Paradaya Bangkitkan Kopi Bantaeng, Gebrak Pasar Internasional
BANTAENG, GOSULSEL.COM – Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah sangat lama dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Salah satunya berasal dari Kabupaten Bantaeng.
Hanya saja, nama Bantaeng tidak begitu terkenal sebagai daerah penghasil kopi. Nama-nama yang sering muncul adalah Tana Toraja, Enrekang, dan Malino Gowa.
Padahal Bantaeng juga memiliki kualitas kopi terbaik, seperti standar yang tinggi, aroma yang khas, hingga rasa seimbang dengan keasaman yang segar.
Hal itu mendorong PT Lasico Agro Sentosa melalui Paradaya Coffee memilih membangkitkan kopi Bantaeng. UMKM ini punya visi membawa biji kopi dari Butta Toa–sebutan Bantaeng untuk menembus sekat-sekat pasar internasional yang didominasi Aceh dengan kopi gayonya, kintamani dari Bali, hingga kalosi di Toraja dan Enrekang.
Paradaya Coffee mengolah biji kopi dari dataran tinggi di Kabupaten Bantaeng, seperti di Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng yang merupakan penghasil kopi jenis arabika.
“Tiga desa penghasil arabika yang paling atas itu Desa Labbo, Pattaneteang, dengan Bontotappalang, dan selebihnya adalah robusta,” ujar Hendri Murdani (42) selaku pemilik Paradaya Coffee kepada Gosulsel, Selasa (12/5/2026).
Sebelumnya, Hendri mengaku melakukan riset terhadap kualitas biji kopi di Bantaeng terlebih dahulu pada 2022. Hasilnya, komoditas itu berasal dari variestas tua seperti arabika bourboun, typica, dan heirloom yg sudah dikembangkan sejak zaman kolonial Belanda.
“Dan mungkin di daerah-daerah lain pun ada cuman tidak sebanyak Bantaeng kalau saya lihat,” jelasnya.
Kemudian di tahun berikutnya, Paradaya Coffee mulai beroperasi dengan membeli kopi lokal di sana lalu dijual untuk melihat animo pasar.
“Nah di tahun 2024 kami mulai memproduksi secara mandiri,” ucapnya.
Paradaya Coffee, lanjut Hendri, memproduksi biji kopi dalam skala besar. Pengolahannya dilakukan di aset pemerintah kabupaten Bantaeng, yaitu di Sentra IKM Pengolahan Kopi di Banyorang, Kecamatan Tompobulu.
“Nah, kami bekerja sama memproduksi, sebenarnya kapasitas produksi kami cukup besar bisa 10 sampai 20 ton bisa,” katanya.
Setelahnya, Paradaya Coffee memasarkan biji kopi ini ke pasar nasional, seperti pulau Jawa khususnya Jakarta dan Sulawesi Selatan untuk beberapa daerah melalui pameran dan penjualan langsung ke roastery.
Sementara untuk pasar internasional, Hendri menyebut sudah dijual ke Singapura, Belanda, dan Korea Selatan. “Ada meskipun saat ini baru dalam skala kecil,” katanya.
Menurut Hendri, kopi dari Bantaeng kurang dikenal di pasaran lantaran tidak ada bisnis pengolahan kopi yang mampu memproduksi skala besar. Masuknya Paradaya Coffee diharap menjadi pemain utama untuk membuat komoditas ini semakin eksis.
“Karena saya sebagai pemerhati kopi juga melihat kalau ada potensi besar dari kopi Bantaeng ini,” ucapnya.
Hendri juga memastikan harga jual biji kopi di Paradaya Coffee relatif terjangkau. Hal itu dibuktikan dengan permintaan yang tinggi dari roastery lokal.
“Produk kami untuk sekelasnya tidak mahal sebenarnya justru ini terjangkau,” ungkapnya.
Untuk memperkuat bisnisnya, Paradaya Coffee mendapat pendampingan dari Rumah BUMN melalui program BRIncubator pada tahun 2025.
Di sana, kata Hendri, beragam pelatihan diberikan dari pemateri yang sudah berkompeten di bidang UMKM, mulai dari manajamen keuangan, scale up bisnis, hingga digital marketing.
Rumah BUMN juga memfasilitasi pameran. Ini sekaligus menjadi momentum bagi Paradaya Coffee memperkenalkan kopi Bantaeng ke masyarakat secara luas.
“Kami diajak pameran, produk kami dipajang, dan itu harganya jauh lebih mahal daripada sekadar bantuan uang tunai. Karena dengan dikenal, orderan datang sendiri. Kalau cuma uang, mungkin habis dipakai beli alat, tapi kalau pasar sudah terbentuk, bisnis akan berputar terus,” ungkap Hendri.
Dengan dukungan BRI, Paradaya Coffee sudah memiliki manajemen bisnis yang lebih tertata dengan penerapan digitalisasi, seperti transaksi lewat QRIS dan tools untuk mengatur keuangan. Begitu pula dengan kelengkapan administrasinya.
“BRI sangat mendorong kita bahwa jika ingin kita ini kan bisnis ini sudah jalan, tapi bagaimana caranya kita men-upscale kita punya bisnis, ya harus kita memakai tools-tools itu,” jelas Hendri.
Dia berharap BRI konsisten memberdayakan UMKM. Sama seperti yang dilakukannya kepada Paradaya Coffee yang terus memberi pendampingan sampai sekarang.
“Harapan kami ke depan bahwa pendampingan-pendampingan seperti ini bukan hanya di awal saja, tetapi berkelanjutan. Dan alhamdulillah sejauh ini BRI masih terus memantau kami,” tutup Hendri.
Rumah BUMN mengambil peran penting dalam kesuksesan UMKM Paradaya Coffee memperkenalkan kopi dari Bantaeng ke pasar nasional dan internasional.
Berlokasi di Jalan Ratulangi, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Rumah BUMN menawarkan fasilitas pendampingan dan pemasaran yang disesuaikan kebutuhan UMKM. Program itu dinamai BRIncubator.
BRI Region 15 Makassar selaku pengelola Rumah BUMN membuka program BRIncubator setiap empat bulan sekali. UMKM yang mendaftar lebih dulu di kurasi sebelum bergabung.
Semua jenis UMKM bisa mendaftar, mulai dari food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft. Ke depan, usaha yang berfokus layanan jasa juga dapat bergabung.
Pendaftaran bisa diumumkan melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menegaskan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai bagian dari pilar strategi pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable.
“Pemberdayaan ini penting karena kami tidak hanya memberikan modal berupa kredit (KUR), tetapi juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.
Selain itu, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
“Target kami adalah bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tutup Iwan. (*)