#TRENDING

BBM Satu Harga Jaga Asa Kehidupan Nelayan di Pulau Terluar Pangkep

Friday, 30 October 2026 | 15:26 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

PANGKEP, GOSULSEL.COM – Subuh di dermaga kayu Pulau Kalukalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan selalu dimulai dengan bunyi jerigen plastik.

Jerigen itu lalu dibawa puluhan nelayan ke SPBU yang hendak mengisi solar. Hampir setiap hari, rutinitas itu mereka lakukan sebelum melaut.

Dan, Amin (42) juga ikut mengantri. Dua jerigen berkapasitas 30 liter yang dibawanya diisi solar untuk bahan bakar perahu kecilnya.

PT-Vale

Setelahnya, dia bersiap menangkap ikan cakalang, tuna, dan kerapu. Ikan-ikan itu hidup di tengah Selat Makassar, salah satu perairan yang dalam namun penuh keanekaragaman hayati.

Amin sudah lama menjadi nelayan. Lebih dari 30 tahun melaut, dia baru merasakan bahan bakar minyak (BBM) yang murah setelah SPBU Satu Harga hadir di Pulau Kalukalukuang pada akhir tahun 2022.

“Kemarin harus beli di pengecer, harganya jauh lebih mahal,” ucapnya, Senin (26/10/2026).

Bukan cuma mahal, kelangkaan solar sering terjadi. Dulu, bagi Amin, memeriksa tangki bahan bakar perahunya adalah momen paling mencemaskan.

Amin mengaku bahkan jarang melaut saat itu. Dalam seminggu, dia hanya mampu bekerja dua sampai tiga hari.

“Kalau tidak ada, biasanya lebih banyak tinggal di rumah,” lanjutnya.

Dari kondisi geografis, Pulau Kalukalukuang masuk dalam wilayah Terdepan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Dari Kota Makassar, jarak tempuh menuju ke sana yaitu 30 jam.

Jaraknya bisa jauh lagi apabila nelayan menuju ke dataran Pangkep. Untuk ke dermaga Maccini Baji saja yang berada di Kecamatan Labakkang, mereka bisa menghabiskan waktu 42 jam.

Menurut Amin, kondisi tersebut membuat nelayan enggan mengisi solar di sana. Biaya perjalanan menjadi lebih mahal ketimbang pengisian bahan bakar.

“Rugi dua kali ki, belum lagi kalau ada masalah di kapal nanti,” jelasnya.

Jarak tempuh puluhan jam itu membuat solar menjadi barang mewah. Asa nelayan untuk sering melaut harus buyar ketika bahan bakar tak tersedia.

Jika terpaksa beli di pengecer, nelayan harus rela mengutang. Lalu keuntungannya dari hasil tangkapan ikan kembaii untuk menutup utang bensin ke pengecer. Nelayan pulau pun terperangkap dalam lingkaran kerja keras tanpa sisa.

Namun dia mengaku tidak punya pilihan waktu itu. Dapur keluarga harus mengebul. Bahan pokok tetap tersedia meski harganya naik turun.

“Saya punya dua anak masih kecil. Makanannya harus tercukupi. Istri juga kadang minta sesuatu, saya harus penuhi,” tutupnya.

Melaut Tenang Menjemput Fajar

Masa kelam itu setidaknya berlangsung hingga akhir tahun 2022. Sebab, di tahun berikutnya, SPBU telah hadir di Pulau Kalukalukuang.

Kehadiran SPBU di pulau terluar tersebut merupakan kerjasama dari PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi dan PT PT Pulau Raya Kalmas.

Adapun PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi bertindak sebagai penyalur dua jenis BBM yaitu solar dan Pertalite. Sementara PT Pulau Raya Kalmas mengelola SPBU di sana.

SPBU itu disambut meriah oleh para nelayan termasuk Amin. Dia akhirnya bisa menikmati bahan bakar dengan harga yang sama di perkotaan, yaitu solar Rp6.800 dan Pertalite Rp10 ribu per liter.

“Bayangkan dulu saya bisa tekor cuma untuk beli solar di pengecer. Mau tidak mau harus dibeli,” ujarnya.

Dari harga dan energi yang setara, roda perekonomian nelayan Pulau Kalukalukuang terus berjalan. Tidak ada lagi ketimpangan yang membuat mereka hidup sengasara.

“Kita cuma minta hidup tenang. Tidak perlu kaya, yang penting mencukupi kebutuhan keluarga,” jelas Amin.

Selain di Pulau Kalukalukuang, ketenangan hidup berkat BBM satu harga dirasakan warga dua pulau terluar di Pangkep lainnya, yaitu Matalaang, Kecamatan Liukang Tangaya, dan Kapoposang, Kecamatan Liukang Tupabbiring.

Dua daerah itu juga telah dibangun SPBU Satu Harga. Pangkalan di Matalaang beroperasi sejak tahun 2019 dan di Kapoposang pada akhir 2022.

SPBU di Matalaang menjadi pangkalan bahan bakar paling jauh dari dataran Kota Makassar maupun Pangkep. Dan justru lebih dekat ke Kalimantan Selatan (barat) dan Nusa Tenggara Barat (selatan).

Taufiq Malik, penanggujawab ketiga SPBU itu mengatakan, bahan bakar dengan harga setara sangat dinantikan warga di pulau terluar tersebut. Menjawab kebutuhan mereka, pangkalan itu berhasil dibangun berkat kolaborasi bersama Pertamina.

“Kami juga melihat potensi di sana yang belum tersentuh BBM harga murah. Makanya kita diberikan jalan untuk penyaluran,” jelasnya.

Saat ini, ketiga SPBU tersebut memiliki kuota bulanan sebesar 80 kiloliter (kl) untuk solar dan Pertalite yaitu 16 kl.

Kebutuhan solar, kata Taufiq, memang tinggi di pulau tersebut. Pasalnya, kapal nelayan rata-rata mengomsumsi bahan bakar ini untuk melaut.

“Kalau Pertalite kurang favorit karena motor di sini tidak sering dipakai,” ucapnya.

Setelah kuota habis, penyaluran tetap berjalan. Kapal mini tangker milik PT Pulau Raya Kalmas berlayar ke pulau tersebut dengan membawa bahan bakar sesuai kebutuhan nelayan.

Kapal tangker mini itu berangkat dari Pelabuhan Soekarno Hatta, Kota Makassar usai muatan bahan bakar diisi oleh armada PT Elnusa Petrofin, cucu usaha Pertamina.

Sedikitnya 10 awak kapal bekerja di dalamnya. Mereka pun memastikan penyaluran berjalan lancar sampai tujuan.

“Kita berangkatnya subuh, paling cepat jam 3 subuh karena masing-masing pulau jaraknya kan jauh,” lanjut Taufiq.

Mewujudkan Kemandirian Energi

Ketersedian bahan bakar dengan harga yang setara di pulau terluar Pangkep menunjukkan kemandirian energi telah benar-benar terwujud di sana.

Lanskap kehidupan nelayan di pulau terluar Pangkep pun berubah. Dari susah payah mencari bahan bakar mahal ke pengecer, kini hadir SPBU dengan harga yang setara.

Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto menjelaskan bahwa program BBM Satu Harga hadir untuk mewujudkan kemandirian energi di pedesaan khususnya yang masuk dalam kategori 3T.

“Dari dulu zaman Presiden Jokowi juga sudah dicanangkan untuk BBM Satu Harga dan harganya masih sesuai, sama, Pertalite maupun solar,” ujar beberapa waktu lalu.

Karena ini masuk program prioritas dan merupakan mandat dari pemerintah pusat, dia juga memastikan kelancaran penyaluran BBM ke daerah 3T seperti pulau terluar di Pangkep tanpa ada tebang pilih.

Meski distribusi jalur laut sering dihadapkan berbagai tantangan, Pertamina Patra Niaga Sulawesi telah menyiapkan sejumlah skema penyaluran, salah satunya lewat kapal Self-Propelled Oil Barge atau SPOB dengan keamanan tingkat tinggi.

“Dan sejauh ini distribusi masih berjalan normal, maksudnya ke daerah 3T dan harganya memang satu harga,” ujarnya.

Bahkan dengan melihat kebutuhan bahan bakar di pulau 3T yang semakin meningkat, pihaknya turut mendorong besaran kuota bulanan naik.

“Kami minta SPBU bersurat dulu ke BPH Migas. Kami bantu dengan laporannya bahwa di sana stok sudah hampir habis karena kebutuhan tinggi,” lanjut Lilik.

Selain itu, dia juga menilai penambahan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan atau SPBN juga perlu di Sulsel. Salah satunya di kabupaten Kepulauan Selayar.

“Dengan melihat tren saat ini ya harus ditambah, karena memang kebutuhan juga makin meningkat,” tutup Lilik.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi asal Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui menilai kehadiran BBM Satu Harga bukan cuma soal kemandirian energi. Lebih dari itu, taraf hidup warga pulau terluar juga ikut meningkat.

“Karena percuma energi tersedia kalau hidup warga masih begitu-begitu saja dalam segi ekonomi,” ujarnya.

Pertamina, kata Sutardjo, harus selalu memastikan distribusi bahan bakar selalu lancar ketika permintaan warga pulau terus tinggi. Sebab hidupnya bergantung pada energi.

“Seperti nelayan, tidak bisa jalan kapalnya artinya tidak dapat uang. Jadi semoga penyaluran terus dilakukan Pertamina,” tutup Sutardjo. (*)