#TRENDING
Petugas Sensus Ekonomi 2026, Hasniwati (27), Erni (26), dan Jusrah Multhahirah (22) saat mendata Abdul Karim (63) di kediamannya di Dusun Longka, Desa Majannang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Minggu (5/7/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Napas Panjang Anak Muda Membawa Sensus Ekonomi 2026 di Kaki Gunung Bawakaraeng

Thursday, 23 July 2026 | 11:26 Wita - Editor: Agung Eka -

GOWA, GOSULSEL.COM – Dari kaki gunung Bawakaraeng, tepatnya di Desa Majannang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terukir perjalanan anak muda membawa secercah harapan bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Di pundak Hasniwati (27), Erni (26), dan Jusrah Multhahirah (22), mereka memikul harapan itu selama menjadi petugas Sensus Ekonomi 2026.

Tugasnya terdengar sederhana yaitu mendata ekonomi warga secara door-to-door. Kemudian dijadikan acuan untuk perumusan kebijakan nasional oleh pemerintah bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

PT-Vale

Akan tetapi, tugas tersebut menjadi berat di Desa Majananng. Petugas sensus muda itu dihadapkan dengan berbagai tantangan, mulai dari jalan berbatu, mendaki bukit, benturan jadwal kunjungan, hingga jarak rumah warga yang jauh.

Sehingga Hasniwati, Erni, dan Jusrah harus kerja ekstra. Meski sudah terbiasa dengan kondisi ekstrem di Desa Majannang, namun baru kali ini mereka merasakan perjuangan yang getir.

Saban hari, ketiganya berjibaku menghimpun data ekonomi warga di tengah tantangan tersebut. Sebab, ada target ratusan prelist atau pencatatan direktori awal koresponden yang harus rampung hingga 31 Agustus 2026.

“Jadi fisik harus terus kuat, begitu juga dengan mood harus bagus,” ujar Hasni–sapaan akrab Hasniwati saat ditemui, Minggu (5/7/2026).

Hasni sendiri memulai kunjungan ke rumah warga sepulang mengajar di SMP Negeri 3 Parigi Satap Raulo pada siang hari. Ia hanya istirahat sejenak sambil mengenakan atribut lengkap seperti kartu tanda pengenal dan rompi bertuliskan Sensus Ekonomi, lalu mengejar target prelist.

“Karena biasanya prelist bertambah, jadi kalau santai, lama juga selesai,” lanjutnya.

Di situasi itu, Hasni tidak hanya mengandalkan fisik yang kuat. Ia harus efisien dalam bekerja, sehingga jadwal pertemuan dengan warga harus dikonfirmasi lebih dahulu lewat telepon.

“Apalagi yang jauh sekali, masa kita mau datang tiba-tiba. Takutnya nanti tidak ada orangnya di rumah,” ucap Hasni.

Perjuangan Hasni bersama Erni dan Jusrah baru setengah perjalanan. Namun mereka telah berhasil menyelesaikan sebagian besar prelist dengan semangat juang yang tinggi.

Dengan napas panjang, mereka sedang menenun peta masa depan ekonomi Indonesia dari salah satu tempat tertinggi di Sulawesi Selatan.

Walau di depan mata terdapat berbagai tantangan, Hasni tetap menjalankan tugas ini secara profesional, tanpa mengeluh, dan penuh dedikasi.

“Kalau berkunjung ke warga, hal yang paling penting adalah sikap ramah kita,” tutup Hasni.

Menjemput Data di Tengah Tantangan

Gambaran nyata perjuangan Hasni, Erni, dan Jusrah dalam menghadapi tantangan di Desa Majannang terlihat ketika menemui Abdul Karim (63) di Dusun Longka.

Rumah penduduk jarang berdiri berdampingan. Mereka tersebar di antara lembah, dipisahkan oleh lebatnya hutan, sawah, dan kebun warga.

Sedangkan rumah Abdul Karim, selain jaraknya yang jauh, letaknya berada di tengah hutan yang dikelilngi pohon duku.

“Jadi motor disimpan dulu di pinggir jalan atau rumah warga, baru kita jalan kaki,” kata Hasni.

Uji ketahanan fisik berlanjut ke rumah Daeng Kebo (57) yang berada di perbukitan Longka. Hasni, Erni, dan Jusrah harus menyusuri sungai kecil dan kebun warga.

Ketiganya bahkan menemui ular yang sudah mati di tengah perjalanan. Langkah mereka terhenti sesaat lantaran takut hewan itu masih bergerak.

Hewan seperti ular memang sering muncul di kebun warga. Selain menjadi tempat persembunyian ideal, tikus hingga burung yang menjadi mangsanya juga biasa lewat.

“Saya lihat baik-baik ternyata sudah mati, jadi saya terus jalan,” ucap Hasni.

Hasniwati (27), Erni (26), dan Jusrah Multhahirah (22) melewati kebun warga saat menuju ke rumah Daeng Kebo (57)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Rumah Daeng Kebo berada di antara rimbunan pohon Bambu. Hasni hanya menempelkan stiker sebagai tanda petugas Sensus Ekonomi sudah turun melakukan pendataan.

“Ini juga untuk menandai nomor bangunan rumah warga,” lanjutnya.

Napas panjang yang mereka miliki bukan sekadar kiasan. Itu adalah modal nyata. Hasni, Erni, dan Jusrah sebagai petugas sensus muda harus naik turun bukit, melewati kebun, dan hutan demi memastikan tidak ada prelist yang terlewat.

Hasniwati (27) saat menempelkan stiker Sensus Ekonomi 2026 di rumah Daeng Kebo (57)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Edukasi di Ruang Tamu

Tantangan pengisian kuisioner melengkapi perjuangan Hasni, Erni, dan Jusrah sebagai petugas sensus muda. Tidak gampang bagi mereka meyakinkan warga untuk didata.

Di rumah Abdul Karim, pengisian kuisioner diawali gugat kecurigaan oleh pria paruh baya itu. Ia takut data ini berpengaruh pada pungutan pajak atau bantuan sosial.

Petugas Sensus Ekonomi belakangan dianggap momok menakutkan bagi warga. Sebab, tersiar informasi hoaks perihal data mereka menyebabkan kenaikan desil, sehingga tidak lagi dapat bantuan sosial.

Sekadar diketahui, desil menjadi acuan pemerintah untuk memastikan penyaluran bantuan sosial tepat sasaran. Sistem ini mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan dan kondisi sosial-ekonominya.

Hasniwati (27) membantu Abdul Karim (63) dalam pengisian kuisioner/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Di sinilah peran penting pendekatan khas anak muda diuji. Dengan bahasa Makassar yang santun dan kasual, Hasni menjelaskan bahwa sensus ini tidak mempengaruhi desil atau pungutan pajak.

“Mereka yang naik desilnya, kini tidak dapat bantuan kembali khawatir kalau kita datang makin naik lagi. Padahal itu tidak benar,” jelas Hasni.

Usai tercerahkan, Hasni memulai proses wawancara dan mengisi kuisioner lewat FASIH atau Flexible Authentically Survey in Harmony, aplikasi resmi dari BPS yang digunakan untuk pengumpulan data survei dan sensus secara digital.

Setidaknya butuh waktu setengah jam bagi Hasni untuk merampungkan semua data, mulai pendapatan hingga kondisi rumah Abdul Karim.

“Biasa juga mau satu jam kalau banyak usahanya,” lanjutnya.

Hasni saat itu juga piawai mengajukan pertanyaan. Sambil menunjukkan sikap ramah, ia menggunakan teknik probing untuk menggali informasi secara akurat dan lebih rinci.

Teknik tersebut dibekali BPS Kabupaten Gowa selama pelatihan di Hotel Swibel-inn, Kota Makassar pada 9-11 Juni 2026 lalu.

“Ditanya pelan-pelan, mulai sederhana lalu sensitif yang terakhir. Kita ikut alurnya,” ucap Hasni.

Energi Muda untuk Masa Depan Ekonomi

Keterlibatan anak muda dalam Sensus Ekonomi 2026 membawa angin segar. Adaptasi mereka yang cepat terhadap teknologi penginputan data berbasis aplikasi FASIH memangkas waktu birokrasi yang biasanya memakan waktu berhari-hari.

Adapun data yang masuk dari daerah pelosok seperti Desa Majannang bisa langsung terintegrasi ke server pusat dalam hitungan jam.

“Daripada menggunakan kertas sebagai kuisioner, ini lebih cepat menyelesaikan ratusan prelist,” ungkap Hasni.

Belum lagi, karakter anak muda masa kini dikenal memiliki rasa ingin tahu yang besar dan menyukai tantangan. Sehingga, pekerjaan sensus sangat ideal dilakukan oleh Hasni, Erni, dan Jusrah.

“Tidak seru kalau tidak ada tantangan,” tegas Hasni.

Bagi Hasni, pekerjaan ini juga melampaui kontrak kerja jangka pendek. Ada rasa bangga yang tumbuh di setiap langkah kakinya yang kelelahan.

“Paling senang kalau warganya ramah saat mulai didata,” tambahnya.

Hasni pun berharap bahwa setiap ketukan pintu yang ia lakukan di kaki Gunung Bawakaraeng akan menjadi satu angka penting yang menuntun arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.

“Semoga ke depan juga ekonomi warga Desa Majannang makin membaik,” harap Hasni.

Warga Lokal, Suksesor Sensus Ekonomi 2026

Hasni, Erni, dan Jusrah adalah potret dari ketangguhan warga lokal sebagai petugas Sensus Ekonomi 2026. Mereka sudah terbiasa dengan segala kondisi di lapangan.

Kepala BPS Gowa, Joko Susanto menyebut 777 petugas Sensus Ekonomi 2026 yang tersebar di 18 kecamatan, sebagian besar adalah warga lokal termasuk anak muda.

Menurutnya, mereka lebih paham kondisi dan karakteristik masyarakat setempat seperti Hasni, Erni, dan Jusrah di Desa Majannang.

“Dengan begitu berbagai kendala geografis dapat diminimalkan karena petugas sudah mengenal kondisi daerahnya,” ujar Joko.

Keandalan petugas Sensus Ekonomi di lapangan juga didukung dengan pelatihan dari BPS Gowa yang dilaksanakan dalam tiga gelombang.

Melalui pelatihan itu, petugas Sensus Ekonomi didorong semakin piawai bertugas di lapangan. Salah satu materi yang diberikan, yaitu teknik probing.

“Metode ini penting dipakai untuk mendapat jawaban yang terstruktur dan akurat,” jelasnya.

Kepala BPS Gowa, Joko Susanto dan Bupati Gowa, Husniah Talenrang bersama petugas Sensus Ekonomi 2026 berfoto di depan Kantor Bupati beberapa waktu lalu/FOTO: IST

Joko menekankan pentingnya sensus ini dilaksanakan. Sebab, terjadi perubahan besar dalam pola dan struktur ekonomi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi covid-19.

Untuk itu, petugas Sensus Ekonomi juga getol melengkapi prelist hingga 31 Agustus 2026 mendatang.

“Pandemi mengubah banyak hal. Transaksi yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung beralih ke platform digital. Perubahan-perubahan inilah yang ingin kami tangkap sehingga nantinya diperoleh gambaran utuh mengenai kondisi ekonomi masyarakat saat ini,” jelas Joko.

Ia juga memastikan semua data warga tidak ada kaitannya dengan pajak dan bantuan sosial. Program ini murni hanya untuk dijadikan landasan pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategis, mengevaluasi pembangunan, dan memberikan panduan bagi pelaku usaha dalam pengembangan investasi dan pasar.

“Kita jamin semua data tersebut aman, tanpa ada pengaruhnya ke penurunan desil dan pungutan pajak,” tandas Joko. (*)