#TRENDING

Berkat QRIS, Rezeki Pedagang Oleh-oleh di Pasar Malino Terus Berputar

Saturday, 05 September 2026 | 17:26 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

GOWA, GOSULSEL.COM – Pasar tradisional mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi saat ini. Transaksi kini sudah dapat dilakukan secara digital alias non tunai atau cashless melalui QRIS.

Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS sendiri adalah standar kode QR yang dipakai sebagai sistem pembayaran non tunai atau cashless. Metode ini diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2019 lalu.

Pembayaran non tunai itu bisa dijumpai di Pasar Sentral Malino yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

PT-Vale

Pasar ini menjadi satu-satunya pusat perdagangan di Malino dan kecamatan sekitarnya, seperti Tombolo Pao dan Parigi. Semua kebutuhan harian pun ada di sana.

Dari los depan sampai belakang, pedagang pasar terlihat memajang QRIS-nya sebagai alat bayar bagi masyarakat selain uang tunai. Terlebih, Malino yang dikenal sebagai tempat wisata favorit memudahkan wisatawan untuk belanja oleh-oleh di sana, seperti markisa, tengteng, hingga strawberry.

Suasana Pasar Sentral Malin di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten GowaSuasana Pasar Sentral Malin di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa/IST

Salah satu pedagang pasar, Irfan (36) mengaku beralih ke QRIS lantaran permintaan metode pembayaran ini semakin meningkat. Sehingga, dia mendaftarkan lapaknya ke merchant QRIS dari aplikasi perbankan miliknya.

“Sering ditanya, bisa pakai QRIS?. Sayangnya kalau tidak bisa dia biasa beralih ke lapak lain,” ucapnya, Selasa (1/9/2026).

Sebenarnya, Irfan mengaku punya pilihan pembayaran via transfer bank. Hanya saja, pelanggan sering mengeluhkan biaya admin antar bank yang mencapai Rp6 ribu.

Dengan begitu, dia pun mulai memasang QRIS di akhir tahun 2025. Hingga kini, volume transaksi melalui digitalisasi itu sudah hampir setara dengan uang tunai.

“Paling banyak wisatawan yang mau beli oleh-oleh itu pakainya QRIS,” lanjut Irfan.

Sementara itu pedagang lainnya, Daeng Eja (56) masih baru menggunakan QRIS sebagai alat pembayarannya. Dulu, dia hanya mengandalkan uang tunai seiring kurangnya pemahaman soal transaksi digital.

“Karena saya tidak tahu, maunya uang tunai saja,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, animo masyarakat dan wisatawan yang bertransaksi via QRIS semakin meningkat. Dia lantas meminta kepada anaknya untuk diajar memanfaatkan alat bayar non tunai itu.

“Saya minta anakku daftarkan karena waktu itu saya belum tahu apa-apa,” jelasnya.

Menurut Daeng Eja, penggunaan QRIS gampang dan aman. Dengan dukungan jaringan internet di Malino yang stabil, masyarakat, wisatawan, maupun pedagang mudah bertransaksi digital.

“Sekarang jaringan disini lancar, jadi kalau bayar pakai QRIS sudah bisa. Pedagang lain juga begitu,” tukasnya.

Dari sisi pengunjung, Zulfadly (25) melihat pembayaran dengan menggunakan QRIS lebih praktis. Uang yang dikeluarkan pas tanpa ada lagi pengembalian.

Zulfadly bukan orang baru yang berkunjung di Malino. Dia sudah sering ke daerah berjuluk kota bunga itu untuk liburan bersama keluarga dan teman.

Namun ketika membeli oleh-oleh, dia acap kali kesal ketika membayar pakai uang tunai namun pengembaliannya dalam bentuk uang recehan. Sebab, gampang tercecer jika tidak disimpan dengan baik.

“Kalau uang koin atau Rp2 ribuan kadang kalau disimpan di kantong celana, pas diambil hilang. Padahal bisa dipakai tambah beli sesuatu,” jelasnya.

Untuk itu, dia sekarang lebih sering menggunakan QRIS ketika membeli oleh-oleh mengingat mayoritas pedagang di pasar sentral Malino sudah menyediakan pembayaran digital tersebut.

“Selalu pakai QRIS, biar makan juga kecuali kalau isi bensin,” tambahnya.

Inovasi QRIS dari BI sudah bisa dimanfaatkan di semua aplikasi perbankan dan dompet digital. Alat bayar digital tersebut mendorong masyarakat semakin percaya diri bertransaksi tanpa membawa dompet.

Hingga Juni 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat volume transaksi QRIS mencapai 28,8 juta transaksi dengan nilai nominal Rp4,57 triliun, naik signifikan 139,6 persen secara tahunan (yoy).

Tren tersebut didukung pertumbuhan pengguna aktif QRIS sebesar 1,48 juta orang, bertambah 17,47 persen secara tahunan.

“Ini juga didukung perluasan titik akseptasi menjadi 1,46 juta merchant atau bertambah 16,5 persen yoy,” ujar Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda saat media gathering di Bali, Kamis (27/9/2026).

Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda

Angka tersebut menunjukkan gaya hidup masyarakat Sulsel mengalami pergeseran. Dari transaksi konvensional, kini mereka sudah cerdas memilih alat bayar yang mudah, cepat, dan fleksibel.

Kehadiran QRIS di pasar sentral Malino juga semakin memperluas cakupan pembayaran digital di luar kota besar. Apalagi, transaksi hingga Rp500 ribu tidak dikenakan Merchant Discount Rate (MDR) atau biaya layanan kepada konsumen.

Memasuki tahun ke delapan QRIS, Rizki menegaskan komitmen BI Sulsel untuk tetap memberikan edukasi terkait kemudahan bertransaksi lewat digital. Selain cepat, keamanan pun terjamin.

“Perluasan akseptasi QRIS akan terus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat dalam menjaga keamanan data pribadi, PIN, OTP, serta informasi penting lainnya,” tutupnya. (*)