Bersama BRI, Huma Baby Hijab Menangkap Peluang Busana Muslim Anak di Tengah Sulitnya Pandemi
MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Mengenang kembali tahun 2020 seperti membuka catatan tentang perjuangan bertahan hidup. Saat itu, pandemi Covid-19 tidak hanya membatasi aktivitas tetapi juga menghambat perekonomian masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari cara lain untuk bisa bertahan. Seperti halnya yang dilakukan Viki Wulandari (31) dengan membangun usaha produsen jilbab dan gamis untuk anak-anak yang dinamainya Huma Baby Hijab.
Di tengah riuh rendahnya ketidakpastian kala itu akibat pandemi, Huma Baby Hijab justru dibangun karena melihat peluang dengan berjualan secara daring dari rumahnya di BTP Blok H Nomor 469, Kelurahan Tamalenrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
“Saya rintis sebenarnya secara tidak sengaja. Saat itu Covid-19 melanda, kami banyak beraktivitas di rumah,” ujarnya saat ditemui, Senin (18/5/2026).
Berbekal mesin jahit rumahan dan kain pilihan, Huma Baby Hijab mulai menyapa pasar digital. Melalui foto-foto sederhana yang diunggah ke media sosial, respons yang datang ternyata di luar dugaan.
“Banyak yang menanyakan “beli dimana?”. Akhirnya karena banyak waktu luang, saya menyambut peluang itu hingga besar seperti sekarang,” jelas Viki.
Saat ini, kata dia, permintaan terus ada setiap bulannya. Paling banyak di saat tahun ajaran baru, Idul Fitri, dan hari besar keagamaan.
“Biasa pembelian di situ melonjak. Tapi rata-rata bisa sampai 100 pieces per bulan,” lanjut Viki.
Permintaan yang terus mengalir bak pisau bermata dua bagi UMKM yang baru seumur jagung. Di satu sisi ada rasa syukur, namun di sisi lain, ada kekhawatiran terkait animo pasar yang bisa saja lesu.
Olehnya, Huma Baby Hijab juga mendapatkan pendampingan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui Rumah BUMN pada tahun 2023.
“Program BRI dengan adanya Rumah BUMN ini sangat membantu kami dalam pengembangan UMKM,” ucap Viki.
Adapun Rumah BUMN yang dikelola BRI Region 15 Makassar memiliki program BRIncubator, wujud komitmen perusahaan untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan khususnya UMKM. Berbagai pelatihan dan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersedia untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka.
Saat itu, VIki mengaku diajak memanfaatkan ekosistem transaksi non tunai atau cashless, pandai manajemen keuangan, mengetahui cara berkomunikasi dengan konsumen, hingga mengoptimalkan penjualan lewat marketplace.
“Disitu benar-benar berkesan karena pelatihan intensif, datang dan bertemu dengan sesama pelaku UMKM yang bikin semangat naik terus,” tambahnya.
Kini, beberapa tahun setelah badai pandemi mereda, Huma Baby Hijab tidak ikut hilang. Sebaliknya, pondasi yang mereka bangun bersama BRI justru semakin kokoh.
Viki mengandalkan transaksi non tunai. Hal yang baru pertama didapatnya setelah mendapat pendampingan dari BRI.
Transaksi non tunai itu dilakukan melalui QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard, standar kode QR yang dipakai sebagai sistem pembayaran digital.
“Jadi setelah pelatihan berakhir, kami dibuatkan rekening khusus untuk bisnis yang tidak boleh bercampur dengan rekening pribadi sekaligus dicetakkan QRIS yang mendukung cashless dan bikin UMKM naik kelas,” jelas Viki.
Kisah UMKM Huma Baby Hijab adalah sebuah bukti autentik bahwa pandemi tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Di tangan orang-orang melihatnya sebagai peluang, dan dengan dukungan BRI, kesulitan justru menjadi rahim bagi lahirnya para juara ekonomi baru.
Beralamat Jalan Ratulangi, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Rumah BUMN jadi wadah bagi UMKM bertumbuh. Di dalamnya, ratusan produk terpajang mulai makanan dari UMKM yang telah ikut program BRIncubator.
Leader Project Rumah BUMN, Ayu Anisela menjelaskan, program BRIncubator digelar rutin untuk mengakomodir semua UMKM di Sulawesi Selatan terkhusus Kota Makassar.
“Setiap empat bulan sekali kita gelar, kemarin kita buka waktu bulan April kemarin,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ayu mengatakan, semua jenis UMKM pun bisa mendaftar, mulai dari food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft.
“Usaha jasa belum tapi kita coba ke depan untuk ikutkan,” tambahnya.
Adapun pendaftaran bisa diumumkan melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar. Syaratnya cukup memiliki usaha yang berjalan, tetapi dibuka juga bagi yang belum punya bisnis asal memiliki rekening BRI.
“Kalau tidak ada rekening atau QRIS bisa juga nanti kita proses,” kata Ayu.
Rumah BUMN turut memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM yang mau lebih berkembang lewat suntikan pinjman modal dengan bunga yang ringan. Kemudian akan diproses ke BRI Region 15 Makassar.
“Kalau kita KUR di sini cuma menjembatani UMKM yang mau nanti kita dampingi pengurusannya,” lanjutnya.
BRI Region 15 Makassar mencatatkan 6.422 UMKM yang telah didorong naik kelas berkat pendampingan dan penerima KUR melalui Rumah BUMN.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto mengatakan bahwa dominasi BRI tidak hanya pada penyaluran KUR. Perusahaan turut melakukan pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable, salah satunya dengan pendampingan UMKM lewat Rumah BUMN.
“Selain memberikan modal berupa kredit (KUR), kami juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.
Selain itu, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
“Kami ingin bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tandas Iwan. (*)