#TRENDING

Serba Terbatas, Cabor Andalan Indonesia Sukses Digelar di Porprov XVIII 2026 Sulsel

Sunday, 08 November 2026 | 14:38 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Muhammad Yusuf

BONE, GOSULSEL.COM— Di pentas dunia, panjat tebing berdiri gagah sebagai cabang olahraga yang mencatatkan sejarah manis: menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia pada Olimpiade Paris 2024 melalui nomor Speed World Record (WR). Namun, romantisme kejayaan Olimpit tersebut berbanding terbalik dengan realitas pahit di tingkat daerah saat Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XVIII Sulawesi Selatan 2026 di Kabupaten Bone.

Di balik riuh semangat 144 atlet—terdiri dari 76 atlet putra dan 68 atlet putri—yang siap bertarung memperebutkan 48 keping medali (16 emas, 16 perak, dan 16 perunggu), tersimpan kisah perjuangan sunyi menembus keterbatasan. Kontingen dari 22 FPTI Kabupaten/Kota se-Sulsel (minus Kabupaten Sidrap dan Takalar) harus berlaga di venue yang pengerjaannya nyaris menguji batas ketahanan para panitia.

Teknis Pertandingan yang dinakhodai FPTI Pengprov Sulsel bersama FPTI Bone selaku tuan rumah dipaksa memutar otak. Technical Delegate, Ahmad Lubis, mengungkapkan betapa tipisnya celah yang harus mereka lewati di tengah minimnya bantuan anggaran dari pemerintah. Keraguan publik yang sempat membayangi akhirnya dijawab dengan keringat dan kerja keras: perbaikan venue panjat tebing berhasil dirampungkan hanya dalam kurun waktu 5 hari saja.

PT-Vale

Waktu yang sangat krusial itu dimaksimalkan agar 16 nomor lomba di tiga kategori bergengsi—Lead, Boulder, dan Speed—tetap dapat dipertandingkan secara layak dan aman bagi para pemanjat terbaik Sulsel.

Ketua Panitia Pelaksana FPTI Sulsel, Muhammad Najib, tak sanggup menyembunyikan rasa harunya atas dedikasi luar biasa tim di lapangan. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan FPTI Bone yang bahu-membahu menembus keterbatasan dana demi menyajikan sarana tanding yang siap menyambut pembukaan PORPROV XVIII pada 7 November 2026 di Kabupaten Bone.

“Kebersamaan dan kerja keras teman-teman tuan rumah FPTI Bone adalah kunci utama. Di tengah keterbatasan anggaran yang ada, mereka mampu menyiapkan dengan tepat waktu,” tegas Najib.

Arena panjat tebing Bone kini sudah berdiri tegak. Jemari para atlet telah mencengkeram point demi point, meniti dinding impian menuju podium tertinggi. Namun, potret minimnya perhatian pada arena lokal ini menjadi refleksi penting jika cabor kelas dunia yang sudah membuktikan emas Olimpiade saja masih harus ‘memanjat’ benteng keterbatasan anggaran di daerah sendiri, lantas sampai kapan regenerasi emas Indonesia harus terus bergantung pada keajaiban gotong royong?