Dedikasi Kurir JNE Mengantar Harapan ke Pedalaman Bone
BONE, GOSULSEL.COM – Deru mesin motor pedal milik Andi Hasanuddin (32) mulai riuh siang itu di Kelurahan Palattae, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (12/6/2026).
Kurir JNE tersebut ternyata memanaskan motor sambil mengecek kondisinya. Mulai dari mesin, bahan bakar, hingga angin pada ban diperiksa tanpa terkecuali.
Di samping motor, terlihat pula sebuah tas carrier berukuran 45 liter yang akan dibawa. Isinya, 10 paket milik warga Kecamatan Bontocani.
“Ada dokumen, obat-obatan sama pakaian,” ucap Atto-sapaan akrabnya saat ditemui.
Atto merupakan agen JNE Palattae sekaligus kurir. Wilayah pengantarannya mencakup kecamatan Kahu, Bontocani, Patimpeng, sebagian Salomekko, dan Kajuara.
Adapun Bontocani, tujuan pengantaran dari Atto merupakan salah satu kecamatan paling pelosok di Kabupaten Bone. Jalurnya sempit, terjal, hingga berbatu.
Untuk melewati medan ekstrem sepanjang perjalanan, motor Atto harus dalam kondisi terbaik. Selain itu, ban yang dipasang lebih bergerigi agar tidak mudah tergelincir di jalan berlumpur dan berbatu.
“Kalau ban kelihatan gundul, pasti akan susah dilewati. Kemungkinan jatuh besar,” lanjut Atto.
Dia memulai perjalanan dari outlet agen JNE miliknya di Jalan Andi Page. Dari sana, jarak sekitar 30 kilometer harus ditempuh untuk sampai ke Kelurahan Kahu, Kecamatan Bontocani.
Setelah itu, Atto harus melanjutkan pengantaran paket ke desa sekitar dengan jarak yang lebih jauh, salah satunya Langi yang berjarak 10 kilometer dari Kelurahan Kahu.
“Di desa Langi ini yang paketnya banyak,” ungkapnya.
Kondisi geografis di Kecamatan Bontocani memang terbilang unik. Jarak antara desa satu dengan yang lain cukup jauh, dipisahkan bukit dan hutan lebat.
Bontojai adalah desa yang paling sulit diakses. Selain jaraknya jauh, jalan menuju ke sana licin dan berbatu. Atto bahkan butuh waktu dua jam untuk pengantaran.
Dengan kondisi tersebut, Atto pun mengaku bisa seharian melakukan pengantaran di Bontocani. Pengalaman itu seringkali didapatnya ketika mendapat 30 paket atau lebih.
“Dari pagi itu sampai sore jam empat baru selesai,” katanya.
Kurir JNE, Andi Hasanuddin mengantar paket di Desa Langi, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Jumat (12/06/2026).
Tantangan lainnya adalah akses yang serba terbatas, seperti lemahnya jaringan provider. Sehingga, dia kesulitan memproses paket yang sudah diterima.
“Kalau di Kahu masih bagus, tapi di desa lain sulit. Nanti di Palattae bagus jaringan baru dikonfirmasi jika sudah diterima paketnya,” jelasnya.
Namun, Atto tidak melihatnya sebagai beban. Dari akhir tahun 2023 sampai sekarang, dia mengaku suka menjadi kurir JNE.
Menurutnya, melihat warga Bontocani menerima paketnya dengan aman adalah kebahagiaan tersendiri sebagai kurir. Apalagi tinggal di daerah pelosok, mereka tidak menyangka bisa membeli barang apa saja tanpa harus pergi jauh ke kota.
“Dari dulunya Bontocani terbilang kuno, mereka sudah mulai manfaatkan belanja online dan barangnya kita yang kirim,” jelas Atto.
Dia juga senang mendapat pendapatan tambahan sebagai kurir JNE. Cakupan pengantaran yang luas memungkinkannya bisa mengantar hingga 30 paket dalam sehari.
“Alhamadulilah yang penting bisa hidupi istri,” tutup Atto.
Di ujung barat Bone, Andi Dahniar (36), agen JNE Lappariaja bersama kurirnya, Rikal (27) harus berjibaku mengantarkan paket ke pelosok desa di kecamatan Tellu Limpoe.
Rikal berangkat dari outlet agen JNE milik Andi Dahniar di Desa Waekeccee, Kecamatan Lappariaja setiap paginya. Perjalanan ke ibukota Tellu Limpoe ditempuh sekitar 25 kilometer namun untuk ke desa lain lebih jauh lagi.
Andi Dahniar (36) di outlet agen JNE miliknya di Desa Waekeccee, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone/FOTO: IST
Hampir semua desa di Kecamatan Tellu Limpoe memang berjarak jauh karena bukan lagi terpisah oleh bukit maupun hutan seperti Bontocani. Melainkan dipisahkan kabupaten lain.
Contohnya, Desa Bontomasunggu, di mana berbatasan langsung dengan Kabupaten Pangkep. Untuk ke ibukota kecamatan Tellu Limpoe, warga harus jauh memutar dengan mengakses jalur via Camba, Maros.
“Kalau ke sana, paket yang terkumpul harus banyak lalu diantar,” ucap Niar–sapaan akrabnya.
Niar juga mengaku, kurir JNE menemui berbagai tantangan selama pengiriman di Kecamatan Tellu Limpoe. Salah satunya tidak ada jaringan internet.
Hal tersebut disebabkan sebagian besar desa di Tellu Limpoe berada di dataran tinggi yang dikelilingi bukit membuat pancaran sinyal dari menara operator sulit tembus.
“Tidak ada jaringan di sana, jadi tidak bisa dihubungi penerima paket kalau sudah ditujuan. Biasanya kurir harus hubungi dulu dari outlet,” jelasnya.
Rikal (27) bersiap mengantarkan paket ke Kecamatan Tellu Limpoe dari outlet agen JNE milik Andi Dahniar (36) di Lappariaja, Kamis (11/06/2026)/FOTO: IST
Bagi Niar, kendala itu sudah hal lumrah. Kondisi tersebut bahkan dialami sejak menjadi agen JNE pada September 2022 lalu.
Bersama Risal, sang kurir, dia hanya fokus memberikan pelayanan terbaik. Dedikasi itu membawanya disukai masyarakat, menjadikan JNE sebagai ekspedisi favorit untuk wilayah Kecamatan Tellu Limpoe, Ponre, Bengo, Libureng, dan Lappariaja.
“Banyak yang datang tiap hari untuk dikirim paketnya,” ucapnya.
Baik Atto maupun Niar, keduanya terus mengantarkan harapan bagi warga pelosok di Kabupaten Bone. Sebab, setiap paket, selalu ada cerita di baliknya–mulai dari memenuhi kebutuhan hingga menjadi obat rindu.
Bawa Kebahagiaan
Di Kelurahan Kahu, Kecamatan Bontocani, Ruha (50) menerima sebuah paket berisikan obat-obatan dari kurir JNE, Atto.
Dari dalam rumahnya dengan pintu yang terbuka lebar, dia sudah mendengar Atto yang tiba. Suaranya sudah dihafal Ruha sebab Atto adalah satu-satunya kurir JNE yang mengantar sampai ke Bontocani.
Ruha juga telah mengetahui kebiasaan Atto, seperti jam pengantaran paketnya. Dia tinggal menunggu di ruang tamu sembari menyiapkan uang pas untuk pembayaran cash on delivery atau COD.
“Kalau pun tidak datang, Atto pasti menelpon,” katanya.
Raut wajahnya terlihat bahagia dengan kedatangan Atto yang membawa dua paket obat-obatan sekaligus dengan aman dan tepat waktu.
Dia lalu menyerahkan uang tersebut. Setelahnya, Atto meminta tanda tangan sebagai bukti telah menerima paket tersebut.
Ruha sendiri membeli obat-obatan itu via toko daring lantaran tidak ada apotek di Bontocani. Paling dekat, ada di Pallatae, Kecamatan Kahu, namun kondisi fisiknya tidak memungkinkan lagi menerjang medan ekstrem ke sana.
“Jalanan rusak, kalau dipaksa kondisi kesehatan malah nanti tambah sakit,” ucapnya.
Ruha (50) menerima paket berisikan obat-obatan dari bersama kurir JNE, Andi Hasanuddin (32) di depan rumahnya di Kelurahan Kahu, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Jumat (12/06/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Dia mengaku selalu mengandalkan JNE. Selain menerima paket tepat waktu dan aman, sikap ramah Atto adalah hal paling penting, mempererat hubungan antar kurir dan masyarakat.
“Atto selalu ramah. Bahkan pernah lama menunggu karena saya ada kerjaan di kebun,” ungkapnya.
Begitu pun sebaliknya. Jika ada paket yang ingin dikirim, Ruha cukup menghubungi Atto. Biasanya dia mengirim madu trigona hasil panennya ke pelanggan di Kecamatan Kahu atau Kajuara.
“Di sini sebagian besar adalah petani madu. Kalau cuma sedikit yang dipesan, tinggal dibantu Atto untuk pengirimannya,” jelas Ruha.
JNE bukan lagi sekadar layanan logistik. Namun di balik setiap bungkusan paketnya, ada kebahagiaan Ruha yang membantunya menjalankan roda rumah tangga.
Senada dengan Ruha, Riska (28), warga Desa Langi, Bontocani juga mengaku senang jika paketnya tiba yang diantar langsung Atto.
Kali ini paketnya berupa pakaian. Kebutuhan sandang itu selalu dibelinya melalui e-commerce seperti Shopee dan Tiktok, tanpa harus lagi ke pasar di Kecamatan Kahu.
“Sekarang kebetulan internet sudah ada meski tidak kuat tapi bisa beli baju online,” jelasnya.
Tanpa dibuka, dia juga percaya kondisi paketnya selalu datang dengan aman. Apalagi, Atto sebagai kurir JNE sudah lihai menjajal medan ekstrem di Bontocani.
“Pernah sekali beli alat makan yang kaca tapi Alhamudillah tidak ada retak sedikitpun,” lanjut Riska.
Riska memakai jasa JNE sejak jaringan internet perlahan sudah menjangkau Bontocani pada tahun 2024. Saat itu pula, dia mulai bisa belanja via daring.
“Dulu bagusnya cuma di Kahu, tapi sekarang jaringan sudah ada di Langi,” tutup Riska.
Kepercayaan masyarakat Bontocani kepada JNE menjadi bukti konsistensi ekspedisi tersebut memberikan layanan terbaik. Bukan asal mengantar, namun paket yang harus diterima dengan aman dan sesuai harapan.
Semangat Gotong Royong
PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE menjadi salah satu layanan logistik terdepan yang mengantarkan paket hingga ke pelosok negeri.
Melalui agen, JNE memperluas jangkauan pengiriman paket, seperti yang dilakukannya di Kecamatan Bontocani dan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone.
Kepala Cabang Utama JNE Makassar, Suci Indah Permatasari menegaskan, komitmen perusahaan hadir di setiap daerah pelosok. Tantangan geografis tidak menjadi masalah demi kebahagiaan masyarakat selaku pelanggan, sebagaimana slogannya, Connecting Happiness.
Untuk memastikan paket diterima pelanggan, JNE juga memanfaatkan teknologi yang dapat melacak keberadaan paket secara real-time. Pelanggan pun bisa mengetahui posisinya melalui laman situs jne.co.id dan cukup mengisi nomor resi pengiriman.
“Bagi kami, setiap pelanggan memiliki hak yang sama untuk menerima kiriman, baik berada di pusat kota maupun di daerah terpencil,” jelas Suci.
Dia pun mengapresiasi dedikasi agen dan kurir yang terus mengantarkan paket pelanggan yang berada di pelosok. Kinerja mereka mendorong JNE semakin eksis di usianya yang memasuki 35 tahun.
Terlebih, di tengah tantangan medan ekstrem, mereka tetap mengedepankan Standar Operasional Perusahaan (SOP), di antaranya memastikan keutuhan paket; menunjukkan sikap ramah, sopan, dan profesional; melakukan verifikasi penerima; dan menjaga keselamatan berkendara.
“Jadi kami sangat mengapresiasi kerja keras mereka karena merekalah yang menghadirkan layanan JNE hingga ke pelosok negeri,” ucapnya.
Kepala Cabang Utama JNE Makassar, Suci Indah Permatasari bersama jajaran karyawannya di Kantor JNE Makassar, Ruko Pettarani Center, Jalan AP Pettarani/FOTO: IST
Peran agen didukung kurir JNE yang andal menjadi cerminan dari semangat gotong royong. Dari situlah, hadir sebuah slogan ‘Bergerak Bersama, Berbagi Cerita’.
Slogan itu, kata Suci, dimaknai sebagai sebuah cerita dari pelanggan yang datang dari sebuah paket yang berhasil terkirim dari semangat gotong royong–mulai pelaku UMKM mengembangkan bisnisnya sampai pelanggan yang akhirnya mendapat barang impian.
“Setiap paket memiliki cerita, dan tugas kami adalah memastikan cerita itu sampai ke tujuannya,” tutup Suci.
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik Forwarder Indonesia (ALFI) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Yodi Nalendra melihat, perusahan logistik seperti JNE telah berupaya keras memenuhi permintaan pelanggan di semua daerah, bahkan di pelosok sekalipun.
Kolaborasi atau semangat gotong royong menujukkan keberhasilan JNE membangun ekosistemnya untuk kelancaran pengiriman barang baik untuk masyarakat, pelaku UMKM, atau industri.
Pihaknya pun mengharapkan kolaborasi JNE dapat terjalin ke tingkat yang lebih luas, misalnya kepada sesama pelaku industri logistik lain.
“Sehingga setiap layanan yang dibutuhkan dan diharapkan oleh dapat dipenuhi dan terlayani,” pungkas Yodi. (*)