Transformasi Pasar Sentral Malino, Transaksi Beralih ke QRIS BRI
GOWA, GOSULSEL.COM – Pasar tradisional mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi saat ini. Transaksi kini sudah dapat dilakukan secara digital alias non tunai atau cashless melalui QRIS.
Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS sendiri adalah standar kode QR yang dipakai sebagai sistem pembayaran non tunai atau cashless. Metode ini diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019 lalu.
Pembayaran non tunai itu bisa dijumpai di Pasar Sentral Malino yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Pasar ini menjadi satu-satunya pusat perdagangan di Malino dan kecamatan sekitarnya, seperti Tombolo Pao dan Parigi. Semua kebutuhan harian pun ada di sana.
Dari los depan sampai belakang, pedagang pasar terlihat memajang QRIS-nya sebagai alat bayar bagi masyarakat selain uang tunai. Terlebih, Malino yang dikenal sebagai tempat wisata favorit memudahkan wisatawan untuk belanja oleh-oleh di sana, seperti markisa, tengteng, hingga strawberry.
Salah satu pedagang pasar, Muhaimin (38) mengaku beralih ke QRIS lantaran permintaan metode pembayaran ini semakin meningkat. Sebagai nasabah BRI, dia memasang QRIS dari aplikasi BRImo miliknya.
“Sering ditanya, bisa pakai QRIS?. Sayangnya kalau tidak bisa dia biasa beralih ke lapak lain,” ucapnya, Kamis (4/6/2026).
Dia mengaku punya pilihan pembayaran via transfer ke BRI. Masalahnya, pelanggan sering mengeluhkan biaya admin antar bank.
Dengan begitu, Muhaimin pun mulai memasang QRIS BRI pada awal tahun 2025. Hingga kini, volume transaksi melalui digitalisasi itu sudah hampir setara dengan uang tunai.
“Paling banyak wisatawan yang mau beli oleh-oleh itu pakainya QRIS,” lanjutnya.
Sementara itu pedagang lainnya, Daeng Gassing (52) masih baru menggunakan QRIS dari BRI sebagai alat pembayarannya. Dulu, dia hanya mengandalkan uang tunai seiring kurangnya pemahaman soal transaksi digital.
“Karena saya tidak tahu, maunya uang tunai saja,” katanya.
Namun seiring berjalannya waktu, animo masyarakat dan wisatawan yang bertransaksi via QRIS semakin meningkat. Dia lantas meminta kepada anaknya untuk diajar memanfaatkan alat bayar non tunai itu.
“Saya diminta anakku download dulu BRImo karena saya nasabah BRI. Di sana itu, ada QRIS-nya yang bisa dipasang nanti,” jelasnya.
Menurut Daeng Gassing, penggunaan QRIS gampang dan aman. Dengan dukungan jaringan internet di Malino yang stabil, masyarakat, wisatawan, maupun pedagang mudah bertransaksi digital.
“Sekarang jaringan disini lancar, jadi kalau bayar pakai QRIS sudah bisa. Pedagang lain juga begitu,” tukasnya.
Suasana Pasar Sentral Malin di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa/IST
QRIS dari BRI bisa diakses melalui aplikasi BRImo yang diluncurkan pada 27 Februari 2019 sebagai bagian dari strategi transformasi bank terbesar di Indonesia itu mempermudah transaksi nasabah.
Selain itu, merchant juga dilengkapi EDC atau Electronic Data Capture, yaitu mesin pembayaran non tunai dari pelanggan secara cepat, aman, dan real-time. Mesin ini terhubung ke jaringan bank untuk memproses transaksi kartu debit, kartu kredit, uang elektronik, hingga QRIS.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menyampaikan, BRImo tidak hanya menawarkan transaksi cepat dan praktis. Tingkat keamanannya juga tinggi.
“Jadi ini yang kita dorong ke masyarakat untuk cashless. Karena memang salah satu tugas kita di inklusi itu kan bagaimana meminimalisir atau menekan cashless,” katanya.
Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, BRI juga terus mendorong nasabah untuk memanfaatkan aplikasi tersebut. Salah satunya dengan cara edukasi.
Di samping itu, merchant juga diharap memasang QRIS dan menggunakannya sebagai alat pembayaran non tunai ketika nasabah BRI bertransaksi via BRImo.
“Kami minta mereka pasang QRIS di situ sambil ada upaya edukasi,” lanjut Iwan.
Sementara Regional Chief Executive Officer BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo mengungkapkan, aplikasi BRImo mengalami pertumbuhan positif dengan jumlah pengguna yang meningkat setiap tahunnya. Hal ini sekaligus membuktikan nasabah sudah bergantung pada transaksi digital ketimbang harus ke bank.
“Dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” tutup Argo. (*)