AJI Indonesia Bekali Puluhan Jurnalis Berbagi Daerah Memahami Sumber Terbuka dan Disinformasi
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia melaksanakan Workshop Sumber Terbuka dan Disinformasi yang diikuti puluhan jurnalis dari berbagai daerah.
Mulai dari Makassar, Menado, Palu dan Gorontalo yang berlangsung di Hotel Vasaka Makassar selama dua hari sejak 11 hingga 12 April 2026.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara AJI Indonesia dan AJI Makassar melalui dukungan Uni Eropa (EU) dan Internews dalam program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR).
Ketua AJI Makassar, Sahrul Ramadan mengatakan, di tengah kondisi maraknya disrupsi informasi, jurnalis punya tanggung jawab besar untuk menelusuri informasi yang benar berlandaskan data dan fakta. Apalagi yang bersifat krusial untuk kepentingan publik.
“Meskipun singkat namun kegiatan dua hari ini membekali para jurnalis, baik reporter maupun editor untuk bagaimana memahami metode penelusuran sumber informasi yang benar dan akurat kemudian dikemas menjadi berita,” katanya, dalam sambutan pembukaan, kemarin.
Jurnalis dituntut agar lebih peka memahami kondisi di tengah brutalitas informasi apalagi yang beredar di media sosial. Disinformasi, mis-informasi, hingga mal-informasi adalah serangkaian jenis akar persoalan yang muncul untuk ditelusuri kebenarannya.
“Seluruh muatan materi dalam rangkaian kegiatan ini tentu akan menjadi suplemen atau bekal pengetahuan tambahan bagi jurnalis dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya,” tegasnya.
Sementara, Political Officer Deligasi Uni Eropa, Igor Pronobis menilai bahwa saat ini kita hidup di era informasi, sehingga penting bagi setiap individu untuk terus meningkatkan keterampilan dalam menghasilkan informasi yang akurat.
“Uni Eropa menjadi salah satu pihak yang lebih dulu menginisiasi berbagai upaya dalam menghadapi ancaman disinformasi ini,” akunya.
Menurutnya, seiring perkembangan platform digital seperti Instagram, website, dan media lainnya, tantangan jurnalisme juga semakin kompleks. Termasuk munculnya fenomena seperti AI dalam produksi konten hingga penipuan berbasis relasi emosional (love scam).
“Sering kali kita merasa tidak akan terdampak oleh disinformasi. Padahal tanpa disadari, kita bisa saja turut terlibat dalam penyebaran disinformasi yang berasal dari luar negeri,” tambahnya.
Oleh karena itu, sebagai jurnalis penting untuk melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya menjadi hal yang sangat krusial.
“Pelatihan ini dirancang untuk memberikan keterampilan dan alat yang diperlukan dalam mengidentifikasi serta menangani disinformasi, bukan justru ikut menyebarkannya,” katanya.
Bahkan, workshop tersebut juga merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi ancaman informasi.
Melihat kondisi saat ini, masih banyak pihak yang belum mendapatkan pelatihan yang memadai. Karena itu, pembelajaran seperti ini menjadi penting, terutama bagi jurnalis yang menghadapi tantangan baru di era digital.
Di tempat yang sama, mewakili Kedutaan Polandia di Jakarta, Ecelino Lonescu mengungkapkan bahwa media terkadang mengutip atau mengambil berita dari luar negeri, baik karena kerja sama maupun kebutuhan informasi. Namun, dalam praktiknya, tidak jarang informasi yang diambil tersebut mengandung kesalahan.
Pemerintah Polandia menekankan pentingnya menangkal disinformasi, karena informasi yang salah kerap digunakan untuk menggiring opini publik demi kepentingan tertentu.
“Disinformasi bisa diibaratkan sebagai kebohongan yang masuk ke ruang pribadi masyarakat untuk mengambil keuntungan,” tegasnya.
Terdapat sejumlah contoh bagaimana media asing memberitakan Indonesia dengan cara yang berpotensi memengaruhi stabilitas negara. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memiliki kemampuan dalam menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh.
Hal ini menjadi semakin krusial bagi negara demokratis seperti Indonesia. Jika pilihan publik dipengaruhi oleh pihak asing melalui disinformasi, maka hal tersebut berisiko mengarahkan masyarakat pada keputusan yang keliru.
Misalnya, platform seperti Narasi Newsroom hadir sebagai kanal yang memberikan contoh sekaligus edukasi tentang bagaimana disinformasi digunakan oleh pihak asing untuk memengaruhi persepsi publik.
“Dalam menghadapi berbagai narasi, masyarakat diharapkan tidak sekadar membandingkan, tetapi juga mampu berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan,” tutupnya. (*)