Rita Suryaningsih (50), pemilik dari Sukma Jahe saat memperlihatkan produk sarabba instan miliknya di rumah produksi Kompleks Pondok Asri Blok A9 Jalan Borong Indah, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Kamis (7/5/2026)/FOTO: AGUNG EKA-GOSULSEL

BRI Dorong Inovasi Sarabba Instan dari Sukma Jahe Semakin Terkenal

Sunday, 10 May 2026 | 13:29 Wita - Editor: Agung Eka -

BACA JUGA

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Sarabba, minuman khas dari Sulawesi Selatan ini dikenal dengan cita rasanya yang hangat, manis, dan gurih. Perpaduan jahe, gula aren, dan santan menciptakan sensasi pedas sehingga tidak hanya nikmat namun juga punya berbagai khasiat, seperti memperkuat imun tubuh.

Kalau biasanya, Sarabba hanya bisa dijumpai di pedagang kaki lima namun kini minuman tersebut sudah punya kemasan sachet. Sukma Jahe adalah salah satu UMKM di Kota Makassar paling terdepan dengan inovasi tersebut.

Produk dari Sukma Jahe berbentuk serbuk yang dikemas dalam sachet. Bahan utamanya berupa jahe, gula aren, dan susu nabati bukan santan.

PT-Vale

Bahan baku jahe harus kering yang diambil dari beberapa daerah seperti Kabupaten Maros dan Provinsi Nusa Tengggara Timur (NTT). Sementara gula aren dan susu nabati diambil dari produsen lokal.

Rita Suryaningsih (50), pemilik Sukma Jahe menjelaskan, setelah bahan baku datang, semuanya diolah hingga menjadi kristal bubuk lalu dikemas dalam sachet.

Produksi itu dilakukan di rumah pribadinya yang disulap menjadi tempat produksi di Kompleks Pondok Asri Blok A9 Jalan Borong Indah, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.

Sedikitnya ada tiga karyawan yang bekerja dengan tugas berbeda. Ada yang menaruh bubuk ke sachet, mengemasnya ke box, dan memasak bahan baku dalam wajan besar.

Dengan tenaga kerja dan alat produksi yang mumpuni, Rita mengaku bisa memproduksi 25 ribu sachet Sukma Jahe dari 100 kg jahe kering.

“Kalau permintaan lagi tinggi seperti waktu Covid-19 itu bisa sampai 100 ribu sachet,” ucap Rita saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (7/5/2026).

Perjalanan Sukma Jahe sebagai UMKM minuman kemasan Sarabba turut mendapat dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sejak awal, BRI hadir untuk mendorong produk Sukma Jahe semakin dikenal masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa BRI melakukan pendampingan bisnis melalui Rumah BUMN. Di bulan Juli tahun 2025 lalu, Sukma Jahe terdaftar masuk di BRIncubator.

Program BRIncubator sendiri merupakan bagian dari CSR Peduli BRi yang berfokus pada pemberdayaan UMKM. Berbagai pelatihan diberikan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka.

Rita menjelaskan bahwa saat itu Sukma Jahe ikut program BRIncubator selama tiga hari. Pelatihan yang didapat, di antaranya manajemen keuangan, supply chain, hingga marketing digital.

“Setelah tiga hari itu semuanya digelar online, ada cara melayani konsumen,” lanjutnya.

Di antara semua pelatihan itu, kata Rita, supply chain menjadi materi paling berdampak pada usahanya. Dengan permintaan tinggi, dia sudah tahu cara mengatur stok agar produknya selalu tersedia untuk konsumen.

“Kadang dulu terlalu terlena sampai lupa stok seperti kemasan padahal konsumen sudah minta. Kita juga harus perhatikan pengirimannya karena biasa ada faktor X yang tiba-tiba,” jelasnya.

Rita hingga kini masih terus mendapatkan pendampingan dari BRI untuk pengembangan usahanya dengan ikut kelas yang digelar secara online. “Undangannya biasa lewat WhatsApp, saya ikuti yang sesuai saja dengan kebutuhan bisnis,” tandasnya.

Sementara itu, Leader Project Rumah BUMN BRI Region 15 Makassar, Ayu Anisela menjelaskan bahwa pendampingan dalam program BRIncubator mencakup pelatihan dan pemasaran.

“Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Kalau pemasaran kita bantu masuk ke retail dan buatkan pameran,” ujarnya.

Program ini, lanjut Ayu, dibuka untuk UMKM kategori food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft. Ke depan, pihaknya berencana untuk memasukkan usaha bidang jasa agar turut mendapat pendampingan bisnis.

Program BRIncubator ini digelar setiap empat bulan. Pendaftaran bisa dilihat melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar.

Ayu mengatakan, “Syaratnya cuma punya usaha yang berjalan. Kalau pun belum ada juga bisa, asalkan punya rekening BRI dan QRIS,” kata Ayu.

Terakhir, Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menegaskan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai bagian dari impelementasi CSR BRI Peduli. Tujuannya, mendorong UMKM berdaya dan naik kelas.

“Pemberdayaan ini penting karena kami tidak hanya memberikan modal berupa kredit (KUR), tetapi juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.

Selain itu, kata Iwan, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Target kami adalah bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tutupnya. (*)


Tags: