Gelar Wastra Heritage Market 2026, BI Sulsel Perkuat Pasar Usaha Kreatif
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan memperkuat pasar usaha kreatif khsususnya untuk kain tradisional atau wastra hingga menembus pasar internasional
Upaya itu salah satunya diwujudkan melalui gelaran Wastra Heritage Market 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Kreatif Sulawesi Selatan (KKS) X South Sulawesi Digital Festival (SSDF) di Mal Ratu Indah (MaRI), Kota Makassar, 28 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa secara nasional sektor ekonomi kreatif, termasuk fashion, wastra, dan kuliner, menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif bukan lagi sektor pelengkap, melainkan salah satu motor penggerak ekonomi.
Karena itu, kata Rizki, BI bersama Pemerintah Provinsi Sulsel dan berbagai instansi terus mendorong agar wastra lokal mampu menjadi kebanggaan nasional bahkan menembus pasar global.
“Tahun lalu kami telah memfasilitasi salah satu desainer Sulawesi Selatan untuk tampil di Turki. Ke depan, karya-karya wastra Sulsel harus semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas para desainer Sulsel dinilai mampu bersaing dengan desainer nasional maupun internasional. Bahkan, karya mereka akan kembali ditampilkan pada ajang Karya Kreatif Indonesia sebagai etalase produk unggulan daerah.
Rizki juga menyampaikan bahwa BI juga terus memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui berbagai program pendampingan. Setiap tahun sekitar 75 UMKM mengikuti pembinaan, yang dilengkapi dengan program Riwako Petani, Riwako Ekspor, hingga Riwako Pesantren untuk mendorong kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman, menilai industri kreatif memiliki nilai ekonomi yang sangat besar karena bertumpu pada kreativitas. Menurutnya, produk seperti wastra tidak hanya dinilai dari biaya produksi, tetapi juga dari nilai seni, keunikan, dan selera pasar.
“Semakin tinggi apresiasi masyarakat terhadap wastra lokal, maka semakin tinggi pula nilai ekonominya. Karena itu, kita harus menjadikan wastra Sulsel sebagai pilihan utama masyarakat Indonesia,” katanya.
Jufri juga mengusulkan pembentukan inkubator wastra yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para desainer, pengrajin, dan pelaku usaha untuk berbagi ide, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat daya saing.
Selain itu, ia menilai peran Bank Indonesia sangat strategis dalam membantu mencarikan offtaker atau pembeli potensial bagi produk-produk wastra. Melalui pameran dan promosi yang berkelanjutan, transaksi yang awalnya masih terbatas diyakini akan terus berkembang seiring meningkatnya minat pasar. (*)