Kukuhkan Prof Hasanuddin Remmang dan Iskandar, Unibos Kini Punya 42 Guru Besar
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Universitas Bosowa (Unibos) terus mencetak guru besar sebagai bagian dari komitmennya dalam menciptakan kampus unggul dan berdaya saing.
Terbaru, dua guru besar dikukuhkan, yaitu Prof Hasanuddin Remmang dan Iskandar di Balai Sidang 45, Selasa (31/3/2026).
Adapun Prof Hasanuddin Remmang dengan kepakaran kewirausahaan sedangkan Prof. Iskandar dengan kepakaran Sosiologi.
Dengan ini, Unibos telah memiliki 42 guru besar. Jumlah ini bakal terus bertambah hingga akhir tahun 2026.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Hasanuddin Remmang mengangkat judul “Teknologi Kewirausahaan di Era Bisnis Digital Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Industri Sutra: Peran Ekosistem dan Kolaborasi.”
Sementara itu, Prof. Dr. Iskandar mempersembahkan pidato ilmiah berjudul “Pembangunan, Perubahan Sosial dan Masalah Sosial Perkotaan.”
Menurut Rektor Unibos, Prof. Batara Surya, gagasan yang disampaikan sangat sesuai dengan kondisi saat ini dan memang dibutuhkan oleh masyarakat.
“Atas nama sivitas akademika, saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi atas pengukuhan dan pencapaian dua profesor baru kita,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Prof. Dr. Iskandar menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pembangunan, Perubahan Sosial, dan Masalah Sosial Perkotaan, sementara Prof. Hasanuddin Remmang menyampaikan orasi ilmiah berjudul Teknologi Kewirausahaan di Era Bisnis Digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM): Peran Ekosistem dan Kolaborasi.
“Kedua ide, gagasan, dan pemikiran ini diharapkan membawa dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam dunia ekonomi dan sosiologi,” tambahnya.
Ketua LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Lukman, berharap para profesor Unibos mampu menjadi motor penggerak, fasilitator perubahan, dan praktisi di tengah masyarakat.
“Pastikan riset dan pengabdian tidak berhenti pada publikasi semata, tetapi juga memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat dan dunia usaha,” ucapnya.
“Tentunya, mari kita terus mendorong transformasi melalui pembelajaran yang adaptif, kurikulum berbasis kebutuhan pasar, serta kolaborasi lintas sektor. Guru besar harus menjadi role model dalam hal integritas, produktivitas, dan kebermanfaatan ilmu,” tutupnya. (*)