#TRENDING

Makassar Leadership Summit 2026 Bakal Ulas Makna Pemimpin di Tengah Disrupsi

Friday, 02 October 2026 | 14:59 Wita - Editor: Agung Eka -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Kepemimpinan hari ini tidaklagi cukup dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengarahkan organisasi atau mengambil keputusan. Di tengah perubahan teknologi, dinamika dunia kerja, tekananbisnis, serta ekspektasi masyarakat yang semakin kompleks, leadership semakin dituntut untuk mampu membacaperubahan, membangun kepercayaan, mengambil keputusanyang bermakna, sekaligus menyiapkan manusia dan organisasi menghadapi masa depan.

Perspektif inilah yang menjadi landasan penyelenggaraan Makassar Leadership Summit (MLS) 2026, yang akandigelar pada 8 Oktober 2026 di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar. Diselenggarakan oleh PMSM, GNIK, dan APINDO, MLS 2026 dirancang sebagai ruang dialog lintassektor untuk mempertemukan pemimpin, praktisi, profesional, dan komunitas dalam membicarakan kepemimpinan secaralebih substantif. 

Dengan semangat “The Future of Leadership Starts Here”, MLS 2026 tidak menempatkan leadership sebagai konsepyang berdiri sendiri, melainkan sebagai praktik yang diujioleh realitas. Mulai dari bagaimana pemimpin mengambilkeputusan, menghadapi perubahan, menjaga manusia di tengah tekanan performa, membangun resilience, hinggamempersiapkan organisasi menghadapi era artificial intelligence.

PT-Vale

“Kami ingin Makassar Leadership Summit menjadi ruanguntuk berhenti sejenak dari rutinitas kepemimpinan, lalumelihat kembali pertanyaan yang lebih mendasar: pemimpinseperti apa yang dibutuhkan oleh masa depan? Leadership bukan hanya tentang seberapa besar posisi yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kemampuan kita menciptakanperubahan, menumbuhkan orang lain, dan meninggalkanorganisasi dalam kondisi yang lebih baik.” ujar FauziahZulfitri, S.Psi., M.M., PCC, Ketua Panitia Makassar Leadership Summit 2026 sekaligus Founder Insight Indonesia.

Dari Leading from the East hingga AI Ready Leadership

Rangkaian MLS 2026 dirancang dengan spektrumpembahasan yang bergerak dari fondasi kepemimpinan hinggatantangan masa depan.

Sesi pembuka menghadirkan H.M. Jusuf Kalla melalui keynote “Leading from the East”. Sesi ini secara khususmengangkat pengalaman kepemimpinan yang berakar dariIndonesia Timur, dengan penekanan pada keberanianmengambil tanggung jawab, membangun kepercayaan, mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan nyata.

Perspektif tersebut kemudian diperluas melalui keynote Prof. Yassierli, Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan RI, yang membahas “Transforming Bureaucracy for Faster and Impactful Labor Policies”.

Pembahasan diarahkan pada bagaimana pemimpin mendorong transformasi birokrasi agar lebih adaptif, responsif, kolaboratif, dan berorientasi pada outcome. 

Agenda dilanjutkan dengan sejumlah panel yang membedahdimensi kepemimpinan dari perspektif yang berbeda. Inclusive & Sustainable Leadership mempertemukanperspektif people, planet, dan long-term values; sementaraHuman Centered Leadership mengeksplorasi empathy, authenticity, vulnerability, trust, serta hubungan antaraemployee experience dan performance.

Pada sesi siang, diskusi bergerak semakin dekat dengantantangan transformasi organisasi melalui Transformational Leadership: Challenging the Status Quo to Drive Meaningful Change. Panel ini menghadirkan Irfan Setiaputra, former CEO Garuda Indonesia; Tommy Watimena, CEO Great Giant Foods; dan NenengGoenadi, CEO Grab Indonesia.

Ketiganya akan membahasbagaimana pemimpin menantang status quo, menghadapiresistensi, mengambil keputusan sulit, serta memastikan perubahan benar-benar menghasilkan dampak bermakna. 

Pembahasan kemudian bergerak pada Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth, sebelum ditutup denganperspektif AI Ready Leadership: Where to Start? yang membawa pertanyaan penting tentang bagaimana pemimpindan organisasi memulai perjalanan AI secara relevan—bukansekadar mengikuti teknologi, tetapi menghubungkannya dengan persoalan bisnis, customer value, people, dan kualitas pengambilan keputusan.

Leadership sebagai kemampuan untuk terus bertumbuh

Menurut Hasnaeni Asri, Wakil Direktur GNIK Area Sulsel, kebutuhan terhadap ruang dialog kepemimpinanmenjadi semakin penting karena perubahan organisasi tidakhanya ditentukan oleh strategi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankannya.

“Kita sedang berada pada fase ketika organisasi tidak hanyamembutuhkan leader yang mampu mencapai target, tetapileader yang mampu membaca perubahan dan menggerakkanmanusia untuk menghadapinya bersama. Karena itu, leadership development tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Ia harus diterjemahkan menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara memperlakukan manusiadi dalam organisasi.”

Bagi Hasnaeni, forum seperti MLS juga memiliki arti pentingbagi ekosistem kepemimpinan di Sulawesi Selatan karenamempertemukan perspektif dari berbagai industri dan latarbelakang. Dialog lintas sektor memungkinkan peserta melihatbahwa tantangan kepemimpinan dapat berbeda konteks, tetapimemiliki pertanyaan fundamental yang sama: bagaimanamenciptakan organisasi yang mampu bertumbuh tanpakehilangan nilai dan kemanusiaannya.

Perspektif tersebut sejalan dengan desain MLS 2026 yang menempatkan pengalaman personal dan praktik nyata sebagaibagian penting dari pembahasan. Setiap sesi tidak hanyadiarahkan pada gagasan, tetapi juga pada leadership takeaways yang dapat diterjemahkan peserta ke dalamtindakan setelah kembali ke organisasi.

MLS 2026 pada akhirnya tidak dirancang sebagai forum yang berhenti pada inspirasi. Rangkaian sesi akan ditutup denganWrap Up Session yang difasilitasi Fauziah Zulfitri, denganmengajak peserta memilih satu insight yang paling relevan, menerjemahkannya menjadi satu komitmen tindakan, dan menjawab pertanyaan reflektif: “What will I do differently as a leader starting tomorrow?”

“Kami berharap peserta tidak pulang hanya membawacatatan, tetapi membawa satu keputusan tentang apayang akan mereka lakukan secara berbeda. Karena leadership growth pada akhirnya bukan tentang seberapabanyak insight yang kita kumpulkan, melainkan seberapakonsisten insight tersebut mengubah perilaku dan carakita memimpin,” tutup Fauziah.

Melalui MLS 2026, Makassar tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah konferensi kepemimpinan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan tentang masa depan leadership—dari Indonesia Timur, untuk percakapan yang lebih luastentang bagaimana pemimpin membentuk organisasi, manusia, dan masa depan. (*)