#TRENDING

Jadi Dosen Praktisi di UMI, Bupati Bantaeng Paparkan Strategi Menjaga Reputasi Saat Krisis

Sunday, 18 October 2026 | 21:25 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Bupati Bantaeng, Fathul Fauzi Nurdin berbagi pengalaman dan strategi menjaga reputasi di tengah krisis kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Kehadiran Bupati Bantaeng sebagai dosen praktisi pada pertemuan keenam mata kuliah Leadership Communication di Aula FSIKP UMI, Jumat (16/10/2026), menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana seorang pemimpin mengelola komunikasi, menghadapi krisis, dan mempertahankan kepercayaan publik.

Dalam pemaparannya, Bupati Bantaeng yang akrab disapa Pak Uji itu menegaskan bahwa reputasi merupakan aset penting bagi seorang pemimpin maupun organisasi yang keberadaannya sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi krisis.

PT-Vale

Menurutnya, keberhasilan menangani krisis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan persoalan, tetapi juga oleh kecepatan merespons, ketepatan menyampaikan informasi, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Ia menjelaskan empat pilar utama dalam komunikasi krisis, yakni reputasi sebagai aset tidak berwujud, persepsi publik yang dapat terbentuk sebelum fakta terungkap sepenuhnya, kecepatan merespons, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Keempat aspek tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kredibilitas dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.

Selain itu, Pak Uji menguraikan tiga tahapan pengelolaan komunikasi krisis, meliputi pra-krisis, respons krisis, dan pascakrisis.

Pada tahap pra-krisis, organisasi perlu mengidentifikasi potensi risiko, menyiapkan strategi antisipasi, serta melakukan simulasi penanganan krisis. Ketika krisis terjadi, pemimpin harus mengutamakan keselamatan publik, menyampaikan informasi secara akurat, dan memastikan adanya kepastian tindakan.

Sementara itu, tahap pascakrisis diarahkan pada pemulihan operasional, evaluasi, dan penyusunan langkah perbaikan untuk mencegah terulangnya permasalahan serupa.

“Pesan yang disampaikan selama krisis harus mengutamakan keselamatan, kepastian tindakan, empati, serta pembaruan informasi secara berkala,” ujar Pak Uji.

Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada efektivitas komunikasi dalam membangun kerja sama tim.

Komunikasi yang baik menjadi kunci untuk menyatukan pemahaman, menjaga koordinasi, dan memastikan setiap anggota organisasi bergerak menuju tujuan yang sama.

Dekan FSIKP UMI: Kehadiran Praktisi Perkuat Pembelajaran Kontekstual

Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., mengapresiasi kesediaan Bupati Bantaeng untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepemimpinan kepada mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI.

Menurutnya, keterlibatan praktisi yang memiliki pengalaman langsung dalam kepemimpinan pemerintahan merupakan bagian penting dalam menghadirkan proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional.

“Kehadiran Pak Uji memperkuat proses pembelajaran yang menghubungkan perspektif akademik dengan pengalaman praktis. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep kepemimpinan melalui teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan komunikasi yang dihadapi seorang pemimpin,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa kemampuan mengelola komunikasi krisis menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki mahasiswa Ilmu Komunikasi, khususnya di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi.

Menurutnya, dalam situasi krisis, seorang komunikator tidak cukup hanya mampu menyampaikan informasi, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap kondisi publik, kemampuan menganalisis persoalan, serta ketepatan menentukan strategi komunikasi.

“Melalui pembelajaran bersama praktisi, kami ingin mahasiswa memperoleh pengalaman yang memperkaya pemahaman akademik sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan komunikasi secara tepat. Inilah salah satu bentuk komitmen FSIKP UMI dalam menyiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja,” tambahnya.

Kaprodi Ilmu Komunikasi: Mahasiswa Harus Mampu Menghubungkan Teori dengan Praktik

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FSIKP UMI, Dr. Zelfia, S.IP., M.M., M.Sos.I menegaskan bahwa kehadiran Bupati Bantaeng sebagai dosen praktisi merupakan bagian dari upaya program studi dalam memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman nyata.

Menurutnya, mata kuliah Leadership Communication tidak hanya memberikan pemahaman tentang konsep kepemimpinan dan komunikasi organisasi, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan menganalisis situasi, mengelola pesan, serta menentukan strategi komunikasi dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi kepemimpinan, tetapi juga mengetahui bagaimana teori tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Pengalaman yang dibagikan Pak Uji memberikan perspektif tentang pentingnya komunikasi yang cepat, tepat, dan bertanggung jawab, terutama ketika seorang pemimpin menghadapi krisis yang berkaitan dengan kepentingan publik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ini kali kedua, Bupati bantaeng hadir langsung dihadapan mahasiswa kami dan pembelajaran bersama praktisi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas komunikasi kepemimpinan, termasuk bagaimana menjaga kredibilitas, mengelola persepsi masyarakat, dan mempertahankan kepercayaan publik.

Menurutnya, pengalaman tersebut sangat relevan dengan kompetensi lulusan Ilmu Komunikasi yang dituntut mampu bekerja dalam berbagai bidang, termasuk hubungan masyarakat, komunikasi pemerintahan, komunikasi korporasi, dan manajemen reputasi.

“Komunikasi krisis merupakan salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia profesional. Karena itu, kami berharap mahasiswa mampu menjadikan pengalaman pembelajaran ini sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan analisis, keterampilan komunikasi strategis, serta kepekaan dalam menghadapi persoalan yang berkembang di masyarakat,” tambahnya.