Ridwan (42), salah satu AWT di Elnusa Petrofin yang bekerja untuk distribusi BBM di wilayah Sulawesi Selatan/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Menerjang Medan Ekstrem, Perjuangan Elnusa Petrofin Wujudkan Energi Berkeadilan di Pelosok Sinjai

Friday, 05 June 2026 | 08:37 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

SINJAI, GOSULSEL.COM – Kabut tipis menyambut perbukitan Manipi, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan ketika raungan mesin truk tangki berkapasitas 8.000 liter memecah keheningan pagi, Rabu 3 Juni 2026.

Truk berwarna merah dan putih milik PT Elnusa Petrofin itu melaju di jalan yang berbatu. Namun tetap berkendara dengan pelan, membiarkan motor mendahuluinya demi keamanan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Lokasi yang dituju adalah SPBU Tassiliu, satu-satunya pengisian bahan bakar umum yang ada di Sinjai Barat. Fasilitas ini juga menjadi urat nadi perekonomian masyarakat yang bergantung pada bahan bakar untuk kendaraan niaga pengangkut hasil panen padi hingga jagung.

PT-Vale

Truk dari PT Elnusa Petrofin semuanya memulai perjalanan dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di Jalan Sabutung, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar. Dari sana, perjalanan sejauh 96 kilometer (km) harus ditempuh menuju SPBU Tassiliu.

“Kalau ke daerah kita satu kali race terus balik lagi,” ucap Ridwan (42), salah satu Awak Medan Tangki (AMT) senior dengan pengalaman selama 15 tahun.

TBBM Elnusa Petrofin di Makassar memiliki 83 truk tangki dengan tiga jenis berdasarkan kapasitas tangki, ada 8.000, 16.000, dan 24.000 liter.

Untuk penyaluran BBM ke daerah pelosok seperti Sinjai Barat, truk tangki yang biasa digunakan adalah kapasitas 8.000 dan 16.000 liter. Sebab ukuran kendaraannya tergolong kecil untuk melewati jalan sempit di pedesaan.

“Kalau jalan poros, kita pakai truk yang 16 roda yang kapasitas 24.000 liter,” lanjutnya.

Kondisi jalanan kecil yang sering menjadi jalur armada truk Elnusa Petrofin di Manipi, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Jalanan menuju Sinjai Barat, selain berbatu, memang dikenal sempit. Meski menjadi jalan penghubung antar Kabupaten Gowa dan Sinjai namun lebar jalan kurang lebih dari 5 meter. Tidak seperti jalan poros pada umumnya seperti Sinjai-Bulukumba atau Sinjai-Bone.

Kondisi jalan yang sempit tersebut hanya memungkinkan dua kendaraan penumpang bisa berkendara pada saat bersamaan. Truk besar tidak boleh asal menerobos sebab berpotensi terjadi gesekan.

Untuk itu, ketika ada kendaraan dari arah berlawanan melaju, para AMT Elnusa Petrofin harus menekan klakson lebih dulu. Tujuannya untuk meminta akses jalan dibuka untuknya lewat.

“Rata-rata begitu, kita dibiarkan jalan dulu kemudian mobil lain,” lanjutnya.

Kontur geografi yang didominasi perbukitan juga membuat perjalanan selalu dibayangi risiko besar. Kepeleset sedikit, truk bisa masuk jurang. Atau ancaman tanah longsor yang mengintai kapan saja ketika hujan deras.

“Kita harus tetap fokus, tidak boleh ada gangguan seperti putar musik,” ucap Ridwan.

Kondisi jalan yang ada juga membuat Ridwan tidak dapat menepi untuk istirahat sejenak. Rehat hanya bisa dilakukan setelah tiba di SPBU Tassiliu sembari pengisian bahan bakar ke tangki pendam.

“Makanya sebelum berangkat, kita dicek dulu stamina dan kesehatannya apakah mampu untuk bekerja,” tutup Ridwan.

Para AMT Elnusa Petrofin adalah gambaran dari pepatah klasik, yaitu biar lambat asal selamat. Sebab bagi mereka, mengantarkan energi hingga beranda terjauh negeri dengan aman adalah hal paling penting.

Energi Berkeadilan, Petani Sejahtera

Mayoritas masyarakat Kecamatan Sinjai Barat khususnya di Desa Gunung Perak dan Barania bekerja sebagai petani. Komoditas yang digarap adalah padi, tomat, hingga wortel.

Berada di dataran tinggi, sebagian besar komoditas memang bisa tumbuh subur karena memiliki tanah gembur dan didukung iklim yang sejuk.

Salah satu petani, Munawir (45) bahkan mengaku dapat panen sebanyak tiga kali setahun untuk padi. Sedangkan wortel, bawang putih, dan tomat bisa lima kali.

“Kalau pun musim kemarau, itu tidak masalah. Kita bisa tetap panen,” ucapnya.

Petani di Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai saat membajak sawahnya beberapa waktu yang lalu/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Namun, tidak ada arti dari hasil panen yang berlimpah tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Alat pertanian dan transportasi menjadi pendukung utama.

Alat pertanian seperti traktor dan mesin panen digunakan selama produksi dan pasca panen. Sementara transportasi semisal truk atau pick up dipakai membawa komoditas itu ke pasar.

“Dua ini harus ada karena sawah yang dikelola juga luas. Memang bisa pakai banyak orang, tapi kadang kita kewalahan,” kata Munawir.

Keduanya juga membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi. Truk dan mesin panen memakai solar sedangkan kendaraan niaga mengonsumsi Pertalite.

Dari Desa Gunung Perak misalnya, bahan bakar harus diambil dari SPBU Tassiliu yang berjarak 33 km. Walau cukup jauh, ketersediaan energi tetap aman. Pengisian bisa dilakukan kapan saja.

“Kalau malam masih ada, biasa untuk persiapan bawa hasil panen ke pasar untuk besok paginya,” tambah Munawir.

Dahulu, dia pernah merasakan masa paceklik dengan stok BBM yang tidak selalu tersedia di SPBU Tassiliu. Dia pun terpaksa harus membeli bahan bakar dari pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Harga sayur tetap sama padahal harusnya dikasih naik juga, jadinya kita selalu rugi,” katanya.

Belum lagi, jika stok dari pengecer kosong. Pengiriman terpaksa ditunda hingga membuat sayuran harus bermalam. “Pembeli biasa menolak kalau sayur sudah tidak segar,” katanya.

Untuk menghindari penolakan, Munawir mengaku harus menjualnya lebih murah. Kalau harga wortel umumnya berkisar Rp7000 sampai Rp13.000, dia menawarkan Rp5.000 per kilogram.

“Daripada tidak laku sama sekali, mending dapat uangnya meski cuma kembali modal,” lanjutnya.

Penggunaan bahan bakar tidak hanya untuk mobil pick up. Traktor untuk pra produksi juga memerlukan solar atau diesel untuk beroperasi. Jika tidak diisi, maka proses pembajakan sawah bisa tertunda.

“Semakin lama, maka lama juga panennya. Bisa-bisa tidak bisa mencapai target tiga kali panen dalam setahun,” tutup Munawir.

Distribusi BBM yang lancar kini membuat petani seperti Munawir tidak lagi susah mencari bahan bakar untuk berbagai kebutuhan pertaniannya. Produktivitas lancar, cuan pun besar.

Pengamat Ekonomi asal Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui melihat perekonomian rakyat di pedesaan sangat bergantung pada energi. Ketika BBM lancar terdistribusi ke SPBU setempat, maka petani dengan lancar mengantarkan hasil panen mereka ke pasar.

Selain itu, petani mendapat harga bahan bakar yang sama dengan di perkotaan. Sebab SPBU menerapkan BBM satu harga sehingga mereka mampu menekan biaya operasional, tidak seperti saat dibeli ke pengecer.

“BBM satu harga di SPBU sangat berarti bagi petani. Maka dari itu, distribusinya ke SPBU harus lancar,” jelasnya.

Komitmen Elnusa Petrofin

Di balik kelancaran pasokan ini, Elnusa Petrofin sangat mengutamakan standar HSSE atau Health, Safety, Security, and Environment dalam operasionalnya.

Hal ini terlihat dari penerapan sistem manajemen terintegrasi seperti ISO 45001 hingga mendapat berbagai penghargaan sebagai perusahaan dengan penerapan HSSE terbaik di Indonesia.

Head Operations Integrated Terminal Makassar PT Elnusa Petrofin, Rahmad Agung Fernandes menjelaskan, penerapan HSSE itu termaktub lewat prosedur ketat untuk AMT selama bertugas.

Prosedur tersebut antara lain, menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu, dan seragam anti api; memastikan kesehatan dan stamina; istirahat wajib setelah empat jam berkendara; batas kecepatan 40 km hingga 60 km/jam; dan fokus mesti 100 persen tanpa ada musik atau hal lain yang dapat menganggu konsentrasi.

“Semuanya harus ditaati. Kalau tidak, kita langsung pecat tanpa SP (Surat Peringatan),” ujarnya.

Armada Elnusa Petrofin juga dilengkapi sistem keamanan canggih. Setiap unit dilengkapi empat kamera pengawas atau CCTV yaitu dua di depan, dan masing-masing satu di sisi kiri dan kanan.

Selain itu, ada deteksi kelelahan (fatigue detection), peringatan jika pengemudi mengantuk atau menguap (yawning detection), pemantauan penggunaan sabuk pengaman (seatbelt detection), serta deteksi perilaku berkendara yang tidak aman, seperti pengereman mendadak atau manuver berisiko.

“Kita juga punya GPS (Global Positioning System) untuk melacak keberadaan armada kami di jalan,” kata Agung.

Ibarat pesawat, di mana ada pilot dan co-pilot, armada Elnusa Petrofin juga diisi dua AMT yang disebut AMT 1 dan AMT 2. Aturan ini wajib dilakukan agar ada pergantian pengemudi ketika sudah merasa lelah.

Kelelahan menjadi faktor utama penyebab kecelakaan karena menurunkan tingkat kewaspadaan selama perjalanan. Ini bahkan sudah dibuktikan melalui beberapa jurnal, salah satunya yang diterbitkan Universitas Binawan (2019) dan Universitas Dehansen Bengkulu (2023).

“Kalau capek atau sudah masuk 200 km harus diganti. Kalau tidak, ketahuan di CCTV,” lanjut Agung.

Di sisi lain, dia juga mengatakan bahwa kesejahteraan AMT juga terus diperhatikan. Untuk itu, Elnusa Petrofin memberikan uang ritasi, tunjangan yang dihitung berdasarkan jumlah rit atau perjalanan pengiriman.

“Ini di luar gaji pokok mereka dan sudah ada ketentuannya,” kata Ridwan.

Memasuki usia ke-30 tahun, Elnusa Petrofin terus konsisten menerapkan HSSE tersebut. Dengan mengusung tema ‘Connecting Your Energy’, anak usaha PT Elnusa Tbk itu berkomitmen mengantarkan energi hingga ke pelosok untuk membawa banyak manfaat bagi masyarakat.

“Kami berupaya menyalurkan distribusi BBM dengan aman yang didukung para AMT yang sudah berpengalaman,” tukas Agung. (*)