#TRENDING
Cora (49) memperlihatkan proses pembuatan teh herbal dari daun mangrove jenis Acanthus yang sudah dikeringkan di rumah panggungnya di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombali, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Selasa (21/7/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Dari Mangrove, Cuan Warga Kuri Caddi Mengalir Sampai Jauh

Saturday, 25 July 2026 | 15:13 Wita - Editor: Agung Eka -

MAROS, GOSULSEL.COM – Mangrove kini menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi warga pesisir di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombali, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Pagi itu, Selasa (21/7/2026), beberapa warga mendatangi rumah bambu milik Blue Forest. Mereka menawarkan produk yang dibuat dari mangrove kepada jurnalis dan peserta workshop feature writing yang berkunjung.

Cora (49), salah satunya. Ia datang dari rumah panggung sederhana miliknya yang berjarak sekitar 300 meter untuk menjajakan produk teh herbal. Terbuat dari daun mangrove jenis Acanthus atau warga lokal menyebutnya Kalli-Kalli yang sudah dikeringkan.

PT-Vale

Daun mangrove mudah dijumpai di Dusun Kuri Caddi. Sebab, bakau tersebut tumbuh subur hingga membentuk hutan di lahan seluas 12 hektar.

Untuk proses produksi, Cora melakukannya seorang diri, mulai dari proses pengeringan daun hingga memasukkannya ke dalam bungkusan selama lima tahun terakhir.

“Petiknya gampang tapi dikeringkan harus dua hari dulu,” ucap Cora.

Cora juga tahu betul dengan khasiat daun mangrove, seperti meningkatkan daya tahan tubuh. Sehingga, cara terbaik untuk mendapat manfaatnya adalah dikonsumsi sebagai minuman.

“Tinggal di seduh saja, lalu di minum beberapa kali untuk rasakan khasiatnya,” katanya.

Satu boks Teh Kalli-Kalli milik Cora dijual dengan harga Rp20 ribu berisi 10 bungkus. Melalui produk ini, dia dapat menghidupi tujuh anaknya.

“Dalam seminggu, ada-ada saja yang beli. Biasanya tamu dari Blue Forest,” ungkapnya.

Beda halnya dengan Nurdiana (42). Ia menjual keripik dari ikan bete-bete dan kepiting rajungan.

Ekosistem yang dibentuk berkat mangrove membuat hasil perikanan di Dusun Kuri Caddi meningkat. Akar bakaunya menjadi tempat mencari makan bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan bete-bete dan kepiting rajungan.

Nurdiana (42) saat memasukkan keripik ikan bete-bete yang sudah digoreng ke dalam kemasan/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Namun, Nurdiana bukanlah nelayan. Hasil perikanan yang mulai melimpah dimanfaatkannya untuk membuka peluang usaha lain.

Jualan keripik, kata dia, lebih menguntungkan. Apalagi, hanya sedikit pelaku usaha yang mampu memproduksi cemilan dari kepiting rajungan dan ikan bete-bete.

Untuk membuat keripik ikan bete-bete misalnya, Nurdiana cukup menyiapkan lima kilogram ikan yang dibeli langsung dari nelayan dan tiga kilogram tepung tapioka. Dari bahan tersebut, ia mampu menghasilkan 12 bungkus dengan berat 400 gram.

“Dulu awalnya masih sekitar orang sini yang beli sekarang sudah sampai Mekah,” kata Nurdiana.

Saking larisnya, Nurdiana ikut memberdayakan warga sekitar agar mendapat pendapatan tambahan. Ia kini dibantu enam tenaga pekerja yang sebagian besar merupakan tetangga.

“Makanya kita selalu ada stok karena banyak yang kerjakan,” lanjutnya.

Adapun Nurdiana menawarkan keripik ikan bete-bete dan kepiting rajungan dengan harga Rp 15 ribu. Selain original, ia juga menjual varian lainnya seperti pedas manis dan balado.

“Bayarnya kita bisa pakai QRIS yang ada di rak,” tutup Nurdiana.

Berdaya Lewat Sekolah Lapang Pesisir

Dari Blue Forests, ide ekonomi hijau tersebut muncul. Mengelola lahan mangrove seluas 12 hektar, organisasi non profit yang hadir sejak 2001 itu membuka potensi pendapatan warga selain dari hasil perikanan.

Untuk itu, Blue Forests menghadirkan Sekolah Lapang Pesisir, sebuah program pemberdayaan bagi warga Kuri Caddi untuk mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan.

Rumah bambu milik Blue Forests/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Adapun Cora dan Nurdiana adalah alumni dari Sekolah Lapang Pesisir. Keduanya mendapat pendampingan usaha sejak tahun 2020 atau tepatnya setelah Covid-19 merebak.

Field Officer Blue Forest, Indar Alam menjelaskan bahwa pendampingan berlangsung intens di rumah bambu, dari cara pembuatan sampai mengevaluasi nilai jual produk di pasaran.

“Biasanya kita lakukan ini sebanyak 12 pertemuan dan bisa lebih tergantung model bisnisnya,” ujarnya.

Di Kuri Caddi, potensi mata pencaharian baru mulai terlihat setelah assesment awal. Ini merupakan tugas pertama dari Sekolah Lapang Pesisir sebelum memulai pendampingan.

“Jadi kita lihat dulu bagaimana kondisi desanya, bagaimana desa dulu sama sekarang, terus ditanya apa kebutuhan masyarakat sekarang,” jelas Indar.

Ia menegaskan, sekolah lapang pesisir hadir sebagai solusi dari tantangan ekonomi masyarakat. Bukan sekadar pendampingan, namun ada upaya berkelanjutan agar dapur mereka terus ngebul.

“Kita hadir bukan sebagai program namun solusi untuk menjawab tantangan di masyarakat,” tandas Indar.

Komitmen Menjaga Mangrove

Jurnalis dan peserta workshop feature writing datang ke Kuri Caddi melalui Pelabuhan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar dengan menggunakan perahu katinting.

Dari pelabuhan, hutan mangrove di Kuri Caddi sudah terlihat jelas. Sudah lebat hingga menutupi sebagian pesisir laut.

Jalur laut saat itu menjadi akses paling mudah menuju ke Kuri Caddi. Warga enggan memilih transportasi darat lantaran jalan masuk ke Kuri Caddi yang masih rusak dan jauh.

Akses jalan masuk ke Dusun Kuri Caddi menggunakan perahu katinting dari Pelabuhan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Kehadiran jurnalis dan peserta workshop feature merupakan bagian dari lokakarya yang digelar Blue Forests pada 21 Juli lalu. Sehari sebelumnya, mereka juga mendapat pelatihan penulisan di Rumata Artspace.

Melalui lokakarya ini, mereka diajak melihat lebih dekat progres rehabilitasi mangrove dan dampak bagi kehidupan warga pesisir Kuri Caddi.

Blue Forests merehabilitasi hutan mangrove seluas 12 hektar di Kuri Caddi. Pekerjaan itu dimulai tahun 2011 bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Conservatio and Restoration Manager Blue Forests, Akzhan Nur Iman mengatakan, serangkaian proses rehabilitasi dilakukan pada 2011-2014 mulai dari analisa sampai penanaman bibit mangrove.

“10 tahun berikutnya, upaya pemulihan sepenuhnya mengandalkan proses alami, dengan memanfaatkan pohon mangrove di sekitar sebagai sumber bibit, serta menebar bibit di lokasi yang dulunya pernah ditumbuhi mangrove namun sudah hilang,” katanya.

Mangrove dan papan bicara yang dipasang Blue Forests yang memuat informasi luas lahan bakau yang direhabilitasi/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Selain itu, lanjut Akzhan, proses rehabilitasi dibarengi dengan integrasi tambak. Dari sana, masyarakat bisa budidaya rumput laut, ikan bandeng, udang windu, dan kerang hijau.

“Dari 23 hektar, 12 hektar kita rehab sisanya untuk tambak,” ucapnya.

Ekosistem mangrove kini telah terbentuk secara alami berkat hasil kerja keras Blue Forests. Hidup berdampingan dengan tambak dan biota laut yang bergantung pada akar bakau.

Akhzan berharap, warga Kuri Caddi dapat melestrarikan mangrove di sana. Dukungan Blue Forests senantiasa selalu hadir untuk mereka.

“Hanya upaya pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat agar lahan ini tidak dirusaki oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” tutupnya. (*)