Bermodal KUR BRI, Pengusaha Lemari Aluminium di Maros Berdayakan Anak Desa
MAROS, GOSULSEL.COM – Warga di pedesaan biasanya identik dengan profesi petani. Bila desanya berada di pinggir laut, mereka memilih menjadi neyalan.
Dua pekerjaan tersebut diambil lantaran melihat potensi alam di pedesaan. Namun tak sedikit juga yang mencoba peruntungan lain, seperti pegawai di kantor desa atau instansi lain di perkotaan.
Fenomena itu pelan-pelan bergeser di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Di desa yang berada di ujung barat Ibukota Kabupaten Maros, Turikale itu, seorang ibu pengusaha lemari aluminium bernama Juhria (50) menggaet anak muda untuk bekerja sebagai pekerja las.
Profesi tersebut menjadi pembeda di Desa Borimasunggu. Sebab mayoritas warga di sana bekerja sebagai petani tambak udang dan rumput laut, serta nelayan.
Juhria memberdayakan anak muda karena mereka juga mau bekerja di luar profesi keluarganya sebagai petani dan nelayan. Berkat dukungan itu, mereka mulai membangun usaha lemari aluminium yang dinamainya RR Aluminium.
Dia pun memilih kediamannya sebagai rumah produksi. Halaman rumahnnya yang luas menjadi pertimbangan utama Juhria.
“Awalnya bicara-bicara ji sama anak-anak, jadi saya buatkan lapangan kerja, memberdayakan ini anak muda di sini,” ucapnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/5/2026).
Total ada delapan anak muda yang dipekerjakan oleh Juhria. Selain Desa Borimasunggu, sebagian dari mereka juga berasal dari desa tetangga, yaitu Borikamase.
Anak muda tersebut juga tidak langsung mahir ngelas. Selama bekerja, mereka juga dilatih mulai dari pemasangan kaca hingga aluminium menjadi rangka lemari.
“Ada beberapa senior yang sudah jago, kita minta dia ajarkan kepada anak muda lainnya,” tambah Juhria.
Dengan keahlian dan jumlah tenaga kerja saat ini, Juhria mengaku bisa menerima 15 pesanan setiap bulannya, mulai dari lemari aluminium, rak piring, partisi, dan kitchen set.
“Lemari pakaian tiga pintu juga biasa tapi kadang juga ada partisi, pokoknya bervariasilah,” ungkapnya.
Juhria tidak asal memberdayakan anak muda di desanya. Kesejahteraan mereka juga perlu diperhatikan sebab tugasnya harus dibarengi dengan haknya menerima gaji dan libur.
“Kebetulan mereka lagi libur ini kalau Jumat, ada yang bantu orang tuanya di tambak,” ungkapnya.
Di sinilah, dukungan Bank Rakyat Indonesia (BRI) hadir. Usaha Juhria mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan bisnisnya termasuk gaji untuk para anak muda yang diberdayakannya.
“Saya dapat Rp150 juta dari KUR untuk tenor 4 tahun. Sekarang sudah mau lunas,” katanya.
Bagi Juhria, manejemen yang baik berpengaruh pada keberlanjutan bisnis. Hal itu dipelajarinya sejak menjadi tukang jahit, usaha pertamanya sebelum beralih ke lemari aluminium.
“Potensinya juga sudah kurang karena banyak penjual online, saya lihat sudah tidak memungkinkan,” lanjut Juhria.
Namun Juhria masih mengingat usaha jahit tersebut justru yang membuka keran untuk mendapat suntikan KUR dari BRI. Dulunya, dia mendapat modal sebesar Rp5 juta hingga sekarang.
“Sebelumnya saya dikasih dulu tapi berhenti usaha jahit. Setelah Covid-19 buka usaha aluminium ini, ternyata dikasih lagi,” katanya.
Dari berdayakan anak muda, usahanya semakin berkembang. Tak disangka, pembelinya telah meluas hingga mencakup beberapa daerah di Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Gowa.
Selain ketelitian pekerjaan yang dilakukan anak muda asuhan Juhria, kualitas produk yang ditawarkan menjadi daya tarik pelanggan untuk membeli di RR Aluminium. Itu bisa dilihat dari ketebalan kaca dan bahan yang digunakan.
Dengan begitu, pengiriman juga aman tanpa lecet atau retak. Dari desanya yang memiliki jalan tidak mulus, lemari bisa dikirim menggunakan mobil pick up, bahkan pernah dibawa menggunakan perahu ke pulau di Kabupaten Pangkep.
“Jadi ketebalan kaca kita itu 5 milimeter, kita tidak ambil dibawahnya karena rawan pecah,” jelasnya.
Pemberdayaan anak muda dari nol hingga mahir menghasilkan produk lemari aluminium yang berkualitas menjadi bukti usaha tidak melulu harus berisikan tenaga kerja yang sudah ahli. Berawal dari niat dan didukung BRI, bisnis pun bisa berjalan.
BRI dikenal dengan dominasinya dalam penyaluran KUR. Dari laporan BRI Region 15 Makassar, kredit yang telah disalurkan mencapai Rp16,859 triliun, hingga akhir Desember 2025.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Supriyanto mengatakan bahwa KUR secara konsisten disalurkan kepada UMKM yang produktif.
Saat ini, plafon KUR Mikro berada pada kisaran Rp10 juta hingga Rp100 juta, kredit ini tidak dibebankan agunan. Sementara KUR Kecil berkisar Rp100 juta hingga Rp500 juta.
“Kalau di atas Rp100 juta itu butuh agunan,” ucapnya.
Dari total penyaluran Rp16,859 triliun sepanjang Januari–Desember 2025, sebagian besar disalurkan di wilayah Sulawesi Selatan dengan nilai mencapai Rp12,431 triliun. Angka ini menunjukkan tingginya aktivitas usaha mikro dan kecil untuk mengembangkan bisnis lewat pembiayaan.
Memasuki tahun 2026, tren penyaluran KUR masih menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga periode Januari–April 2026, total penyaluran KUR BRI Region 15 telah mencapai Rp4,823 triliun.
Meski penyaluran KUR dilakukan terus-menerus, BRI Region 15 Makassar tetap menjaga kualitas pembiayaan agar rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terkendali.
Adapun total NPL KUR saat ini sebesar 2,01 persen. Berikut dengan rincian NPL Mikro 2,4 persen dan NPL KUR Kecil 1,6 persen.
Iwan menyebutkan bahwa tingkat NPL KUR BRI tersebut masih berada di bawah ambang batas ketentuan OJK sebesar 3 persen.
Berbagai cara dilakukan untuk menjaga performa kredit. Salah satunya adalah penyesuaian plafon terhadap kebutuhan pelaku usaha atau nasabah dan edukasi sebelum proses akad kredit.
“Makanya sebelum diberikan, kami kan juga ada kunjungan ke UMKM-nya. Sebelum penandatanganan, kami juga berikan edukasi,” ucapnya.
BRI juga secara rutin meningkatkan kapasitas petugas lapangan, khususnya Mantri dan Relationship Manager Mikro, agar semakin cermat dalam melakukan analisis usaha dan pendampingan debitur. (*)