Menabung Angin Sebelum Berlayar: Cara Pembuat Pinisi Kelola Keuangan Melalui BNI
BULUKUMBA, GOSULSEL.COM – Aroma khas kayu besi yang terpapar matahari berbaur karib dengan bau asin laut datang dari sebuah bantilang–sebutan untuk galangan tradisional kapal Pinisi di Desa Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (19/6/2026) siang.
Di bawahnya, deru gergaji dan ketukan pasak kayu terdengar ketika Asri Arab (53) bersama pembuat kapal lain tengah mengerjakan kapal Pinisi berukuran 40 meter.
Asri saat itu memang sibuk. Kapal yang dipesan dari warga Amerika Serikat pada tahun 2022 tersebut hampir selesai, menyisakan pengerjaan interior dan mesin.
Setelahnya, kapal siap untuk annyorong lopi, yaitu ritual peluncuran ke laut yang didorong secara bersaman oleh para pembuat kapal. Tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan.
“Dengan annyorong lopi, ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kami karena sudah membuat kapal,” ujarnya.
Bagi Asri, pemesanan kapal Pinisi tidak datang setiap bulan sehingga rasa haru selalu ada ketika semuanya rampung. Namun di saat bersamaan, dia juga khawatir soal kondisi finansialnya.
Asri sadar, setelah kapal itu selesai, tidak ada lagi pemesanan dalam waktu dekat. Paling lama, dia harus menunggu enam bulan atau setahun untuk bisa bekerja kembali sebagai pembuat kapal Pinisi.
Kondisi itu bahkan bisa lebih lama sebab industri kapal Pinisi di Tanah Beru semakin banyak melahirkan pembuat kapal yang masih berusia muda.
Pembuat kapal Pinisi atau yang dikenal dengan sebutan Panrita Lopi itu datang dari Suku Ara yang tinggal di Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari. Keahliannya pun sudah diasah sedari kecil.
Asri juga berasal dari Suku Ara. Namun kondisinya tidak sekuat dulu saat mulai menekuni profesi ini pada tahun 2009 silam.
Asri Arab memperlihatkan wondr by BNI miliknya/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Kekhwatiran Asri membuatnya mulai bijak mengelola keuangan. Upah dari pengerjaan kapal yang didapat setiap bulannya, kemudian disisihkan untuk tabungan.
Adapun profesi pembuat kapal dikenal punya upah besar sebab disesuaikan dengan harga kapal. Selama proses pengerjaan, Asri bisa menerima uang setara Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bulukumba saat ini, yaitu Rp3,9 juta per bulan.
“Semisal pekerjaan kapal yang baru ini. Nilainya kan sekitar Rp7 miliar jadi lumayan besar untuk tiap pekerjanya,” jelasnya.
Asri mengandalkan aplikasi mobile banking wondr dari Bank Negara Indonesia (BNI) untuk menabung. Fitur wondr multicurrency jadi pilihannya karena dapat menggunakan mata uang Rupiah maupun berbagai mata uang asing.
Menariknya, wondr multicurrency tidak memilki biaya admin per bulan sehingga nasabah BNI seperti Asri semakin terbiasa menabung.
“Saya baru tahu kalau BNI sekarang makin praktis menabung pakai wondr,” tutup Asri.
BNI, Jangkar di Tengah Ketidakpastian
Industri pembuatan kapal Pinisi di Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba setiap tahunnya semakin bergeliat.
Dari gerbang selamat datang di kampung pembuatan kapal Pinisi, deretan bantilang menghiasi tiap rumah. Industri ini memang bukan lagi milik segilintir perusahan, masyarakat di sana mulai membangun dermaga sendiri untuk menjemput pesanan.
“Setiap rumah sudah bisa buat kapal sendiri jadi kelihatan di sampingnya ada bantilang,” ucap Asri.
Perkembangan industri ini membawa pengaruh besar bagi eksistensi Tanah Beru sebagai pembuat kapal Pinisi di dunia. Hanya saja, kesejahteraan masyarakat tidak ikut naik.
Dari penuturan Asri, literasi keuangan masyarakat Kecamatan Bonto Bahari khususnya di Desa Tanah Beru dan Ara masih minim. Mereka hanya tahu menghabiskan uang tanpa pikir panjang.
“Gaji biasanya lebih banyak dihabiskan beli pakaian semacamnya. Kebutuhan pokok bulanan ada tapi tidak banyak,” jelas Asri.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat rendahnya indeks literasi keuangan masyarakat Sulawesi Selatan di angka 36,88% sedangkan inklusi keuangannya sudah mencapai 88,57%. Sampel diambil dari berbagai kabupaten termasuk Bulukumba.
Angka tersebut menunjukkan masyarakat masih belum paham cara mengelola finansial. Padahal tingkat penggunaan produk keuangan tinggi seiring akses keuangan yang makin luas.
Kesadaran terhadap pentingnya literasi keuangan perlahan mulai muncul setelah akses keuangan digital hadir di tengah masyarakat Bulukumba, khususnya di Kecamatan Bonto Bahari.
BNI menjadi salah satu bank terdepan yang menawarkan akses keuangan yang praktis dan cepat melalui wondr, platform digital dengan berbagai layanan dari transaksi hingga investasi.
Asri, salah satu nasabah BNI yang telah menjadi pengguna wondr selama dua tahun belakangan.
Melalui wondr, pengelolaan gajinya sebagai pembuat kapal kini menjadi jauh lebih terstuktur. Begitu uang masuk di rekening, Asri tidak menghabiskannya langsung.
Asri Arab memperlihatkan wondr by BNI miliknya/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Dia membaginya ke dalam dua pos, yaitu 70% untuk kebutuhan belanja harian, dan 30% dijadikan tabungan atau dana darurat nantinya.
“Saya pelan-pelan menabung. Kalau lancar pemesanan mungkin bisa di tambah lagi simpanannya,” ucapnya.
Edukasi literasi keuangan dulunya didapat dari temannya yang datang dari Kota Makassar. Saat itu, Asri diminta mulai bijak mengelola keuangan sebab industri pembuatan kapal semakin ramai, mendatangkan persaingan sesama pengrajin.
“Saya rasakan memang sudah ketat bisnis ini. Kalau tidak ada tabungan, nanti mau makan apa,” jelas Asri.
Dengan bijak mengelola keuangannya saat ini, menurut Asri, kehidupannya berangsur stabil. Tanpa berharap pemesanan kapal Pinisi datang lebih cepat, dia masih bisa menghidupi istri dan dua anaknya dalam beberapa bulan ke depan.
“Biasanya saya juga kerja serabutan, setidaknya uang itu dipakai untuk sehari-hari,” tutupnya.
Pembuat kapal Pinisi yang jauh lebih muda dari Asri, yaitu Darsang (27) turut mengandalkan wondr by BNI untuk mengelola keuangannya.
Bedanya, Darsang yang juga berasal dari Suku Ara belajar menabung di media sosial. Dia pelan-pelan menyisihkan uang dari gajinya untuk tabungan pendidikan.
Darsang (kiri) mengerjakan lambung kapal Pinisi berukuran 15 meter bersama pembuat kapal lainnya/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
“Rencana mau lanjut sarjana tapi kalau merantau di Makassar pasti butuh banyak uang,” ucapnya.
Sejak usia 15 tahun, Darsang mulai diajak membantu dalam pembuatan kapal Pinisi. Bergelut di profesi ini membuatnya harus menunda melanjutkan pendidikan demi menafkahi keluarga.
Namun, dia ingin tetap belajar sembari membuat kapal Pinisi. Olehnya, dia masih mendalami banyak pengetahuan dari internet, salah satunya cara mengelola finansial lewat platform digital seperti wondr.
“Biar di smartphone sudah bisa belajar. Jadi saya cukup lewat situ saja,” tukas Darsang.
Sementara itu, menurut pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutarjo Tui, ada banyak faktor yang membuat masyarakat mulai terbiasa menabung.
Dia menyebut, tekanan ekonomi jadi faktor terbesar. Bukan karena fluktuasi harga bahan pokok namun semakin sedikit peluang kerja bagi masyarakat.
“Karena persaingan bisnis. Industri yang tidak bisa bertahan pasti memutus hubungan para pekerja,” jelasnya.
Sutarjo mengapresasi upaya perbankan seperti BNI yang mendorong kebiasaaan masyarakat untuk menyimpan uangnya lewat tabungan digital di wondr. Dengan begitu, mereka lebih siap menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
“Harus memang punya persiapan dan menabung adalah solusi yang tepat,” tutupnya.
Akselerasi Digital BNI
Era digital semakin berkembang, perilaku masyarakat pun ikut mengalami pergeseran. Kalau dulu, mereka bertransaksi lewat outlet atau bank, kini cukup dilakukan di aplikasi smartphone.
Kebiasaan ini juga mendorong masyarakat mulai menabung di platform digital seiring maraknya edukasi literasi keuangan di internet. Selain itu, tekanan ekonomi ikut menjadikan mereka bijak untuk mengelola finansial.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melihatnya sebagai momentum untuk meningkatkan Current Account Savings Account (CASA) atau yang dikenal dengan sebutan dana murah.
Dana murah ini dihimpun BNI dari rekening giro dan tabungan.
Untuk meningkatkan CASA, BNI menghadirkan solusi layanan perbankan digital melalui wondr. Platform ini rilis pada 5 Juli 2024, bertepatan dengan ulang tahun BNI ke-78.
Wondr by BNI menawarkan kemudahan akses menabung bagi nasabah, fleksibilitas untuk transaksi harian, dan tingkat keamanan yang tinggi.
Inovasi itu lantas membawa kinerja keuangan BNI pada kuartal I-2026 cemerlang.
BNI mencatatkan pertumbuhan dana murah mencapai 26,6% secara year on year (YoY) menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7% YoY dan tabungan 10,4% YoY.
Selain itu, hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1% di Maret 2025 menjadi 11,3% di Februari 2026. Biaya dana pun menjadi lebih efisien.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan/FOTO: IST
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” kata Putrama.
Sejalan dengan strategi tersebut, BNI juga menjalankan transformasi bisnis yang difokuskan pada wilayah, area, dan cabang, melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment).
Dengan BRAVE, BNI berupaya meningkatkan kapabilitas jaringan BNI hingga ke unit operasional terkecil, yaitu memberdayakan kantor cabang dan kantor cabang pembantu sebagai point of sale utama atas produk dan layanan perbankan.
Transformasi ini sudah dijalankan sejak kuatal IV-2025 dengan model implementasi kapabilitas yang dilakukan secara bertahap.
Putrama menjelaskan, dengan implementasi BRAVE, pertumbuhan kredit dan CASA ditargetkan dapat tumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan.
“Sekitar enam bulan setelah inisiatif BRAVE dimulai, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga,” jelasnya.
Hingga Maret 2026, tercatat kredit BNI tumbuh 20,1% YoY, ditopang oleh struktur pendanaan CASA yang semakin kuat dengan pertumbuhan 26,6% YoY, sehingga mampu menopang efisiensi biaya dana (cost of funds) di tengah kondisi dinamika pasar yang penuh tantangan. (*)