#TRENDING

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Konlik Timur Tengah

Wednesday, 05 August 2026 | 22:03 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

JAKARTA, GOSULSEL.COM – Otoritas Jasa  Keuangan (OJK) memastikan kinerja sektor jasa keuangan terjaga stabil meski masih terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong melonjaknya harga minyak dunia.

“Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menyusul gagalnya genjatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di awal Juli lalu,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi saat konferensi pers RDKB Juli 2026, Selasa (4/8/2026).

Kiki–sapaan akrab Frederica juga mengatakan bahwa Dana Moneter internasional (IMF) pada Juli 2026 merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen tahun ini, sebagai dampak perang yang berkepanjangan.

PT-Vale

“Namun, perkembangan investasi AI (Artificial Intelligence) menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global,” tambahnya.

Di sisi lain, ungkap Kiki, Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang untuk menggantikan tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli 2026. 

“Melonjaknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut,” lanjut Kiki.

Lebih jauh, Kiki menjelaskan, indikator perekonomian global mengalami divergensi antara negara dan aktivitas manufaktur di negara maju menunjukkan perbaikan lebih kuat. Sementara pertumbuhan manufaktur di negara berkembang relatif terbatas.

Di AS, inflasi termoderasi terbatas dengan aktivitas ekonomi relatif stabil. Semenara pertumbuhan ekonomi di Tiongkok pada kuartal II 2026 menunjukkan level terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah, namun ekspor tetap menjadi penopang utama. Selain itu, di Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan.

“Pasar keuangan global bergerak mix di tengah kembali tereskalasi konflik di Timur Tengah. Outflow non-residen di pasar keuangan global kembali terjadi meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi,” ungkapnya.

Dari domestik, kata Kiki, tekanan harga mereda dengan inflasi pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen yoy. Permintaan menunjukkan pola konsumsi kelompok memengah atas tetap solid. “Sementara aktivitas manufaktur di Juli 2026 kembali memasuki zona ekspansi,” tandasnya. (*)


Tags: