Haeruddin saat meneteskan matanya dengan Insto Dry Eyes, Kamis (8/1/2026)/FOTO: AGUNG EKA/GOSULSEL
Haeruddin saat meneteskan matanya dengan Insto Dry Eyes, Kamis (8/1/2026)/FOTO: AGUNG EKA/GOSULSEL

Melihat Harapan di Setiap Kilometer dengan Bebas Mata SePeLe

Thursday, 15 January 2026 | 11:58 Wita - Editor: Agung Eka -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Di parkiran salah satu toko kue di Jalan Toddopuli Raya Timur, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (8/1/2026), seorang pengendara ojek online terlihat duduk sembari melihat ponselnya.

Namanya Haeruddin (46), dia baru saja duduk setelah menyelesaikan lima orderannya dari pukul 07.00 WITA pagi.  Pesanan paling jauh hari itu adalah ke Kelurahan Barombong, salah satu wilayah perbatasan dengan Kabupaten Takalar, jaraknya sekitar 20 kilometer dari Jalan Toddopoli Raya Timur.

Haeruddin bermaksud untuk beristirahat sembari menunggu orderan selanjutnya di pakiran itu. Dengan menggunakan jaketnya sebagai bantalan, dia mencoba tidur sejenak di saat suasana toko kue tersebut masih sepi.

PT-Vale

Sudah lima tahun, Haeruddin menjadi pengendara ojek online setelah kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di kantornya. Kini, dia harus menafkahi sang istri dan dua anaknya yang masih bersekolah dengan mengaspal di jalan.

“Setelah di PHK saya bingung mau kerja apa, dengan tamatan SMA, sangat susah cari kerjaan,” ujarnya, Rabu (17/1/2026).

Setelah rehat sejenak, sejam kemudian, dia kembali mendapatkan orderan untuk mengantar makanan. Dia mengaku senang sebab delapan orderan yang ditargetkan bisa cepat terpenuhi lalu pulang untuk makan malam bersama keluarga.

Haeruddin tidak langsung ke motornya. Dari kantong jaketnya, dia mengeluarkan Insto Dry Eyes, obat tetes mata kering yang sudah dipakainya sejak setahun belakangan.

“Karena kalau di jalan, biasa mata kering jadinya pakai in,” ucap pria asal Kabupaten Gowa itu.

Dengan Insto Dry Eyes, Haeruddin bisa merasa lega setiap kali berkendara. Tanpa gangguan mata kering, dia siap memberikan pelayanan terbaik kepada setiap konsumennya.

Bebas Mata SePeLe, Pakai Insto Dry Eyes

Haeruddin dulunya menganggap SePeLe penyakit mata kering. Jika terasa perih, ia mengaku hanya mengucek mata atau melakukan cuci muka ketimbang harus membeli obat tetes mata.

“Mungkin karena saya anggap dengan cuci muka masih bisa sembuh cepat,” katanya.

Setelah menjadi pengendara ojek online, matanya mulai terasa perih hingga membuatnya tidak nyaman untuk berkendara.

Mengucek mata hingga cuci muka sering dilakukan namun tak kunjung reda. Dia tak pernah berpikir bahwa kondisi mata kering, sepet, perih, dan lelah bisa berdampak lebih jauh pada aktivitasnya.

Haeruddin saat memperlihatkan Insto Dry Eyes miliknya, Kamis (8/1/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Hingga akhirnya dia mencoba Insto Dry Eyes setelah direkomendasikan oleh temannya yang juga dokter.

“Temanku bilang pakai saja obat tetes mata karena itu mata kering jadinya perih,” ucap Haeruddin.

Haeruddin sudah menggunakan Insto Dry Eyes selama setahun. Setiap hari, sebelum menerima orderan pertama hingga rehat, dia mengaku tidak lupa meneteskan obat tersebut untuk mencegah mata kering selama berkendara.

“Sekarang sudah tidak ada keluhan. Yah paling sekarang keluhannya karena orderan kadang sedikit kadang banyak,” tutupnya.

Mata, Modal Utama di Jalan

Bagi pengendara ojek online seperti Haeruddin, menjaga penglihatan adalah modal terpenting. Dia harus jeli membaca kondisi lalu lintas, melihat rambu, memperhatikan pejalan kaki, dan memastikan arah di ponsel tidak salah. Sedikit saja konsentrasi menurun, risikonya bisa fatal.

Namun ironisnya, kesehatan mata sering kali luput dari perhatian. Fokus Haeruddin lebih banyak tercurah pada target harian, waktu tempuh, dan jumlah order.

“Paling banyak bekerja itu mata karena harus tetap fokus terus selama ambil orderan,” katanya.

Haeruddin masih ingat saat pertama kali matanya mulai kering. Dia mengalami mata sepet, perih, dan lelah. Semua gejala tersebut merupakan tanda mata kering dilansir dari berbagai situs rumah sakit.

Lebih jauh, dia mengecek penyebabnya. Ada pengaruh layar ponsel, debu, sampai asap rokok. “Dan itu semua berkaitan dengan pekerjaan saya jadi susah dihindari,” kata Haeruddin.

Perih pun tak terhindakan. Selama menerima orderan, dia hanya mengucek mata atau cuci muka di masjid atau di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menghilangkan rasa perih tersebut. Saat itu, menurutnya, gejala ini akan hilang dengan sendirinya.

Perlahan, dia baru paham jika perih di matanya cuma hilang sementara. Besoknya, gejala ini akan kembali muncul sebab tidak ditangani secara medis. Untuk itu, dia pun menggunakan Insto Dry Eyes, obat tetes mata kering andalannya saat ini.

“Itu hari memang saya tanya temanku yang dokter, kenapa tidak hilang ini perihnya. Setelah di cek, katanya mata kering,” jelasnya.

Haeruddin pun menyadari bahwa mata adalah modal utamanya dalam bekerja. Apalagi di usianya yang sudah tidak muda, menjaga panca indra merupakan hal paling penting.

Selain itu, dengan mata, dia bisa melihat harapan di setiap kilometer perjalanannya sebagai pengendara ojek online untuk memberikan kebahagiaan kepada keluarga kecilnya.

“Jika mata sudah mengalami gangguan terus-menerus, mau jadi apa saya nanti. Masa usia masih dibilang muda sudah punya gejala berat,” lanjutnya.

Perubahan Kecil di Tengah Rutinitas Besar

Haeruddin tidak langsung memakai Insto Dry Eyes setelah tahu matanya kering. Untuk gejala kecil, dia mengaku hanya mengandalkan perawatan sederhana daripada membeli obat.

“Uang lagi kalau beli obat, padahal uangnya bisa saya pakai untuk beli kebutuhan lain,” katanya.

Kebiasaannya memakai Insto Dry Eyes baru dilakukan ketika matanya terus perih. Dia pun merasa lelah jika terus-menerus mengucek mata di tengah berkendara, apalagi jika harus singgah di SPBU.

Insto Dry Eyes pun menjadi bagian dari perlengkapan kecil yang selalu ia bawa di jaketnya, berdampingan dengan jas hujan dan botol minum. Baginya, tetes mata bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bentuk kepedulian pada diri sendiri.

“Kerja bisa lanjut, tapi mata harus dijaga,” tutup Haeruddin.

Kampanye Insto Dry Eyes Demi Bebas Mata SePeLe

Prevalensi mata kering atau dry eye syndrome ternyata cukup signifikan di Indonesia. Setidaknya ada 41% di Jakarta dan Bandung, rata-rata dari mereka juga tidak menyadarinya.

Demikian juga di Makassar. Prevalensi mata kering tercatat 30 persen ketika dilakukan studi di sebuah rumah sakit swasta, gejalanya terjadi pada tenaga medis yang disebabkan pengaruh layar ponsel.

Dengan makin maraknya pekerjaan yang bergantung pada ponsel seperti ojek online dan tenaga medis, Insto memberikan solusi mencegah mata kering melalui Insto Dry Eyes.

Combiphar melalui merek Insto menghadirkan kampanye buat Insto Dry Eyes yaitu “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini mengajak masyarakat mengenali tiga gejala mata kering yang sering disepelekan, yakni mata SEpet, PErih, dan LElah atau disingkat SePeLe.

Diskusi Bebas Mata SePeLe dari Insto Dry Eyes di Jakarta beberapa waktu yang lalu/FOTO: IST

Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, menegaskan kampanye ini lahir dari komitmen jangka panjang Insto terhadap kesehatan mata masyarakat Indonesia.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun, Insto berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat. Rendahnya pemahaman tentang mata kering mendorong kami menghadirkan kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’ agar gejala awal bisa dikenali dan ditangani sejak dini,” ujarnya melalui keterangan resminya di Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Farah Feddia selaku GM Eye Care Combiphar juga menyampaikan bahwa berbagai riset internal menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Empat dari sepuluh orang mengalami mata kering, namun separuhnya tidak menyadari kondisi tersebut.

“Melalui kampanye Bebas Mata SePeLe, INSTO Dry Eyes hadir sebagai solusi yang relevan agar masyarakat tetap produktif dan mampu menjaga kualitas hidup,” jelas Farah.

Rendahnya kesadaran ini berpotensi memperparah kondisi mata kering. Gejala awal seperti sepet, perih, dan mata cepat lelah sering dianggap SePeLe, padahal jika dibiarkan, gangguan tersebut dapat mengganggu konsentrasi, produktivitas, bahkan kualitas hidup jangka panjang.

Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dalam kondisi mata kering yang sudah cukup berat.

“Sebagian besar pasien baru datang saat kondisinya parah. Padahal gejala awal sudah muncul sejak lama. Jika ditangani sejak dini, mata kering dapat dicegah agar tidak berkembang,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa penanganan mata kering bersifat individual. Tatalaksana bisa berupa kompres hangat, latihan berkedip, kebersihan kelopak mata, pemberian artificial tears, hingga suplementasi omega-3. Pada kondisi tertentu, tindakan medis lanjutan bahkan dapat dilakukan.

Sebagai solusi praktis, Insto Dry Eyes diformulasikan khusus dengan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC). Kandungan ini berfungsi sebagai pelumas yang menyerupai air mata alami dan telah diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) ke WHO sebagai panduan terapi mata kering. Produk ini hadir dalam kemasan 7,5 ml yang praktis dan mudah dibawa.

Insto Dry Eyes telah tersedia di apotik dan toko obat yang tersebar di seluruh Indonesia. Harganya pun terjangkau, yaitu Rp18.000 di salah satu apotik di Makassar. (*)