#TRENDING

IHSG Merosot Secara Bulanan, OJK Beberkan Penyebabnya

Saturday, 06 June 2026 | 09:54 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

JAKARTA, GOSULSEL.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara bulanan (month-to-month) mengalami koreksi tajam.

Adapun IHSG ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026. Hal ini menunjukkan koreksi 11,29% secara bulanan atau 29,14% secara year-to-date atau sepanjang tahun 2026 berjalan. Sedangkan pada akhir April 2026, IHSG ditutup di level 6.956,80.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menyebut tekanan ekonomi masih berlangsung sehingga pasar saham domestik mengalami fase tekanan dan konsolidasi sepanjang bulan Mei 2026.

PT-Vale

“Ini di tengah masih tingginya ketidakpastian baik dari domestik maupun global serta adanya upaya penyesuaian portofolio dari para investor,” jelas Hasan saat Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Mei 2026 secara daring pada Jumat (5/6/2026).

Meskipun begitu, Hasan mencermati bahwa pasar saham masih melanjutkan pergerakan dinamis. OJK terus mencermati perkembangannya.

Pada Jumat ini, IHSG masih bergerak dinamis ke level 5.637 sampai 5.639, mengutip data perdagangan dari aplikasi IDX Mobile pada pukul 14.40 WIB. Meskipun demikian secara year-to-date, IHSG masih anjlok 34,82% pada sepanjang tahun ini.

Dari sisi aktivitas penjualan oleh investor, OJK mencatatkan investor asing membukukan penjualan bersih (net sale) sebesar Rp4,1 triliun secara bulanan periode laporan.
Di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengungkap bahwa terjadi sejumlah pemicu eksternal yang turut mempengaruhi dinamika aliran modal ke Indonesia.

Hal ini dimulai dari momentum pertumbuhan ekonomi Cina yang cenderung melemah, dengan investasi yang masih tertekan dan kinerja ekspor terjaga. Sementara, perekonomian Amerika Serikat (AS) masih resiliens di tengah tekanan inflasi.

“Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta volatilitas pasar keuangan terutama aliran modal ke negara berkembang, tentunya termasuk ke Indonesia,” ujar Friderica dalam awal paparan. (*)


Tags: