekadar diketahui, sehari sebelumnya, IYL mengunjungi Dinas Pendidikan setempat untuk mendapatkan penjelasan mengenai kebijakan pemerintah, tentang penerapan pendidikan dasar di Belanda yang tidak mengenal istilah tinggal kelas.

Di samping itu, kebijakan pemerintah Belanda juga tidak menerapkan istilah pungutan-pungutan ke siswa. Sebab, semua biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga siswa dan guru, fokus pada belajar menjagar saja tanpa terbebani lagi pungutan-pungutan. (*)


BACA JUGA