Perkebunan bunga di Cianjur

Kementan Apresiasi Upaya Dinas Pertanian Cianjur Bantu Petani Bunga

Jumat, 17 April 2020 | 19:03 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

CIANJUR, GOSULSEL.COM — Pandemi virus Corona yang telah melanda negeri ini sejak awal Maret lalu telah berdampak cukup signifikan terhadap sektor ekonomi Indonesia. Sejumlah analis dan ekonom menyebut sektor yang paling terdampak diantaranya adalah sektor rumah tangga, UMKM, korporasi, dan sektor keuangan.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo mengharapkan sektor pertanian dapat menjadi kekuatan ekonomi dalam menghadapi kondisi saat ini, terutama untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Terlebih untuk komoditas hortikultura seperti buah, sayur dan tanaman obat yang mengalami peningkatan permintaan yang pesat di tengah situasi pandemi saat ini.

Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman menyampaikan bahwa justru saat inilah momen yang bagus untuk menggenjot produksi buah dan sayuran lokal Indonesia. Tujuannya tak lain agar berjaya serta menjadi raja di negeri sendiri.

“Karena saat ini konsumen membutuhkan buah-buahan untuk meningkatkan imunitasnya,” ujar Liferdi melalui keterangan tertulisnya, Kamis (16/4).



Lain halnya dengan beberapa komoditas pertanian di atas, permintaan konsumen di dalam negeri terhadap florikultura cukup terimbas akibat virus Corona. “Terutama bunga dan daun potong karena sifat komoditas ini yang memiliki vaselife (masa kesegaran) terbatas sekitar 2 (dua) minggu,” ungkap Liferdi.

Beberapa petani florikultura mengeluhkan sepinya permintaan bunga seperti yang dialami oleh petani bunga krisan di Kabupaten Cianjur, tambahnya.

Sebagaimana yang diungkapkan Andi Burdah Zawahir, seorang petani krisan sekaligus sebagai ketua kelompok tani Selaawi Mukti di Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur membeberkan bahwa penjualan krisan menurun hampir 100% setelah adanya virus Corona.

“Kebijakan lockdown di beberapa daerah guna menghambat penyebaran virus Corona seperti imbauan stay at home, jaga jarak (social distancing) dan penundaan hajatan seperti pernikahan dan kegiatan lainnya yang biasanya membutuhkan bunga untuk dekorasi sangat bepengaruh terhadap penjualan bunga dan daun potong,” kata dia.

Walaupun demikian, Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur tidak tinggal diam. Ahmad Nano, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur saat dikonfirmasi mengungkapkan guna mengurangi beban kerugian petani bunga potong di Cianjur pihaknya menyelenggarakan bazar bunga.

“Acaranya tanggal 6 April di kantor dinas setempat. Bazar dimaksudkan untuk menyerap produk bunga potong tersebut,” terangnya.

“Pada bazar tersebut terjual krisan hingga 450 ikat dan rencananya kami akan mengadakan bazar serupa jelang akhir bulan Ramadan atau setelah Hari Raya Idul Fitri,” jelas pria yang biasa dipanggil dengan sebutan Nano tersebut.

Nano membeberkan bahwa selain itu, Dinas Pertanian bekerjasama dengan petani/pelaku usaha krisan, Linkers, dan Batalyon Armed 5/105 Tarik. Sinergi tersebut dilakukan terkait pengiriman buket bunga ke RS rujukan Covid-19 sebagai bentuk apresiasi kepada dokter dan tim paramedis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan wabah ini.

Insiatif tersebut sangat diapresiasi oleh Kementan. Liferdi menyampaikan bahwa selain untuk memberikan empati dan motivasi kepada petani yang usahanya sedang terpuruk.

“Kami mengimbau kepada pemerintah daerah lainnya, organisasi atau para dermawan yang peduli mengapresiasi kepada tim medis dan paramedic pejuang Covid-19, dapat melakukan hal yang sama sekaligus dapat membantu petani bunga,” jelas Liferdi.

Di tengah fenomena lesunya pasar florikultura dalam negeri ini, ternyata tidak membuat surut petani krisan untuk tetap menanam krisan meski tidak seluas seperti biasanya. Pasalnya sebagian lahan sementara untuk menanam sayuran yang lebih banyak permintaannya, tambahnya.

Liferdi optimis bahwa pada tiga atau empat bulan kedepan dimana wabah Covid-19 sudah sirna. “Pemintaan bunga diprediksi akan kembali meningkat sebagai akibat banyaknya acara hajatan yang sebelumnya tertunda,” kata Liferdi optimis.

Dia menambahkan, merosotnya pasar fllorikultura di tengah pandemi Covid-19, harus diimbangi dengan upaya-upaya strategis dalam jangka pendek. Sehingga kondisi saat ini tidak menurunkan usaha petani florikultura maupun jangka panjang.

“Agar ketika nantinya badai Corona berlalu, sudah memiliki alternatif yang dapat digunakan untuk menangkal kerugian secara ekonomi,” terangnya.

Lebih detil Liferdi menjelaskan bahwa salah satu solusi yang sebenarnya sudah bisa dilakukan yaitu dengan melakukan modifikasi hasil akhir seperti pengeringan bunga krisan sebagai bahan teh.

“Hanya saja, bunga krisan tersebut harus aman untuk dikonsumsi,” tambah Liferdi.

“Oleh karena itu, kami tidak henti-hentinya selalu mengajak kepada petani krisan dan florikultura lainnya agar menerapkan GAP Florikultura sehingga produk yang dihasilkan terjamin mutu dan keamanan produknya,” pungkasnya.(*)