Langkah Ringan Guru di Sinjai Barat Berkat Kemudahan BRImo
SINJAI, GOSULSEL.COM – Udara dingin di Sinjai Barat menyambut Idul Akbar (37) saat hendak bergegas ke sekolah di pagi hari, Kamis (21/5/2026).
Dari rumahnya di Batuleppa, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat; Idul–begitu dia disapa, menggunakan sepeda motor menuju MA Ma’arif NU Silanggaya, tempatnya mengabdi sebagai guru.
Meski memakai motor, jarak dari rumahnya ke MA cukup dekat, yaitu hanya sekitar 3 kilometer. Bahkan, dia bisa berjalan kaki jika jam mengajarnya tidak dimulai lebih awal.
Beda halnya jika ke Manipi, ibukota Kecamatan Sinjai Barat. Idul harus menggunakan sepeda motor dengan jarak kurang lebih 10 km dari rumah.
Di Manipi, semua layanan ada, salah satunya perbankan. Namun hanya satu kantor, sehingga warga mesti rela datang lebih cepat untuk mendapat pelayanan seperti pembukaan rekening atau sekadar setor dan tarik tunai.
Sesampainya di sekolah, Idul tidak langsung mengajar. Dia membuka gawainya untuk mentransfer sejumlah kepada adiknya yang tengah mengenyam kuliah di Kota Makassar.
Transaksi tersebut dilakukan melalui BRImo, super app milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang memungkinkan nasabah melakukan berbagai aktivitas perbankan secara daring melalui smartphone kapan dan di mana saja.
“Saya sering transfer pakai BRImo jadi tidak perlu lagi ke ATM di Manipi,” ucapnya.
Hanya dengan beberapa ketukan jempol, senyumnya mengembang. Selain transfer uang, dia bisa bayar tagihan listrik, investasi, hingga top up pulsa atau dompet elektronik hanya melalui BRImo.
Bagi Idul, kehadiran teknologi finansial yang menjangkau pedesaan bukan sekadar gaya hidup, melainkan sebuah jembatan yang memangkas jarak dan waktu.
“Sekarang makin fokus mengajar. Kalau libur pun saya seharian di rumah untuk nilai tugas siswa, dan kalau mau bayar sesuatu tinggal akses BRimo,” jelasnya.
Sebelum digitalisasi itu hadir lewat BRImo, dia memang harus ke ATM yang berada di Manipi. Namun jika butuh layanan lainnya seperti setor tunai, Idul harus ke Malino, Kabupaten Gowa yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari rumahnya.
“Kalau ke kantor, biasanya ramai jadi tidak dapat kesempatan dilayani. Di ATM juga cuma tarik tunai,” katanya.
Sakinya desaknya, Idul juga pernah beberapa kali menembus hujan hanya untuk melakukan pembayaran uang kuliah adiknya di Malino. Saat itu kondisinya darurat lantaran jadwal pembayaran sudah mendekati jatuh tempo.
Bahkan, Idul mengaku sempat meminta guru pengganti untuk mengajar di jam pelajarannya. Imbasnya, bukan lagi waktunya yang tersita namun gajinya ikut dikurangi.
“Sekarang biar dari rumah dalam kondisi apapun, bisa dibayar pakai BRImo,” ucapnya.
Cerita lama itu kini telah bergeser. Kehadiran BRImo membawa perubahan besar bagi ekosistem kehidupan guru di Sinjai Barat seperti Idul. Fitur-fitur yang dihadirkan terbukti memberikan solusi nyata bagi kebutuhan harian mereka.
BRI meluncurkan BRImo pada 27 Februari 2019. Platform digital ini menjadi bagian dari strategi transformasi bank terbesar di Indonesia itu mempermudah transaksi nasabah.
Hanya dari smartphone, nasabah bisa mengakses berbagai layanan dari BRI, mulai setor atau tarik tunai, Payment Point Online Bank (PPOB) untuk pembayaran tagihan, isi saldo e-money BRIZZI, top up dompet elektronik/pulsa, hingga investasi.
Untuk belanja daring, nasabah cukup menyalin kode virtual account (VA) dari marketplace apa saja. Transaksi ini menjadi pilihan favorit nasabah daripada harus ke toko atau outlet.
BRI juga memperkuat ekosistem digital dengan menghubungan BRImo dengan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS, standar kode QR yang dipakai sebagai sistem pembayaran non tunai atau cashless.
Selain itu, merchant juga dilengkapi EDC atau Electronic Data Capture, yaitu mesin pembayaran non tunai dari pelanggan secara cepat, aman, dan real-time. Mesin ini terhubung ke jaringan bank untuk memproses transaksi kartu debit, kartu kredit, uang elektronik, hingga QRIS.
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menyampaikan, BRImo tidak hanya menawarkan transaksi cepat dan praktis. Tingkat keamanannya juga tinggi.
“Jadi ini yang kita dorong ke masyarakat untuk cashless. Karena memang salah satu tugas kita di inklusi itu kan bagaimana meminimalisir atau menekan cashless,” katanya.
Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, BRI juga terus mendorong nasabah untuk memanfaatkan aplikasi tersebut. Salah satunya dengan cara edukasi.
Di samping itu, merchant juga diharap memasang QRIS dan menggunakannya sebagai alat pembayaran non tunai ketika nasabah BRI bertransaksi via BRImo.
“Kami minta mereka pasang QRIS di situ sambil ada upaya edukasi,” lanjut Iwan.
Sementara Regional Chief Executive Officer BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo mengungkapkan, aplikasi BRImo mengalami pertumbuhan positif dengan jumlah pengguna yang meningkat setiap tahunnya. Hal ini sekaligus membuktikan nasabah sudah bergantung pada transaksi digital ketimbang harus ke bank.
“Dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” tutup Argo. (*)