UMI Kembali Cetak Dua Guru Besar, Kini Punya 177 Profesor 

Thursday, 05 March 2026 | 20:54 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus mencetak guru besar. Terbaru, dua profesor dikukuhkan di Auditorium Aljibra UMI, Kamis (5/3/2026).

Adapun dua akademisi yang dikukuhkan sebagai guru besar adalah Prof. Dr. Amir Mahmud (Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis) serta Prof. Dr. Adnan Lira (Bidang hukum agraria dan tata ruang).

Dengan tambahan tersebut, UMI telah memiliki mencapai 117 orang hingga Maret 2026. Penambahan ini sekaligus memperkuat posisi UMI sebagai salah satu perguruan tinggi dengan jumlah profesor yang terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

PT-Vale

Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prof. Amir Mahmud memaparkan penelitian berjudul “Green Marketing dalam Perspektif Global dan Berkelanjutan.”

Ia menekankan bahwa konsep green marketing menjadi jawaban atas perubahan perilaku konsumen di era modern yang semakin peduli terhadap isu lingkungan

“Green marketing tidak semata strategi pemasaran, tetapi juga investasi jangka panjang bagi perusahaan,” ucapnya.

Selain menjaga kelestarian bumi, pendekatan ini mampu memenangkan kepercayaan konsumen generasi masa depan yang semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan.

Sementara itu, Guru Besar Bidang hukum agraria dan tata ruang, Prof. H. M. Adnan Lira mengangkat penelitian berjudul “Menata Keadilan Ruang: Integrasi Hak atas Tanah dan Zonasi Ruang di Indonesia.

Dalam kajiannya, ia menyoroti persoalan konflik pertanahan yang masih sering terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, konflik tetap berulang meski program sertifikasi tanah terus dipercepat dan regulasi tata ruang semakin rinci.

“Di sisi lain, agenda investasi yang berkembang pesat di sejumlah wilayah juga kerap memicu ketegangan antara kepentingan pembangunan dan hak masyarakat,” ucapnya.

Ia menilai bahwa kepastian hukum pertanahan tidak boleh hanya dimaknai sebagai kepastian dokumen semata. Kepastian tersebut juga harus mencakup kepastian dalam pemanfaatan ruang sehingga tidak menimbulkan konflik baru di masyarakat.

Ketua Dewan Profesor UMI, Prof. Mansyur Ramly, menyampaikan bahwa hingga Maret 2026 jumlah guru besar UMI telah mencapai 117 orang.

Menurutnya, capaian ini menjadi indikator kuatnya tradisi akademik yang terus dibangun di lingkungan kampus.

Kehadiran profesor baru diharapkan dapat memperkuat kontribusi keilmuan serta memperluas pengaruh penelitian UMI dalam menjawab persoalan masyarakat,” ucapnya.

Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menilai bahwa pengukuhan guru besar merupakan momen strategis dalam perjalanan intelektual seorang akademisi sekaligus kontribusi penting bagi peradaban.

Ia menyoroti kondisi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik hingga krisis energi dan pangan. Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk melahirkan pemikir yang mampu memberikan solusi bagi bangsa.

“Kehadiran para profesor baru menunjukkan komitmen UMI dalam membangun tradisi akademik yang kuat sekaligus melahirkan pakar yang mampu memperkuat ketahanan bangsa melalui keilmuan,” ucapnya.

Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Dr. Andi Lukman, menegaskan Angka tersebut setara dengan sekitar 44 persen dari total 226 guru besar yang ada di wilayah kerja LLDIKTI IX Sultanbatara.

Ia berharap para guru besar tidak hanya menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, tetapi juga membimbing generasi dosen muda, menjaga integritas akademik, serta menjadi teladan moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

“Dengan bertambahnya dua profesor baru ini, UMI diharapkan semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, serta pembangunan masyarakat berbasis keilmuan di tingkat nasional maupun global,” ucapnya. (*)