Jelang Purnabakti, Jufri Rahman Tinggalkan Pesan Integritas di DPRD Sulsel
MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Masa pengabdian Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), segera berakhir.
Di penghujung kariernya sebagai birokrat, Jufri memilih meninggalkan satu pesan kepada jajaran legislatif dan pemerintah daerah: integritas harus tetap menjadi pegangan dalam menjalankan amanah.
Pesan tersebut disampaikan Jufri saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Sulsel di Ruang Rapat Kantor Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Jalan A.P. Pettarani, Makassar, Senin (28/09/2026).
Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi bersama para wakil ketua. Sejumlah anggota DPRD Sulsel serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sulsel turut hadir.
Agenda rapat membahas pandangan umum fraksi terhadap dua Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda). Ranperda pertama berkaitan dengan penghitungan, pelaporan, dan pembayaran kepada daerah dari penerimaan atas keuntungan bersih pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Sementara Ranperda lainnya mengatur perubahan bentuk hukum Perseroan Terbatas Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah Sulawesi Selatan menjadi Perusahaan Perseroan Daerah Penjaminan Kredit Daerah Sulawesi Selatan.
Namun, di tengah agenda resmi tersebut, perhatian peserta rapat turut tertuju pada pesan Jufri yang disampaikan menjelang masa purnabaktinya.
Selama empat dekade menjalani karier pemerintahan sejak 1986, Jufri mengatakan hanya satu hal yang menjadi modal utama dalam menjalankan tugas sebagai birokrat.
“Jangan pernah hilang integritas itu hal yang utama. Selama 40 tahun saya menapaki karier di pemerintahan modal saya cuma satu, integritas,” ujarnya.
Jufri menyadari perjalanan panjang sebagai birokrat membuat dirinya bertemu dengan banyak orang dalam berbagai situasi. Ada pertemuan yang berlangsung lama, ada pula yang berakhir seiring dengan pergantian tugas dan jabatan.
Menurutnya, yang akan tetap melekat setelah seseorang meninggalkan jabatan bukanlah posisi yang pernah diduduki, melainkan hubungan dan kenangan yang tercipta selama menjalankan pengabdian.
“Selalu saya katakan adalah yang indah itu adalah kita yang ditinggalkan bukanlah jabatan, tetapi yang tinggal adalah kenangan,” ucap Jufri.
Pernyataan itu langsung disambut tepuk tangan peserta rapat.
Menjelang meninggalkan lingkungan pemerintahan, Jufri juga menyampaikan permohonan maaf kepada rekan kerja maupun pihak lain yang pernah berinteraksi dengannya selama menjalankan tugas.
“Jika ada perkataan yang melukai mohon dimaafkan, dan jika ada sikap yang tidak membuat nyaman mohon diikhlaskan,” katanya.
Bagi Jufri, purnabakti hanya mengakhiri sebuah tugas dan jabatan. Hubungan persaudaraan yang terbentuk selama perjalanan pemerintahan, kata dia, tidak ikut berakhir.
“Saya pergi dengan jabatan Sekretaris Daerah Provinsi, tapi tidak pergi dari sebuah persaudaraan,” kata Jufri.
Jufri memulai pengabdiannya sebagai birokrat pada 1986. Setelah melewati perjalanan sekitar 40 tahun di pemerintahan, ia kini memasuki masa purnabakti dengan kembali menempatkan integritas sebagai nilai utama yang ingin ditinggalkan kepada generasi penerus birokrasi. (*)