Hadapi Musim Sepi Orderan, Pembuat Kapal Pinisi Mulai Cerdas Atur Keuangan
BULUKUMBA, GOSULSEL.COM – Tomi (50), pembuat Kapal Pinisi di Desa Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mulai was-was terhadap sepinya pesanan.
Kecemasan itu datang ketika melihat kondisi persaingan di industri kapal Pinisi semakin ketat. Mereka khususnya pembuat kapal yang sudah berusia tua juga khawatir tidak lagi dipanggil untuk bekerja.
Tomi melihat, pebisnis kapal Pinisi saat ini lebih banyak merekrut anak muda. Sedangkan pembuat kapal sebayanya jarang dijumpai di bantilang–sebutan untuk galangan kapal tradisional Pinisi.
“Mereka dianggap kuat untuk pekerjaan ini, staminanya masih bagus untuk bisa bekerja seharian,” ujarnya saat ditemui, Jumat (19/6/2026).
Untuk itu, Tomi mencari cara agar bisa bertahan. Salah satu yang dilakukannya saat ini adalah mengelola keuangan dengan bijak.
Dia mulai menabung sejak tahun lalu saat mendapat pekerjaan membuat kapal wisata berukuran 15 meter. Pengerjaan kapal itu dilakukan selama dua tahun dengan mendapat upah setara dengan Upah Minumum Kabupaten (UMK) Bulukumba, yaitu Rp3,9 juta.
Sebagai nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Tomi menabung melalui BRImo, platform digital perbankan dari bank terbesar di Indonesia itu. Sebab, upah yang diterima bukan uang tunai melainkan di transfer langsung ke rekening miliknya.
Dia menyisihkan uang sekitar Rp1 juta tiap bulan dari upahnya untuk tabungan. Sisanya dipakai untuk keperluan harian seperti membeli bahan pokok.
Pembuat kapal Pinisi, Tomi (50) saat mengecek kapalnya yang sudah hampir selesai di Desa Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (19/6/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
“Jadi saya bisa langsung menabung. Kalau uang tunai, harus setor tunai lagi,” ucapnya.
Melalui BRImo, dia menempatkan uangnya untuk sekadar tabungan dan sebagian dijadikan sebagai investasi di pasar uang reksa dana.
Hingga kini, tabungan yang terkumpul sudah mencapai Rp20 juta. Nilai itu bisa bertambah hingga pengerjaan kapal selesai pada Agustus 2026 nanti.
“Kalau reksa dana, saya pilih pasar uang karena resikonya kecil tapi tetap ada bunganya,” katanya.
Ketika pengerjaannya selesai, pesanan tidak bakal datang begitu cepat. Paling lama, dia harus menunggu enam sampai tahun depan untuk mendapat pekerjaan membuat kapal Pinisi lagi.
Meski begitu, Tomi tidak langsung menggunakan tabungannya untuk kebutuhan harian. Biasanya, dia mencari pekerjaan lain, seperti memanen cengkeh atau membudidayakan rumput laut.
Upahnya tidak besar seperti pembuat kapal Pinisi. Namun, dia tetap menabung agar kondisi finansialnya tetap stabil.
“Kalau pekerjaan di luar kapal, upahnya memang banyak lari ke belanja harian karena upahnya sedikit,” ungkap Tomi.
Pemahaman mengenai pentingnya menabung didapatnya dari petugas BRI yang sempat datang di Kantor Desa Tanah Beru. Selain itu, agen BRILink yang sering disambangi untuk setor tunai juga terus mengingatkan untuk memulai investasi.
“Dari situ saya pikir ada baiknya untuk memulai menabung karena memang pembuat kapal Pinisi tidak selamanya dapat pekerjaan,” tutup Tomi.
Demikian juga yang dilakukan Jeki (22). Meski masih muda, dia sudah belajar menabung di BRImo.
Upah yang disisihkan, kata Jeki, memang saat ini tidak banyak, yaitu sekitar 20 persen dari gaji yang didapatnya sebesar Rp3 juta per bulan untuk pengerjaan kapal berukuran 35 meter selama 2,5 tahun.
Upah tersebut masih terbilang kecil ketimbang Tomi. Sebab, penentuan nominalnya ditentukan dari pengalaman kerja.
Jeki (22) saat ditemui di salah satu warung kopi di Kota Bulukumba, Jumat (19/6/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL
Olehnya, dia menyisihkan uang untuk tabungan sedikit demi sedikit sejak pengerjaan kapal dimulai pada Januari 2026 lalu. Sisanya digunakan membiayai keluarga khususnya dua adiknya yang masih bersekolah.
“Tapi Alhamdulillah sudah konsisten setiap bulan. Rencana mau dipakai juga untuk lanjut kuliah,” jelasnya.
Jeki juga ingin menaruh sebagian upahnya untuk investasi. Saat ini, dia masih belajar perihal risiko, perkembangan pasar modal, dan imbal hasil setiap instrumen investasi.
“Saya masih bingung sebenarnya mau investasi di mana, jadinya belajar dulu,” tukasnya.
BRI menghadirkan BRImo, super app yang menawarkan berbagai layanan perbankan secara digital, mulai dari transfer, menabung, investasi, pembayaran tagihan, hingga top up dompet elektronik atau pulsa.
BRImo mengandalkan transaksi yang cepat dengan tingkat keamanan yang tinggi bagi nasabah. Dengan keunggulan itu, penggunanya saat ini telah mencapai 47,8 juta hingga triwulan I 2026, meningkat 18,6% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Perilaku masyarakat yang tidak lagi konsumtif, melainkan beralih ke menabung dan investasi menjadi bukti bahwa BRImo mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat.
RCEO BRI Regional 15 Makassar, D. Argo Prabowo/GOSULSEL
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, menegaskan komitmen BRI untuk memperkuat ekosistem keuangan nasional lewat peningkatan literasi.
Olehnya, BRI terus mensosialisasikan BRImo melalui program edukasi. Sebab peran perbankan saat ini bukan hanya sekadar menghadirkan layanan produk namun ikut ambil bagian memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengelolaan finansial yang bijak.
“Kami juga menyediakan berbagai program literasi, mulai dari literasi dasar, literasi bisnis, hingga literasi digital agar masyarakat bisa berkembang dan naik kelas,” tutup Argo. (*)