Inovasi Pertamina Bawa Peternak Maros Ciptakan Telur Asin Rendah Kolestrol
MAROS, GOSULSEL.COM – Di balik desing lalu lintas pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, suara bebek ikut terdengar siang itu, Kamis (22/10/2026).
Suara tersebut datang dari peternakan bebek Laleng Kessi di Desa Baji Mangangai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lokasinya memang tidak jauh dari bandara.
Lebih dari 250 bebek itu diternak di pekarangan seluas 200 meter persegi. Dari jumlah tersebut, telur yang bisa dihasilkan mencapai 120 butir setiap harinya.
Mariama (42) saat itu sibuk di pekarangan. Ia memberikan pakan kepada bebek. Sementara Sukri (48) terlihat membawa telurnya ke rumah produksi.
Di ruangan sederhana yang berukuran 4×4 meter, Sukri bersama dua anggota peternak Laleng Kessi memulai produksi telur bebek rebus dan asin.
Proses produksi berjalan setiap hari. Sebab, olahan telur bebek dari peternak Laleng Kessi lari manis di pasar dan toko kelontongan sekitar Makassar dan Maros.
Apalagi telur bebek asin ini rendah kolestrol. Sehingga, masyarakat suka mengomsumsinya tanpa khawatir penyakit seperti hipertensi dan stroke.
“Biasanya memang orang takut makan banyak telur asin karena takut kolestrol tapi tidak dengan telur kami,” ujar Sukri.
Telur bebek rendah kolestrol sudah menjadi produk unggulan dari peternak bebek Laleng Kessi. Selain dijual di pasaran, pemesanan langsung kerap berdatangan dalam jumlah besar.
Harganya Rp45.000 per 10 butir telur yang dikemas dalam boks. Sementara untuk kemasan rak dijual seharga Rp85.000.
Dari penjualan produk ini, peternak bebek Laleng Kessi sudah mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak lagi harus menjadi buruh harian, apalagi bekerja sebagai petani yang penghasilannya ditentukan dari produktivitas hingga kondisi cuaca.
“Kalau untuk makan, setiap hari tercukupi,” lanjut Sukri.
Ide Pembuatan
Peternak bebek Laleng Kessi tidak pernah membayangkan dapat memproduksi telur asin rendah kolestrol. Dulu, menjual dalam bentuk utuh saja sudah cukup bagi mereka.
Dari tahun 2019 sampai 2023, mereka hanya memasarkan telur biasa, rebus, dan asin pada umumnya. Penjualannya saat itu tidak begitu laris sebab produk serupa juga banyak terjual di pasaran.
Di akhir tahun 2023, ide pembuatan telur asin dengan rendah kolestrol pun tercetus. Ide itu datang dari PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin Makassar.
Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin Makassar menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) di sana. Tujuannya adalah mewujudkan kemandirian ekonomi pedesaan.
Sukri mengatakan, dukungan AFT Hasanuddin Makassar salah satunya adalah pendampingan membuat telur asin rendah kolestrol.
“Kami diajarkan bagaimana caranya produk telur asin yang cepat laku di pasaran dan beda dari yang lain,” jelasnya.
Menurut Sukri, proses pembuatannya terbilang mudah. Ia hanya mengubah kandungan dalam pakan bebek.
Probiotik harus terkandung didalamnya. Salah satu dari jenis bakteri baik itu bertujuan menurunkan kadar kolestrol.
Peternak bebek Laleng Kessi mendapatkan probiotik dari suplemen yang diberikan AFT Hasanuddin Makassar. Kemudian dicampur ke pakan bersama sisa Makanan Bergizi Gratis atau MBG.
“Probiotik yang buat telurnya nanti rendah kolestrol. Risetnya sudah ada,” ucap Sukri.
Kini, produk telur asin rendah kolestrol dari peternak bebek Laleng Kessi sudah menjadi top of mind di kalangan masyarakat Makassar dan Maros.
Apalagi, kemasan yang dihadirkan juga punya kualitas mentereng. Telur didalamnya tidak mudah terguncang sehingga memudahkan pembeli membawanya.
“Kemasannya juga dikasih Pertamina, banyak stoknya di dalam,” tutup Sukri.
Dukungan Pertamina
Di balik keberhasilan peternak bebek Laleng Kessi, ada peran besar dari Pertamina Patra Niaga Sulawesi melalui AVT Hasanuddin Makassar.
Potensi cuan dari ternak bebek dimaksimalkan. Telur yang tadinya hanya dijual dalam bentuk utuh kini hadir dalam berbagai produk lain, salah satunya telur asin rendah kolestrol.
Produk ini anti mainstream alias tidak banyak di pasaran. Sehingga, pendapatan ikut meningkat seiring minat masyarakat tinggi karena keinginan makan telur asin tetapi tidak mau terserang kolestrol.
Junior Assistant II CSR & SMEPP Management Sulawesi Yoga Pratama mengatakan, edukasi teknis beternak dan inovasi produk diberikan kepada delapan kepala keluarga (KK) yang tergabung dalam kelompok peternak bebek Laleng Kessi.
Kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian program CSR yang berjalan di sana sejak tahun 2023. Hingga 2026, pendampingan terus berlanjut ke tahap penjajakan kerjasama dengan perguruan tinggi.
“Kami bekerja sama dengan universitas sekitar untuk meningkatkan mutu pakan bergizi dan pengembangan oven produksi telur asin, sehingga bisa menjadi pusat oleh-oleh,” terangnya.
Yoga menegaskan bahwa program CSR dari Pertamina dijalankan secara serius. Selain membantu proses produksi telur hingga bernilai tinggi di pasaran, pihaknya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya agar operasional terus berjalan.
“Ada PLTS sebagai pembangkit listrik tenaga surya yang merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB). Desa Energi Berdikari Agrokompleks,” jelas Yoga.
Sementara Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto mengatakan bahwa program CSR hadir semata-mata hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Program yang berjalan di peternak bebek Laleng Kessi telah membawa dampak besar bagi perekonomian anggotanya. Dari inovasi telur asin rendah kolestrol, kini pendapatan tetap selalu ada setiap bulannya.
“Tadinya dalam tanda petik belum memiliki penghasilan tetap, sekarang memiliki penghasilan tetap dengan adanya program-program yang diberikan Pertamina,” jelasnya.
Dari sisi energi, Pertamina juga menghadirkan inovasi berupa listrik yang dihasilkan dari solar panel. Sehingga produktivitas peternak bebek Laleng Kessi tidak berhenti walau ada pemadaman listrik reguler.
“Dan juga bantuan berupa edukasi terkait dengan peternakan, lalu packaging, pemasaran, dan lain sebagainya. Pokoknya terus kita upgrade sehingga masyarakat bisa lebih sejahtera,” tutup Lilik. (*)