Warisan Pena dan Keberanian: “Bom Spirit” Kartini ala Koordinator PKH Maros di Pelosok Bontoa

Friday, 24 April 2026 | 22:59 Wita - Editor: A Nita Purnama - Reporter: Muhammad Yusuf

MAROS, GOSULSEL.COM — Lebih dari seabad lalu, Raden Ajeng Kartini menggoreskan pena untuk melawan kegelapan. Hari ini, semangat itu tidak hanya dikenang, tetapi “diledakkan” kembali di jantung Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros oleh Koordinator Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Maros.

Bukan sekadar perayaan seremonial, peringatan Hari Kartini kali ini menjadi momentum penyaluran “Bom Spirit Kartini” bagi para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH dan ASN Kemensos. Pesannya tegas: Melawan kemiskinan tidak cukup dengan bantuan materi, tapi harus dengan senjata yang jauh lebih ampuh, yaitu pendidikan.

Dalam orasinya di hadapan para perempuan Bontoa, Koordinator PKH Maros menekankan bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah peta jalan keluar dari jerat kemiskinan.

PT-Vale

“Jika Kartini hidup hari ini, ia pasti berdiri di pojok desa, memastikan tidak ada lagi anak yang putus sekolah hanya karena miskin. Kartini percaya bahwa kebodohan adalah saudara kembar kemiskinan. Maka, cara terbaik menghormati Kartini adalah dengan memastikan pena dan buku sampai ke tangan anak-anak kita,” tegasnya.

Filosofi Kartini yang diusung dalam kegiatan ini sangat mendalam: Bodoh = Miskin = Tertindas. Untuk memutus siklus ini, akses ilmu harus dibuka lebar, dan celah kemiskinan harus ditutup rapat lewat sekolah.

Bagi PKH Maros, setiap anak yang tetap bersekolah adalah satu langkah keluarga menuju kesejahteraan. Pendidikan adalah cahaya yang akan mengangkat derajat perempuan dan mengubah masa depan bangsa dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Pena vs Kemiskinan: Satu anak sekolah, satu keluarga mandiri. Hak yang Sama: Anak perempuan di pojok desa harus punya hak bermimpi yang sama dengan mereka di kota. Merdeka lewat Ilmu: Menjadi “Kartini Masa Kini” berarti berani membuka akses ilmu bagi kelompok rentan.

Peringatan ini ditutup dengan penguatan komitmen para ASN Kemensos dan pendamping PKH untuk terus menjadi garda terdepan dalam memajukan pendidikan bagi kelompok rentan. 

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, melainkan bangsa yang tidak membiarkan kemiskinan merampas hak dasar seorang anak untuk belajar dan bertumbuh.

“Habis Gelap Terbitlah Terang, Habis Miskin Terbitlah Cerdas!” (*)