FOTO: sulselprov.go.id

Sulsel Genjot Hilirisasi dan Investasi Hijau, Forum Pinisi Sultan 2026 Jadi Motor Transformasi Ekonomi

Tuesday, 28 April 2026 | 02:20 Wita - Editor: A Nita Purnama -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bank Indonesia Perwakilan Sulsel kembali menggelar Dedicated Team Meeting Forum Pinisi Sultan 2026 di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel, Senin (27/04/2026). Forum ini menjadi langkah strategis untuk mendorong transformasi ekonomi daerah melalui hilirisasi dan investasi berkelanjutan.

Mengangkat tema Transformasi Ekonomi Sulsel melalui Hilirisasi dan Penguatan Investasi Berkelanjutan, kegiatan ini menegaskan posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu motor pertumbuhan baru nasional. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan Sulsel sebagai Superhub Ekonomi Nusantara.

Forum tersebut juga menjadi wadah sinkronisasi antara pemerintah, regulator, investor, dan pelaku usaha guna mempercepat realisasi proyek strategis sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah.

PT-Vale

Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman yang juga Ketua Forum Pinisi Sultan, mengungkapkan bahwa kinerja ekonomi Sulsel sepanjang 2025 menunjukkan hasil yang positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,43 persen, PDRB per kapita sebesar Rp78,75 juta, dan inflasi tetap terkendali di angka 2,84 persen.

“Namun, kita tidak boleh berpuas diri. Tantangan global dan target jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045 menuntut kita melakukan transformasi ekonomi yang lebih fundamental,” kata Jufri.

Ia menjelaskan, transformasi ekonomi tersebut difokuskan pada tiga hal utama, yakni percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, penguatan investasi berkelanjutan berbasis ramah lingkungan, serta optimalisasi peran Forum Pinisi Sultan dalam mengatasi hambatan investasi dan mempermudah kegiatan usaha.

Menurut Jufri, hilirisasi menjadi langkah penting karena Sulsel memiliki banyak komoditas unggulan. Mulai dari sektor tambang seperti nikel, perikanan seperti tuna, tongkol, cakalang, rajungan, udang, rumput laut, dan garam, hingga perkebunan dan kehutanan seperti kakao, kopi, kelapa, dan getah pinus.

Di sektor perikanan, Sulsel tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 4,01 juta ton serta penyumbang utama rajungan nasional sebesar 41,97 persen. Produksi udang mencapai 74.000 ton, sementara produksi garam meningkat tajam dari 5,84 ribu ton menjadi 30,10 ribu ton.

Sementara itu, pada sektor perkebunan, Sulsel tetap menjadi salah satu sentra kakao nasional dan mencatat produksi kelapa sawit sebesar 104.000 ton pada 2024, didukung potensi besar komoditas kelapa.

“Hilirisasi menjadi agenda strategis karena arah kebijakan pemerintah pusat sangat jelas,” ujarnya.

Ia menambahkan, program hilirisasi nasional hingga 2040 diperkirakan mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi hingga 235,9 miliar dollar AS dan membuka lebih dari tiga juta lapangan kerja. Karena itu, Sulsel diharapkan tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga berkembang sebagai pusat industri pengolahan.

Dalam kesempatan tersebut, Jufri juga mengingatkan pentingnya penyesuaian strategi investasi di tengah dinamika perdagangan global. Meski neraca perdagangan Sulsel periode 2021–2025 masih surplus, nilai ekspor mengalami penurunan dari 2,217 miliar dollar AS pada 2023 menjadi 1,583 miliar dollar AS pada 2025.

“Data menunjukkan tren yang menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang adaptif,” ujarnya.

Penurunan ini, khususnya pada komoditas nikel yang mendominasi 56,11 persen ekspor Sulsel, menjadi sinyal bahwa ketergantungan pada bahan mentah perlu dikurangi.

Di sisi lain, realisasi investasi Sulsel pada 2025 justru menunjukkan peningkatan signifikan. Nilainya mencapai Rp19,544 triliun atau tumbuh 39,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi tersebut didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp11,528 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) Rp8,016 triliun.

Peningkatan investasi ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja yang naik 12,12 persen, dengan total 26.130 orang terserap hingga 2025.

Secara wilayah, investasi terbesar berada di Kota Makassar sebesar Rp5,293 triliun, disusul Luwu Timur Rp4,207 triliun, Luwu Rp2,818 triliun, Maros Rp1,673 triliun, dan Gowa Rp871 miliar.

Jufri menegaskan, capaian tersebut harus terus dijaga dengan memastikan investasi berjalan lancar melalui penyelesaian berbagai hambatan di lapangan.

Ia juga menyebut, berdasarkan peta jalan hilirisasi nasional, Indonesia memiliki peran penting sebagai produsen global untuk 28 komoditas strategis di delapan sektor utama, dengan Sulsel sebagai salah satu daerah kunci dalam rantai nilai tersebut.

“Melalui momentum ini, saya mengajak kita semua menyelaraskan langkah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berkomitmen memberikan kemudahan perizinan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif,” ujarnya.

Jufri berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan mudah diterapkan untuk meningkatkan daya saing daerah sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Ia menegaskan, hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan ekspor, tetapi juga memperluas industrialisasi di daerah dan menciptakan nilai tambah di tingkat lokal.

“Mari kita jadikan komoditas unggulan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Kita punya lahannya, kita punya SDM-nya, dan kita punya semangatnya. Dengan hilirisasi, kita wujudkan Sulawesi Selatan sebagai pilar utama kedaulatan ekonomi nasional,” pungkasnya.

Forum ini turut dihadiri Ketua Komisi C DPRD Sulsel Andre Prasetyo Tanta, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel Rizki Ernadi Wimanda, para bupati dan wali kota se-Sulsel, serta sejumlah pejabat dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Investasi/BKPM, dan pemangku kepentingan lainnya.

Selama ini, Forum Pinisi Sultan berperan sebagai wadah koordinasi lintas sektor untuk mempercepat investasi, mengatasi hambatan proyek strategis, serta mendorong transformasi ekonomi Sulawesi Selatan. (*)