#TRENDING

Rektor UMI: Pemimpin Hebat Tidak Mewariskan Jabatan Tapi Perubahan

Monday, 03 August 2026 | 19:59 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

PANGKEP, GOSULSEL.COM – Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Hambali Thalib mengajak seluruh pimpinan Universitas Muslim Indonesia untuk membangun kepemimpinan yang tidak berorientasi pada jabatan, tetapi pada warisan perubahan yang mampu menjaga keberlanjutan institusi.

Pesan tersebut disampaikan Rektor saat membuka UMI Islamic Strategic Leadership Reorientation Forum (UISLRF) 2026yang berlangsung di Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI, Padanglampe, Kabupaten Pangkep, Minggu (3/8). Forum ini menjadi bagian dari penguatan transformasi menyeluruh menuju UMI 2030 melalui pengembangan kepemimpinan strategis di lingkungan Universitas Muslim Indonesia. 

Turut Hadir Pada Pembukaan UISLRF ini Narasumber, Merza Gamal, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Mansyur Ramli, Ketua Yayasan Wakaf Umi, Prof. Masrurah mokhtar beserta jajaran Pengurus YW UMI, Para Wakil Rektor dan Seluruh Peserta Pelatihan Kepemimpinan yang juga telah mengikuti ESS UMI sebelumnya.

PT-Vale

Dalam pidatonya, Prof. Hambali menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari lamanya seseorang memegang jabatan ataupun besarnya kewenangan yang dimiliki, melainkan dari sistem, budaya kerja, dan kader yang mampu melanjutkan perjuangan setelah masa kepemimpinannya berakhir.

“Pemimpin sejati tidak mencari warisan untuk dikenang, tetapi meninggalkan sistem yang terus bernapas tanpa dirinya,” tegas Prof. Hambali.

Menurutnya, transformasi UMI menuju tahun 2030 hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pimpinan memiliki kesamaan cara berpikir, bekerja, dan melayani. Karena itu, kepemimpinan harus dibangun di atas nilai amanah, pelayanan, kolaborasi, dan keberanian melakukan perubahan.

Rektor menjelaskan bahwa kualitas sebuah universitas tidak lahir dari banyaknya rapat ataupun panjangnya dokumen perencanaan, melainkan dari kemampuan seluruh unsur pimpinan menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.

“Kualitas sebuah universitas tidak lahir dari rapat yang panjang, tetapi dari masalah-masalah kecil yang diselesaikan dengan hati,” ujarnya. 

Ia menambahkan, kepemimpinan harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti cara menjawab mahasiswa, mendengarkan staf, menghargai waktu, mengambil keputusan secara bijaksana, hingga menjaga amanah yang diberikan.

UMI Connection Jadi Budaya Kerja Baru

Pada kesempatan tersebut, Prof. Hambali kembali mengingatkan UMI Connection sebagai fondasi budaya kerja baru Universitas Muslim Indonesia.

Menurutnya, UMI Connection bukan sekadar platform teknologi, tetapi merupakan ekosistem kerja yang mengintegrasikan manusia, data, proses, dan teknologi agar seluruh keputusan organisasi dapat diambil secara lebih cepat, tepat, dan berdampak.

Melalui konsep tersebut, seluruh unit di lingkungan UMI diarahkan untuk bergerak dalam satu sistem dengan semangat Satu Akses, Satu Data, Satu Proses, serta didukung Executive AI Dashboard sebagai instrumen pengambilan keputusan berbasis data.

“UMI Connection adalah ekosistem kerja terintegrasi yang menyatukan teknologi, data, proses, dan manusia untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan berdampak,” jelasnya. 

Rektor menilai, di era transformasi digital, kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan tidak lagi cukup mengandalkan intuisi semata, tetapi harus didukung oleh data yang akurat dan kolaborasi seluruh unit kerja.

Pemimpin Masa Depan Harus Memimpin dengan Hati

Dalam pidatonya, Prof. Hambali juga memperkenalkan karakter pemimpin masa depan UMI yang harus mampu memimpin dengan hati, bekerja berdasarkan data, menjaga amanah para pendiri, dan memiliki keberanian mengambil tanggung jawab.

Ia mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mampu membaca pola, tetapi tidak dapat menggantikan kepekaan seorang pemimpin dalam memahami manusia.

“Artificial Intelligence dapat membaca pola, tetapi hanya hati seorang pemimpin yang mampu membaca manusia,” ungkapnya. 

Menurutnya, perpaduan antara kecanggihan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi modal utama bagi UMI untuk menghadapi perubahan global tanpa kehilangan identitas sebagai kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Setiap Pemimpin Diminta Melahirkan Kader dan Perubahan Nyata

Prof. Hambali juga menekankan bahwa setiap pimpinan di lingkungan UMI harus mampu meninggalkan warisan kepemimpinan berupa sistem yang lebih baik dan kader-kader penerus yang siap melanjutkan estafet organisasi.

Sebagai target nyata, setiap pemimpin didorong menyiapkan minimal dua kader penerus, sementara setiap unit kerja diharapkan mampu melahirkan sedikitnya lima perubahan nyata dalam waktu seratus hari.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada popularitas ataupun lamanya menjabat, tetapi pada manfaat yang tetap dirasakan setelah masa kepemimpinannya berakhir. 

Menutup pidatonya, Rektor mengajak seluruh pimpinan Universitas Muslim Indonesia untuk meninggalkan jejak kebaikan dan cinta pada UMI. 

“Mari mencintai UMI melalui pekerjaan yang selesai, pelayanan yang semakin mudah, keputusan yang semakin adil, anggaran yang amanah, data yang tertib, kader yang kita siapkan, serta keteladanan yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Prof. Hambali. (*)