#TRENDING

OJK Sulselbar: Industri Jasa Keuangan Sulsel Jaga Tren Kinerja Positif hingga Semester I 2026

Tuesday, 04 August 2026 | 14:46 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) kembali melaporkan perkembangan kinerja industri jasa keuangan di Sulsel hingga Juni 2026 atau semester I 2026.

Dalam laporannya, kinerja industri jasa keuangan menujukkan tren positif di tengah dinamika perekonomian nasional dan global.

Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin menyatakan, kinerja sektor perbankan masih menunjukkan tren pertumbuhan positif mulai dari peningkatan aset, penyaluran kredit, dan penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) perbankan.

PT-Vale

Adapun total aset perbankan di Sulsel hingga periode tersebut mencapai Rp214 triliun atau tumbuh 5,99 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, total aset perbankan tercatat sebesar Rp200,37 triliun.

“Secara keseluruhan, industri sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan masih mencatatkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan positif,” kata Mochlasin saat media briefing di Kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Kota Makassar, Senin (3/8/2026).

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa penyaluran kredit juga terus meningkat. Hingga Juni 2026, kredit perbankan mencapai Rp176,30 triliun atau tumbuh 5,27 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar Rp167,47 triliun.

Muchlasin memandang, pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan kepada dunia usaha dan masyarakat masih berlangsung dengan baik sehingga tetap mendukung pergerakan ekonomi daerah.

Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan juga mencatatkan pertumbuhan 5,71 persen secara tahunan. Nilai DPK meningkat dari Rp141,69 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp149,77 triliun pada Juni 2026.

“Di Juni 2025 penghimpunan dana masyarakat Sulsel di perbankan itu sebesar Rp141,69 triliun. Sedangkan di periode saat ini itu tembus Rp149,77 triliun,” ujarnya.

Muchlasin menambahkan, fungsi intermediasi perbankan di Sulsel juga masih berjalan cukup tinggi. Hal itu tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 117,71 persen.

“Namun tetap didukung kualitas kredit yang terkendali dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,70 persen,” jelasnya.

Muchlasin berharap, pencapaian industri jasa keuangan utamanya perbankan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026. Terutama pada penyaluran kredit yang agresif dengan tetap memperhatikan risiko kredit di tengah tekanan ekonomi saat ini.

“Kondisi ini diharapkan dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan pembiayaan bagi sektor produktif dan penguatan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan,” tandas Muchlasin. (*)