Gustianingsih Digarini Utami (46), pemilik AufaRa Rumah Jahit saat menjahit busana di rumahnya di BTN Graha Hamusa Blok F1 Nomor 11, Kelurahan Parang Banoa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

Merajut Mimpi dari Ujung Pensil, Perjalanan Sukses AufaRa Rumah Jahit Didukung BRI

Thursday, 21 May 2026 | 13:21 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

GOWA, GOSULSEL.COM – Sebuah lembar kertas putih dan sebatang pensil pernah menjadi saksi bisu awal mula berdirinya AufaRa Rumah Jahit. Dari sekadar corat-coret sketsa hingga dijadikan pakaian, kini UMKM tersebut telah mendatangkan banyak pelanggan.

AufaRa Rumah Jahit merupakan UMKM yang bergerak di bidang produksi busana dan tekstil beralamat BTN Graha Hamusa Blok F1 Nomor 11, Kelurahan Parang Banoa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pemiliknya bernama Gustianingsih Digarini Utami (46).

Bagi Ningsih-sapaan akrabnya, menggambar bukan sekadar melepas penat melainkan cara menuangkan imajinasinya. Dari hobinya itu, dia mengambil peluang untuk membuka usaha jahit pada tahun 2018 lalu.

PT-Vale

“Dulu suka menggambar baju, lalu dapat kesempatan untuk menjahit gratis di kelurahan. Sambil belajar, saya terima jahitan. Alhamdulillah berlanjut sampai sekarang,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (20/5/2026).

Perjalanan Ningsih membangun usahanya tidak mudah. Keterbatasan mesin jahit hingga pesanan yang hanya datang dari tetangga terdekat menjadi bagian dari proses panjang sebelum semakin dikenal.

Titik baliknya ada pada konsistensi Ningsih menjahit dengan rapi. Berkat itu, pelanggan selalu merasa puas dengan pakaian pesanan mereka.

“Kami menjahit dengan hasil rapi, sesuai dengan keinginan pelanggan dan desain selalu mengikuti tren,” ungkap Ningsih.

Kendati begitu, Ningsih mengaku masih ingin terus belajar untuk menghasilkan karya busana terbaik bagi pelanggannya. Sehingga pada tahun 2024, dia bergabung menjadi binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

BRI saat itu membuka program BRIncubator melalui Rumah BUMN. Program ini diketahu terus berlanjut sampai sekarang dengan tujuan memberdayakan UMKM.

Adapun alasan Ningsih bergabung lantaran ingin meningkatkan kemampuan menjahitnya. Tak di sangka, banyak hal baru yang dipelajari, salah satu yang paling diingat adalah desain lewat aplikasi Ibis Paint, platform membuat ilustrasi secara digital.

“Itu bukan hanya menjahit tapi pernah diajar membuat desain pakai aplikasi Ibis,” lanjutnya.

Dengan desain menggunakan aplikasi, menurut Ningsih, lebih mudah menciptakan sketsa yang detail, dari warna hingga polanya. Selain itu, biaya operasional bisa dipangkas sebab tidak lagi menggunakan kertas sebagai media gambar.
Dukungan BRI sangat berpengaruh untuk perkembangan usahanya. Pendampingan kepada UMKM bukan sekadar memberikan pelatihan, namun ada dampak nyata—dari segi pemasaran hingga kualitas produk.

“Jadi menurut saya program tersebut bagus dan sangat membantu UMKM untuk mengembangkan usaha,” kata Ningsih.

AufaRa Rumah Jahit kini telah menerima pesanan hingga 50 pieces setiap bulannya. Adapun permintaan terbanyak adalah pakaian wanita, dress dan kebaya.

“Tergantung tingkat kesulitan model dengan estimasi omset 4 sampai 5 jutaan,” tutup Ningsih.

Dari kesuksesan UMKM Rumah AufaRa Rumah Jahit, BRI tidak hanya mendorong para pelaku usaha bisa bertahan, tetapi berhasil menaikkan kelasnya menjadi lebih tangguh dan punya daya saing tinggi.

Pendampingan dari BRI melalui Rumah BUMN merupakan inisiatif dari Kementerian BUMN dan BRI untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya UMKM yang di dalamnya menjadi pusat literasi serta inkubasi bisnis.

Selain itu, Rumah BUMN memberikan peluang bagi UMKM untuk mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dengan suntikan modal, usaha mereka diharap bisa lebih berkembang.

UMKM di Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Gowa dipersilahkan ikut pendampingan di Rumah BUMN. Melalui program BRIncubator, mereka bisa mendapat banyak pelatihan sesuai kebutuhan usaha, seperti digital marketing, manajemen keuangan, hingga supply chain.

Selain UMKM bergerak di bidang fashion seperti AufaRa Rumah Jahit, usaha dengan kategori kategori food & beverage, beauty, home décor & craft juga bisa bergabung.

Syaratnya bergabung ke program BRIncubator pun mudah, yaitu cukup memiiki usaha. Jika belum, Rumah BUMN memberikan kesempatan untuk ikut dengan cara harus memiliki rekening BRI atau QRIS dari BRI.

Dengan kemudahan tersebut, BRI Regional 15 Makassar mencatatkan penambahan 1.121 UMKM baru yang mendapatkan pendampingan di Rumah BUMN per Desember 2025.

BRI Regional 15 Makassar juga melaporkan, 6.422 UMKM yang telah didorong naik kelas berkat pendampingan Rumah BUMN dan penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen hadir untuk pemberdayaan UMKM. Tidak hanya menyalurkan KUR namun memberikan pendampingan.

“BRI itu hadir di setiap pertumbuhan UMKM. Sama dengan ada orang baru lahir, belajar jalan, kemudian belajar naik sepeda, masuk SMP, kemudian jadi SMA, kuliah sampai menikah dan bekerja,” jelasnya.

Menurut Iwan, BRI selalu memiliki strategi pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable. salah satunya dengan pendampingan UMKM lewat Rumah BUMN.

“Pemberdayaan ini penting karena kami tidak hanya memberikan modal berupa kredit (KUR), tetapi juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.

Hingga pada akhirnya, kata Iwan, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Target kami adalah bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tandasnya. (*)


Tags: