OJK Sulselbar: Penyaluran Kredit di Sulsel Capai Rp 176,30 Triliun, Sektor Perdagangan Mendominasi
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) mencatat penyaluran kredit di Sulsel mencapai Rp 176,30 Triliun atau tumbuh 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan positif itu membuktikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan untuk mendorong aktivitas ekonomi daerah melalui penyaluran kredit. Apalagi, laju tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat 3,89 persen.
Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin menjelaskan, dari total kredit yang disalurkan, kredit produktif masih mendominasi dengan nilai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen dari keseluruhan kredit.
“Sementara kredit konsumsi mencapai Rp82,50 triliun atau 47,72 persen,” ucapnya saat media briefing di Kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Kota Makassar, Senin (3/8/2026) lalu.
Dari laporan OJK Sulselbar, berdasarkan sektor usaha, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp37,96 triliun atau sekitar 21,53 persen dari total kredit. Meski masih menjadi penyumbang terbesar, sektor ini mengalami kontraksi tipis sebesar 1,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kredit di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan tumbuh 11,23 persen menjadi Rp16,51 triliun, mencerminkan masih kuatnya aktivitas sektor primer di Sulawesi Selatan.
Pertumbuhan paling tinggi justru terjadi pada sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi yang melonjak 18,07 persen menjadi Rp3,08 triliun. Disusul sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan yang meningkat 16,85 persen menjadi Rp4,28 triliun.
“Di sisi lain, sektor konstruksi mengalami kontraksi terdalam, yakni turun 7 persen menjadi Rp5,05 triliun,” lanjut Mochlasin.
Secara geografis, penyaluran kredit masih terkonsentrasi di Kota Makassar dengan nilai mencapai Rp83,40 triliun atau sekitar 53,04 persen dari total kredit di Sulawesi Selatan. Nilai tersebut tumbuh 7,15 persen dibandingkan Juni 2025.
Selanjutnya, ada Kota Palopo sebesar Rp10,42 triliun, disusul Kabupaten Bone sebesar Rp6,20 triliun dan Kota Parepare sebesar Rp6,12 triliun.
Sementara dari sisi pertumbuhan, Kabupaten Toraja Utara menjadi daerah dengan peningkatan kredit tertinggi, yakni 8,62 persen, diikuti Kabupaten Bone yang tumbuh 8,54 persen.
Meski penyaluran kredit terus menujukkan pertumbuhan positif, namu rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,70 persen, menandakan kualitas kredit tetap terkendali.
“Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan NPL sebesar 3,70 persen,” pungkas Mochlasin. (*)