Lombok Kuning Simpati, UMKM Binaan BRI Jadi Jawara Sambal Kemasan di Makassar
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Di tengah menjamurnya berbagai merek sambal kemasan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Lombok Kuning Simpati terus eksis bahkan memperluas pasarnya.
Berdiri sejak tahun 1998, cita rasa Lombok Kuning Simpati tetap autentik. Berawal dari jualan bakmi, pengunjung ternyata lebih kepincut dengan sambalnya, hingga kemudian dijual terpisah dengan merek berbeda.
Berkat cita rasa yang sama itulah membuat Lombok Kuning Simpati masih disukai warga Makassar dan wisatawan. Saking eksisnya, bahkan sambal kuning apapun tetap disebut Simpati.
Adapun pemiliknya, Ridwan Wahyudi Chandra (45) merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarga ini. Belajar dari sang ayah, dia berupaya mempertahankan cita rasa sambalnya tanpa menggunakan bahan pengawet atau pewarna.
Bahan baku utamanya adalah lombok jenis Cakra yang diambil dari Kabupaten Takalar, Jeneponto, dan Enrekang. Lombok ini dipilih karena memiliki rasa pedas optimal.
“Semua cabai lokal. Kita di sini 100% cabai, lombok. Jadi tanpa campuran wortel atau singkong juga,” katanya saat di wawancarai di rumah produksinya, Jalan Sulawesi Nomor 204, Kelurahan Melayu Baru, Kecamatan Wajo, Kota Makassar pada Minggu (3/5/2026).
Pengolahannya pun dilakukan secara hati-hati. Cabai tidak langsung di giling namun dimasak terlebih dahulu hingga layu. Setelah itu, baru di giling kasar dengan memasukkan bawang putih.
“Kemudian setelah giling kasar, masuk ke giling halus. Setelah giling halus, masuk ke mesin campur. Setelah mesin campur diendapkan 2 hari, 2-3 hari baru nanti diisi,” jelasnya.
Ridwan mengaku dapat memproduksi 1.800 botol berukuran 140 mililiter dari 150 kilogram cabai per hari. Jumlah tersebut telah disesuaikan dengan banyaknya permintaan pembeli langsung, retail modern, hingga ekspor ke Selandia Baru dan Jepang.
“Untuk New Zealand (Selandia Baru) sudah rutin dua atau tiga bulan sekali itu dua sampai tiga karton sekitar 120-180 pcs,” lanjut Ridwan.
Bagi Ridwan, tidak mudah mencapai kesuksesan tersebut. Usahanya telah melewati pasang surut. Dukungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun menjadi salah satu momentumnya untuk terus bertumbuh.
Lombok Kuning Simpati mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp250 juta. Dengan suntikan modal, usahanya semakin berkembang hingga bisa memproduksi dalam skala banyak dan memperkuat program digitalisasinya.
Istri dari Ridwan, Meliana (40) menjelaskan jika KUR tersebut didapat ketika pandemi Covid-19 merebak. Tidak sulit mendapat fasilitas tersebut lantaran Lombok Kuning Simpati sudah jadi mitra binaan BRI sejak tahun 2018.
“Transaksi kita sehari-hari pakai BRI. Jadi lebih mudah, lebih gampang, nggak ribetlah istilahnya,” jelasnya.
Belum lagi, lanjut dia, bunga KUR sangat rendah yaitu 6 persen. Sehingga, pembayaran setiap bulannya tidak memberatkan jadi dapat fokus untuk pengembangan usaha.
“Kalau dilihat ini yang paling ringan,” ucap Meliana.
Seiring perkembangan teknologi yang pesat, Lombok Kuning Simpati didukung BRI telah menerapkan digitalisasi baik pada pemasaran produk sampai pembayaran via QRIS. Hasilnya, omzet pun meningkat 80 persen.
“Untuk QRIS, sudah sekitar 3 tahunan dari awal ada QRIS sudah masuk di sini langsung BRI nawarin,” tandas Meliana.
Dukungan BRI terhadap UMKM terus dilakukan. Melalui Rumah BUMN, pihaknya menghadirkan BRIncubator, yaitu program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM kategori food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft yang telah terkurasi dengan berorientasi pada peningkatan kapasitas serta kapabilitas pelaku UMKM binaan BRI sehingga tervalidasi ekspor.
Leader Project Rumah BUMN BRI Makassar, Ayu Anisela mengatakan, program pendampingan itu diperuntukkan untuk seluruh UMKM baru. Setiap batch memfasilitas 25 pelaku usaha dari hasil seleksi dari BRI pusat.
“Sebenarnya suah dibuka pendaftarannya per 1 April kemarin. Untuk pendaftar sekarang itu kalau yang saya cek ada sekitar baru 20-an,” jelasnya.
Ayu menyebut, UMKM yang sudah masuk pada program BRIncubator akan didampingi sampai benar-benar berkembang. Untuk itu, ada banyak materi yang diberikan hingga di fasilitasi pameran atau bazar.
“BRIncubator lokal itu selalu sama ji kurikulumnya, seperti mindset berwirausaha, manajemen keuangan, manajemen operasionalnya,” katanya.
BRI juga memfasilitasi penyaluran KUR bagi UMKM yang masuk pada program BRIncubator. Namun, survei dan penilaian akan dilakukan BRI Regional Office (RO) Makassar.
“Kita hanya memfasilitasi UMKM mana yang punya potensi untuk dapat KUR,” lanjut Ayu.
Adapun Lombok Kuning Simpati adalah UMKM BRILian, yaitu program lanjutan yang digelar secara komprehensif untuk mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah tumbuh, naik kelas, dan mendunia melalui pendampingan, pemberian KUR, klaster usaha, dan digitalisasi.
“Jadi dia skalanya sudah masuk ke potensi untuk ekspor,” lanjut Ayu.
Dia mengajak UMKM baru maupun yang berniat buka usaha untuk ikut dalam program BRIncubator ini yang dibuka setiap empat bulan. Pendampingan intensif akan didapat termasuk fasilitas KUR hingga digitalisasi.
“Kalau yang baru mau buka itu syaratnya punya rekening bank BRI yang sudah memiliki QRIS,” tutupnya. (*)