#TRENDING
FOTO: sulselprov.go.id

Gubernur Andi Sudirman Sasar 3.060 Desa untuk Percepatan Penurunan Stunting

Wednesday, 04 November 2026 | 21:48 Wita - Editor: A Nita Purnama -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperluas jangkauan penanganan stunting dengan menggerakkan intervensi gizi hingga tingkat desa dan kelurahan. Melalui Program Aksi Stop Stunting (ASS) 2026, sebanyak 3.060 desa dan kelurahan di 24 kabupaten/kota menjadi sasaran pendampingan ibu hamil dan balita yang membutuhkan perhatian khusus terkait pemenuhan gizi.

Program tersebut resmi diluncurkan Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, di Baruga Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Selasa (03/11/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Sulsel memastikan pencegahan stunting tidak hanya berfokus pada penanganan anak setelah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan kebutuhan gizi ibu.

PT-Vale

Andi Sudirman mengatakan, setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga sasaran.

“Tahun ini kita melakukan pendampingan melalui PMT lagi untuk melibatkan 3.060 desa kelurahan se-sulawesi selatan, kader desa, PKK, Insya Allah dalam 2 bulan kita laksanakan sampai akhir Desember. Harapan kita ada perubahan signifikan nanti penurunan stunting di Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Pelaksanaan ASS 2026 menyasar dua kelompok utama, yakni balita berusia 0–59 bulan yang mengalami permasalahan gizi serta ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) maupun yang memiliki risiko mengalaminya.

Intervensi yang disiapkan tidak sebatas Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pemprov Sulsel juga menyediakan dukungan berupa Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), Multivitamin Taburia, Multiple Micronutrient Supplements (MMS), serta susu bagi ibu hamil sesuai ketentuan.

Setiap keluarga penerima manfaat akan memperoleh penjelasan mengenai intervensi yang diberikan sekaligus pemantauan selama program berlangsung. Pendekatan tersebut dilakukan agar bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penerima.

Gubernur Andi Sudirman menegaskan, ketepatan pendataan dan standar pengukuran menjadi hal penting dalam pelaksanaan program. Ia mengingatkan agar pendampingan terhadap keluarga tidak berhenti hanya karena bantuan gizi telah diberikan.

“Kita ingin memastikan setiap sasaran mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya. Karena itu, pendataan harus akurat, pengukuran dilakukan sesuai standar, dan pendampingan tidak boleh berhenti setelah intervensi diberikan,” tegasnya.

Selain penanganan langsung melalui intervensi gizi, Andi Sudirman juga mengingatkan pentingnya membangun kesadaran keluarga mengenai pencegahan stunting sejak awal kehamilan.

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemenuhan asupan gizi ibu, serta pendampingan pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai tahapan usia anak merupakan bagian penting dalam menjaga tumbuh kembang generasi mendatang.

Untuk memastikan program berjalan hingga tingkat masyarakat, Gubernur meminta seluruh bupati dan wali kota di Sulawesi Selatan turut mengawasi pelaksanaannya di daerah masing-masing.

Ia juga menekankan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelayanan kesehatan. Ketersediaan pangan bergizi dalam keluarga, akses terhadap air minum dan sanitasi layak, perlindungan sosial, serta edukasi masyarakat harus berjalan beriringan.

Dalam pelaksanaannya, Pemprov Sulsel melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, Tim Penggerak PKK tingkat provinsi hingga desa dan kelurahan, tenaga kesehatan, sampai kader Posyandu.

Gubernur turut memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam pelayanan kesehatan dan pendampingan keluarga, khususnya kader PKK, kader Posyandu, bidan, nutrisionis, dokter, serta tenaga kesehatan lainnya.

Ia berharap keterlibatan seluruh unsur tersebut dapat menjaga keberlanjutan program sekaligus memastikan keluarga yang membutuhkan mendapatkan perhatian secara langsung.

“Harapan saya semua kader semangat, karena ini betul-betul kerja gotong royong untuk masyarakat kita, dan kedua adalah ini anak-anak kita semua yang sangat membutuhkan perhatian dan dukungan,” harapnya.

Melalui Aksi Stop Stunting 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berharap upaya perbaikan gizi ibu dan anak semakin menjangkau masyarakat hingga pelosok desa. Dengan pendampingan yang terarah dan keterlibatan lintas sektor, program ini diharapkan memberikan dampak nyata terhadap percepatan penurunan angka stunting di Sulawesi Selatan. (*)