#TRENDING

Melalui LIKE IT, OJK Sulselbar Ambil Bagian Perkuat Literasi Keuangan Mahasiswa Unhas

Wednesday, 21 October 2026 | 21:57 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Penyelenggaran LIKE IT Series LPS 2026 di Universitas Hasanuddin (Unhas) membawa misi penting yaitu memperkuat literasi keuangan mahasiswa.

Mengangkat tema “Masyarakat Tangguh Finansial: dari Literasi menuju Keputusan Keuangan yang Berkelanjutan”, puluhan mahasiswa Unhas hadir di acara yang berlangsung di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas, Kota Makassar, Selasa (20/10/2026).

Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut ambil bagian dalam memberikan edukasi seputar layanan hingga pengelolaan keuangan.

PT-Vale

Hal itu dipaparkan Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK), Arif Machfoed ketika menjadi pembicara mewakili OJK Sulselbar.

Selain itu turut hadir Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, Andi Timo Pangerang (Anggota Badan Supervisi LPS), Farid Azhar Nasution (Wakil Ketua Dewan Komisoner LPS), dan Andi Yuliani Paris (Anggota Komisi XI DPR RI).

LIKE IT Series LPS 2026 menjadi ajang kolaborasi multipihak. Melalui gelaran ini, mahasiswa Unhas diharap mampu memahami sistem keuangan Indonesia.

Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa menilai forum tersebut sangat strategis karena mempertemukan mahasiswa dengan sejumlah lembaga yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional.

“Mahasiswa Unhas tidak belajar tentang keuangan hanya dari buku, tetapi langsung dari lembaga-lembaga yang menjaga sistem keuangan Indonesia,” jelas Prof. JJ.

Menurut Prof. JJ, tantangan literasi keuangan saat ini bukan semata-mata keterbatasan informasi. Di tengah arus informasi yang semakin mudah diakses, masyarakat justru perlu memiliki kemampuan untuk menilai kualitas informasi dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial.

Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, investasi dan spekulasi, produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan produk berisiko, serta peluang yang sah dan praktik penipuan. Pemahaman ini penting agar keputusan keuangan tidak didasarkan pada tren atau iming-iming keuntungan.

“Bagi generasi mahasiswa yang akrab dengan layanan digital, kemampuan tersebut semakin relevan. Transaksi dapat dilakukan dalam hitungan detik, sementara keputusan untuk membeli produk, menggunakan layanan pembiayaan, atau menempatkan dana dalam instrumen investasi dapat membawa konsekuensi jangka panjang”, tambah Prof.JJ.