Nawacita 177 Pimpinan Menuju Transformasi Kampus Melalui UMI Connection pada 2030
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Universitas Muslim Indonesia (UMI) resmi menggelar UMI Executive Strategic Summit (UMI ESS) 2026 sebagai forum strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan langkah, dan merumuskan kebijakan prioritas dalam mempercepat transformasi institusi menuju UMI 2030.
Mengusung tema “Transformasi Menyeluruh Menuju UMI 2030: “Satu Data, Satu Arah, Satu Kecepatan, Satu Peradaban”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 1–2 Agustus 2026, di Auditorium Al Jibra UMI.
Sebanyak 177 peserta mengikuti forum tersebut, terdiri atas para Wakil Rektor, Direktur Program Pascasarjana, Dekan dan Wakil Dekan, Ketua Lembaga, Direktur Rumah Sakit, Direktur Pesantren, Kepala Biro, Kepala UPT, hingga Ketua Program Studi dalam lingkup Universitas Muslim Indonesia.
Turut hadir sebagai narasumber CEO Tribun Networks, Dahlan Dahi, yang berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan, transformasi organisasi, dan kemampuan membaca perubahan di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Peserta juga mendapatkan arahan dari Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, serta Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX (Sultanbatara) Dr. Andi Lukman, M.Si.
Ketua Panitia UMI Executive Strategic Summit 2026, Prof. Dr. Ir. H. Dirgahayu A. Lantara, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa UMI ESS bukan sekadar perubahan nama dari rapat kerja tahunan, melainkan perubahan cara berpikir dalam menyusun kebijakan dan program strategis universitas.
Menurutnya, apabila penyusunan daftar kegiatan dapat dilakukan di setiap unit, maka pertemuan seluruh pimpinan UMI harus menghasilkan kesamaan arah, data, prioritas, serta kecepatan dalam bekerja.
“Kalau selama ini yang dibahas hanya program kerja, kini pertanyaannya harus naik kelas. Bukan lagi apa kegiatan yang akan dibuat, tetapi masalah apa yang harus kita selesaikan, siapa yang mengerjakan, kapan selesai, dan apa manfaatnya bagi UMI,” ujar Prof. Dirgahayu.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan UMI ESS sengaja dirancang secara ringkas, efektif, dan efisien agar seluruh waktu dapat difokuskan pada pembahasan substansi dan pengambilan keputusan.
“Kegiatannya boleh ringkas, tetapi keputusannya harus besar. Sederhana dalam pelaksanaan, tetapi luar biasa dalam hasil,” tegasnya.
Kehadiran hampir seluruh unsur pengambil keputusan UMI dalam satu forum, lanjut Prof. Dirgahayu, menjadi modal penting agar setiap hasil pembahasan menjadi komitmen bersama dan dapat dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh unit.
“Artinya, hampir seluruh orang yang dapat mengambil keputusan di UMI berada di ruangan ini. Setelah kegiatan ini, tidak boleh lagi ada alasan bahwa suatu unit tidak mengetahui atau tidak dilibatkan,” katanya.
Sementara itu, Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., dalam pidato pembukaannya menegaskan bahwa forum tersebut bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi momentum untuk mengubah paradigma dalam menentukan arah perjalanan universitas.
“Kalau selama ini rapat sering berhenti pada daftar program, maka forum ini harus melahirkan arah, keputusan, dan komitmen yang benar-benar dijalankan. Program baru dianggap selesai ketika manfaatnya dirasakan oleh mahasiswa dan masyarakat,” tegas Prof. Hambali.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan banyak kegiatan dan dokumen. Setiap kebijakan dan program harus mampu menjawab persoalan nyata serta menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh sivitas akademika dan masyarakat.
“Yang kita bangun bukan sekadar program kerja, tetapi jejak perubahan. Masyarakat tidak pernah menghitung berapa kali kita rapat atau berapa halaman Renstra yang kita miliki. Yang mereka rasakan adalah apakah UMI membuat urusan mereka lebih mudah, lebih cepat, dan lebih baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor memperkenalkan gagasan UMI Connection sebagai budaya baru dalam tata kelola universitas. Menurutnya, UMI Connection bukan hanya sistem digital, aplikasi, atau kumpulan data, tetapi cara baru UMI berpikir, bekerja, mengambil keputusan, dan melayani sebagai satu kesatuan.
“UMI Connection adalah cara baru Universitas Muslim Indonesia berpikir, bekerja, dan melayani sebagai satu kesatuan. Semangatnya adalah ‘Satu Pikiran, Satu Data, Satu Langkah, Satu Manfaat’,” ungkapnya.
Prof. Hambali juga mengajak seluruh pimpinan melakukan empat perubahan besar, yakni mengubah cara berpikir, cara bekerja, cara bertindak, dan cara melayani.
Perubahan cara berpikir dimulai dengan menyusun program berdasarkan persoalan yang dihadapi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat. Perubahan cara bekerja dilakukan melalui penguatan kolaborasi lintas unit. Adapun perubahan cara bertindak diwujudkan dengan menjadikan program sebagai solusi, sementara perubahan cara melayani diarahkan pada penyederhanaan birokrasi dan peningkatan kemudahan pelayanan.
“Program kerja bukan daftar kegiatan. Program kerja adalah daftar solusi. Ukuran keberhasilan bukan lagi banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi banyaknya perubahan yang benar-benar dirasakan,” katanya.
Rektor turut menyoroti pentingnya reformasi birokrasi dan penguatan pelayanan berbasis digital. Menurutnya, seluruh sistem di lingkungan UMI harus mampu memudahkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
“Mahasiswa datang bukan untuk mengurus birokrasi, tetapi membangun masa depannya. Kalau ada mahasiswa yang harus datang berkali-kali hanya untuk satu pelayanan, berarti yang harus kita perbaiki bukan mahasiswanya, tetapi sistem kita,” tegasnya.
Setelah mendapatkan materi dan arahan strategis, para peserta dibagi ke dalam lima sidang komisi, yakni Komisi Akademik; Komisi Administrasi Umum, Keuangan, dan Ketenagaan; Komisi Kemahasiswaan dan Alumni; Komisi Tata Kelola Kampus Islami; serta Komisi Kerja Sama dan Promosi.
Setiap komisi diarahkan untuk menyusun program prioritas yang penting, realistis, terukur, dan dapat dilaksanakan. Hasil pembahasan kemudian dibawa ke sidang pleno untuk menetapkan program prioritas, kebutuhan anggaran, penanggung jawab, target waktu, indikator keberhasilan, serta mekanisme pemantauan.
Di akhir pidatonya, Rektor UMI mengajak seluruh peserta menjadikan UMI ESS 2026 sebagai titik awal lahirnya budaya kerja baru yang lebih kolaboratif, berbasis data, adaptif terhadap perubahan, dan berorientasi pada manfaat.
“Setiap program yang kita susun harus menjawab persoalan. Setiap rupiah yang kita anggarkan harus menghasilkan manfaat. Setiap keputusan yang kita ambil harus didasarkan pada data. Dan setiap pelayanan yang kita berikan harus memudahkan, bukan menyulitkan,” tuturnya.
Melalui UMI Executive Strategic Summit 2026, Universitas Muslim Indonesia menegaskan komitmennya membangun tata kelola yang semakin terukur, terpadu, dan berkelanjutan. Forum ini diharapkan menjadi ruang penyelarasan strategi seluruh pimpinan dalam mewujudkan UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak, serta Kampus Peduli dan Berbagi, sehingga setiap kebijakan yang dihasilkan benar-benar memberi manfaat bagi mahasiswa, masyarakat, umat, dan bangsa. (*)