#TRENDING
Andi Sophie Shalsarani (23) menggunakan aksesori gelang Etania Craft di tangan kirinya/GOSULSEL

Dari Tangan Dingin Andi Sophie, Gelang Etania Craft Memikat Hati Anak Muda

Saturday, 20 June 2026 | 14:18 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Bisnis kriya saat ini mengalami tren positif dengan kehadiran aksesori kerajinan tangan yang menarik. Peluang pasarnya besar seiring minat anak muda yang juga tinggi.

Aksesori yang dibuat dari kerajinan tangan disukai anak muda lantaran nilai personalnya. Sebab, mereka bisa pesan sesuai selera, mulai dari model hingga ukuran.

Bisnis kriya sudah ramai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, Etania Craft menangkap peluang lebih besar dengan menghadirkan gelang hingga gantungan kunci yang bisa di-custom dan harganya pun terjangkau.

PT-Vale

Etania Craft, bisnis yang dikelola Andi Sophie Shalsarani (23) itu berawal dari hobinya membuat kerajinan tangan saat kuliah di Universitas Hasanuddin pada 19 Desember 2022.

“Karena senang buat kerajinan gitu sambil isi waktu di kuliah dan nambah penghasilan,” ucapnya, Rabu (17/06/2026).

Anak muda asal Watampone, Kabupaten Bone itu membuka dua skema bisnis, yaitu menyediakan aksesori yang sudah siap pakai dan custom sesuai seleran pelanggan.

“Sejak dibuka akhirnya ramai. Banyak pesanan dan request,” lanjut Sophie.

Permintaan yang tinggi, kata Sophie, juga didukung dengan harga yang dipatok lebih terjangkau untuk kalangan gen z seperti anak kuliahan dan pelajar.

Untuk gelang Etania Craft, Sophie menawarkan harga mulai Rp7.000. Sementara cincin dan gantungan kunci berkisar Rp5.000.

Pemesanan bisa dilakukan melalui media sosial Instagram @etaniacraft. Lewat bionya, Sophie mencantumkan nomor WhatsApp untuk request atau custom aksesori.

“Kalau custom sih jadi biasa beda-beda harga,” ucapnya.

Berbagai aksesori dari Etania Craft milik Andi Sophie Shalsarani/GOSULSEL

Karena menjadi hobi, dia mengaku santai menjalani bisnis ini meskipun produknya semakin laris manis. Bahkan, tidak menganggu pekerjaan lainnya sebagai kreator konten di media sosial.

“Tidak ada tantangan, saya sangat enjoy sekali bikinnya karena sudah hobi dari dulu,” tambahnya.

Walau bisnis kriya Sophie sudah berkembang pesat, Etania Craft ingin dibawanya lebih jauh menguasai pasar. Tidak hanya berkutat di Kota Makassar, namun Sulawesi Selatan khsususnya di daerah asalnya, Kabupaten Bone.

Sophie lantas bergabung dengan program BRIncubator pada tahun 2025, wadah bagi pelaku UMKM untuk bertumbuh, naik kelas, dan berdaya saing  yang diinisiasi Rumah BUMN Kota Makassar.

“Dulu diajak sama temanku yang magang di rumah BUMN. Saya lihat bagus ini programnya untuk UMKM,” katanya.

Dari program BRIncubator, dia mendalami ilmu digital marketing dan strategi bisnis. Keduanya dianggap Sophie bermanfaat bagi keberlanjutan usahanya di tengah produk kriya yang menjamur.

“Sampai sekarang bisnis Etania Craft menerapkan digital marketing dan strategi bisnis,” tambah Sophie.

Tidak hanya mendapat ilmu yang bermanfaat, bagi Sophie, Rumah BUMN sebagai penggerak program BRIncubator serius mendampingi UMKM untuk berkembang seperti memfasilitas pameran hingga produknya laku pasaran.

“Yang menarik dari Rumah BUMN rajin follow up ke mitranya, jadi kayak merasa diayomi betul-betul,” tutup Sophie.

Aksesori gelang Etania Craft/GOSULSEL

Kesuksesan Etania Craft sebagai UMKM kriya juga dibukitikan dengan memiliki sejumlah pelanggan tetap. Kualitas dan harga yang selalu dijaga menjadi alasan mereka menempatkan usaha milik Sophie.

Salah satu pelanggan Etania Craft, Vio (21) mengaku suka gelang karya Sophie. Menurutnya, aksesori itu menarik dibawa saat hangout, selalu pas dengan pakaian apapun.

“Lucu dan terkesan menawan kalau dipakai keluar jalan,” ungkapnya.

Salah satu pelanggan Etania Craft/GOSULSEL

Dengan harga yang terjangkau, Vio bahkan bisa membelinya dalam jumlah banyak. Jadi setiap hari, gelang yang dipakai pun bisa berbeda-beda.

“Masa itu terus dipakai, makanya harus diganti-ganti sesuai selera juga,” tambah Vio.

Adapun Rumah BUMN mengajak setiap UMKM yang mau tumbuh bersama melalui proram BRIncubator. Lokasinya di Jalan Ratulangi, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Mariso, Kota Makassar.

Program BRIncubator digelar rutin setiap empat bulan sekali. Semua kategori UMKM mulai dari kuliner, busana, hingga kriya bisa ikut mendaftarkan diri.

Pendaftaran diumumkan melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar. Syaratnya cukup memiliki usaha yang berjalan, tetapi dibuka juga bagi yang belum punya bisnis asal memiliki rekening BRI.

Rumah BUMN turut memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM yang mau lebih berkembang lewat suntikan pinjman modal dengan bunga yang ringan. Kemudian akan diproses ke BRI Region 15 Makassar.

Animo UMKM yang mendaftar di program BRIncubator semakin tinggi. Hingga kini, BRI Region 15 Makassar mencatatkan 6.422 UMKM terdaftar dan naik kelas berkat pendampingan dan penerima KUR melalui Rumah BUMN.

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menegaskan, komitmen bank terbesar di Indonesia itu untuk melakukan pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable, salah satunya dengan pendampingan UMKM lewat Rumah BUMN.

“Selain memberikan modal berupa kredit (KUR), kami juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iwan mengatakan, BRI Regional 15 Makassar mendorong ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kami ingin bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tandas Iwan. (*)


Tags: